HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 51. Ke Rumah Sakit


__ADS_3

"Sudahlah Aisha, sudah aku katakan sudah! Jangan ungkit itu lagi!" ucap Ghibran dengan suara tinggi.


Aisha dan Syifa menjadi terkejut mendengar suara Ghibran yang keras. Wanita itu jadi terdiam. Dia berpikir suaminya marah dengan dirinya.


Aisha menjadi ketakutan melihat Ghibran yang marah. Dia merasa sangat bersalah karena telah merusak acara keluarga itu. Dadanya terasa nyeri, jantung berdebar, keringat dingin keluar dari dahinya. Tiba-tiba tenggorokannya juga terasa tersekat dan sulit untuk bernapas.


"Maaf ... jangan marah!" Hanya itu yang keluar dari mulut Aisha sebelum akhirnya pingsan. Ghibran yang melihat istrinya tidak bergerak menjadi panik, dan meminggirkan mobilnya di jalanan sepi.


"Aisha, bangun! Aisha ... bangun, Sayang! Aku tidak marah padamu," ucap Ghibran panik.


"Kenapa Mami, Pi?" tanya Syifa dengan menangis.


"Kamu tenang, Sayang. Mami tidak akan apa-apa," ucap Ghibran. Dia mempercepat laju mobilnya.


Sampai di rumah sakit, Ghibran langsung menggendong sang istri. Membawanya masuk ke ruang IGD.

__ADS_1


Dokter langsung memeriksa Aisha. Pria itu menunggu di luar dengan gelisah. Syifa masih terus menangis takut terjadi sesuatu pada sang mami.


Setelah setengah jam akhirnya dokter selesai melakukan pemeriksaan. Dokter keluar dari kamar tempat Aisha berbaring. Ghibran langsung berdiri dan menghampiri dokter, menanyakan keadaan istrinya.


"Bagaimana istri saya, Dok?" tanya Ghibran tidak sabar ingin tahu keadaan istrinya itu.


"Sepertinya istri Bapak terlalu lama menangis dan juga cemas. Matanya juga tampak sangat sembab."


"Apakah menangis bisa mengakibatkan sesak napas, Dok?" tanya Ghibran.


"Tentu saja bisa, Pak. Sesak napas saat menahan sedih atau marah dapat merupakan kondisi yang disebut dengan psikosomatis. Psikosomatis sendiri adalah gangguan kesehatan yang dipicu oleh keadaan emosi sehingga berdampak pada sensasi nyeri tertentu pada bagian tubuh," ucap Dokter menjelaskan.


Gangguan psikosomatis adalah keluhan secara fisik yang dialami oleh seseorang tanpa penyebab yang pasti, seperti luka maupun penyakit, melainkan disebabkan karena pikiran atau emosi. Kondisi ini dapat terjadi pada semua kalangan usia, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Biasanya, hal ini berawal dari masalah mental, seperti gangguan cemas, stres, atau depresi. 


"Apakah kehamilan juga dapat memicu sesak napas, Dok?" kembali Ghibran bertanya.

__ADS_1


"Pada trimester pertama kehamilan, peningkatan hormon progesteron dapat menjadi pemicu sesak nafas. Hormon progesteron akan menstimulasi otak untuk mengirim pesan agar paru-paru mengambil lebih banyak udara. Sehingga, ibu hamil sering merasa membutuhkan mengambil nafas panjang lebih sering."


"Sekarang istri saya apa sudah aman, Dok. Tidak ada pengaruh dengan bayi dalam kandungannya?" Lagi-lagi Ghibran bertanya.


"Istri Bapak sudah melewati masa kritis. Saat ini bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Bayi dalam kandungannya aman. Beruntung cepat mendapatkan pertolongan," ucap Dokter itu.


"Terima kasih, Dok."


Dokter meminta Ghibran mengurus administrasi, agar Aisha dapat segera dipindahkan ke ruang rawat inap. Setelah administrasi di urus, istrinya langsung masuk ke kamar.


Ghibran duduk di samping tempat tidur sambil menggenggam tangan sang istri. Tanpa sadar air mata keluar dari sudut mata pria itu.


"Sayangku, melihatmu terbaring lemah di rumah sakit membuatku merasa sangat sedih. Cepat sembuh lah. Aku janji akan mengajakmu ke manapun kamu pergi setelah kamu sembuh nanti. Aku tidak akan mengajak kamu ke pertemuan keluarga lagi. Sadarlah, Sayang," ucap Ghibran dengan rasa penuh penyesalan.


Malam telah larut, Ghibran masih setia menunggu istrinya sadar. Dia tetap duduk di samping tempat tidur sambil terus menggenggam tangan Aisha. Syifa terbaring di sofa. Mungkin lelah seharian dalam perjalanan.

__ADS_1


""Maafin aku yang sering kali salah dalam berucap, mengeluarkan kata-kata yang membuatmu sakit hati. Itu semua karena aku sangat sayang sama kamu. Sekali lagi maafin aku, Sayang," ucap Ghibran penuh penyesalan.


...----------------...


__ADS_2