HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!


__ADS_3

Aisha merasakan dadanya sesak. Apakah masa lalunya harus selalu diingat. Dia sadar jika semua yang pernah dia lakukan salah. Namun, dia telah menebus dengan penyesalan bahkan hingga saat ini.


Seorang pelacur saja diampuni dosanya hanya karena memberi minum seekor anjing. Kenapa dosanya selalu saja diungkit? Tanya Aisha dalam hatinya.


Seorang pelacur yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing. Dalam sebuah riwayat, pelacur tersebut juga sedang berhijrah, menuju daerah yang lebih baik, karena di daerah asalnya justru membuatnya terjebak dengan lingkaran setan yang membuatnya tidak bisa keluar dari dunia pelacuran. Sehingga, kebaikan satu-satunya yang dilakukan oleh wanita tadi adalah dengan memberikan minum seekor anjing yang kehausan.


Aisha duduk di bawah pohon dengan memeluk putrinya. Air matanya terus mengalir membasahi pipi. Syifa yang melihat ibu sambungnya berurai air mata ikutan menangis.


"Mami, berikan saja boneka ini.Aku tak apa. Dari pada Mami dimarahin nenek," ucap Syifa. Dia menghapus air mata di pipi Aisha.


"Mami menangis bukan karena dimarahin nenek, tapi hanya kelilipan, Nak," jawab Aisha berbohong.


"Mami jangan bohong. Biar aku beri boneka ini pada adik Aqila. Aku memang salah. Aku memang pelit," ucap Syifa. Bocah cilik itu ikut menangis. Aisha memeluk erat tubuh mungilnya. Mereka saling melepaskan tangis.


Di dalam rumah, Ghibran berdiri. Dia mendekati ibunya. Wajahnya memerah menahan amarah.

__ADS_1


"Ibu, jangan buat aku melawan dirimu. Selama ini aku menghargai kamu dan menganggap kamu seperti ibu kandungku. Tapi jika ibu terus menerus menekan istriku, dan menyalahi Aisha, jangan salahkan jika suatu saat rasa sayangku berubah menjadi benci!" ucap Ghibran.


Ibu Nur dan semua yang berada di ruang itu terdiam. Belum pernah mereka melihat Ghibran bersuara tinggi pada ibunya.


Walau Ibu Nur hanya lah ibu tiri, tapi selama ini Ghibran begitu menghormati dan menyayangi dia layaknya ibu kandung. Mungkin karena dari kecil dia hanya mengenal Ibu Nur. Ibu kandungnya meninggal saat melahirkan dirinya, sama seperti Syifa.


Saat usianya memasuki dua tahun, ayahnya menikah dengan Ibu Nur. Itulah sebabnya Ghibran menyayangi wanita itu layaknya ibu kandung.


Ghibran lalu berdiri menghadap ke semua keluarga besar ibunya. Tangannya terkepal menahan amarah. Annisa dan mamanya telah bergabung karena Aqila telah diam, tidak menangis lagi.


Annisa yang tidak pernah melihat Ghibran marah menjadi begitu terkejut. Apa lagi melihat pria itu berani berkata dengan suara tinggi pada ibunya. Jika Ibu Nur yang begitu dia sayangi dan hormati bisa dia lawan, apa lagi dirinya. Annisa bergidik takut. Dia berjanji akan menjaga ucapannya. Tidak ingin menyulut api amarah pria itu.


Ibu Nur tampak gemetar. Semenjak kecil dia menjaga dan menyayangi Ghibran seperti anak kandungnya sendiri. Tidak menyangka jika pria itu lebih membela istri yang baru beberapa bulan dia nikahi.


Dengan langkah pasti Ghibran keluar dari ruangan itu. Dia melihat anak dan istrinya menangis. Dadanya terasa sesak. Tidak pernah dia menginginkan situasi begini. Memilih antara ibu dan istrinya. Pria itu berjalan mendekati kedua wanita yang sedang menangis itu.

__ADS_1


"Sayang, kita pulang saja. Makan di luar saja, ya?" tanya Ghibran.


"Iya, Mas."


Aisha dan Syifa masuk ke mobil. Ghibran langsung melajukan mobilnya ke jalan dan meninggalkan rumah kediaman orang tua Annisa.


"Mas, aku minta maaf. Gara-gara aku, kamu tidak jadi berkumpul dengan keluarga," ucap Aisha pelan.


"Sudahlah, aku tadi sudah meminta padamu untuk tidak datang," balas Ghibran dengan suara datar.


"Aku juga minta maaf karena terpaksa melawan ucapan ibumu. Aku tidak bermaksud begitu sebenarnya," ujar Aisha lagi.


"Sudahlah Aisha, sudah aku katakan sudah! Jangan ungkit itu lagi!" ucap Ghibran dengan suara tinggi.


Aisha dan Syifa menjadi terkejut mendengar suara Ghibran yang keras. Wanita itu jadi terdiam. Dia berpikir suaminya marah dengan dirinya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2