
Satu hukum kehidupan menyatakan bahwa manusia merupakan magnet hidup yang menarik orang lain dan atau situasi yang serasi dengan pemikiran dominan di dalam hati dan otak kita. Semakin besar emosi yang kita curahkan dalam suatu pemikiran, semakin besar getaran itu memancar dan menarik orang/situasi dalam kehidupan kita.
Begitu juga dengan Fajar. Bayangan seorang kini teramat sering terlintas dan pikirannya. Doa-doa yang di ucapkan dalam sepertiga malam dan setelah sholat, getaran emosi yang dia rasakan, telah menarik seorang yang kini bersemayam dalam hatinya.
Kembali Mang Didin menjadi aktor dari rencana besar yang telah dia bicarakan dan susun bersama Ibu.
Waktu istirahat jam makan siang, Mang Didin sengaja memanggil Fajar ke ruangannya untuk membicarakan urusan serius.
"Fajar, Kang Didin mau nanya." Fajar sekarang memanggil Mang Didin dengan panggilan 'Kang' karena sudah akrab.
"Fajar sudah berpikir tentang menikah?sudah punya rencana atau keinginan untuk menikah?" tanya Mang Didin.
Fajar terkejut dengan pertanyaan Mang Didin.
"Insyaallah, sudah, Kang. Baru kepikiran belakangan ini. Gimana itu, Kang?" tanya Fajar.
Mang Didin langsung tersenyum mendengar jawaban fajar.
"HMmm, begini, Tapi jangan kaget, ya, tenang saja......Coba tarik nafas dalam-dalam."
Fajar menarik napasnya dalam-dalam. Mang Didin mendekat, lalu berbica pelan.
"Nah, to the point, Akang. Mau, enggak, nikah sama senja?"
Deg Deg Deg
Tiba-tiba perasaan berkecamuk dalam hati fajar. napasnya naik turun. Dia merasa heran. Kok, bisa Mang Didin menyampaikan kalimat yang menjadi harapan dan doanya akhir-akhir ini?
"Alhamdulillah....," kata Fajar pelan.
"Nah, jadi, mau?"
"Eh, bukan, Mang....."
"Itu tadi katanya, Alhamdulillah....."
"Eh, iya, Kang, maksudnya, insyaallah, Fajar mau. jujur memang ada niat dalam hati, tapi ......."
__ADS_1
"Tapi, kamu malu, begitu, kan?"
"Iya, malu......"
"Sekarang, mah,enggak usah malu. ibunya senja sudah setuju. Apalagi Akang jad sponsornya. Insyaallah, senja juga mau."
"Jadi, saya harus bagaiman?"tanya fajar, masih dengan wajah kaget meski dalam hati bersyukur atas tawaran Mang Didin.
"Sebenarnya Kang Didin belum bicara dengan senja. Ibunya minta dicarikan jodoh yang Saleh sama Akang.Nah, biyar Akang sekarang yang gerak. Kamu tunggu kabar saja , Ya."
"Baik, Kang, kalau begitu. jazakallah Khair." kata Fajar.
Mang Didin terlihat sangat antusias dengan rencana yang dia susun ini.
Malam harinya, Tampa menunggu lama, Mang Didin datang ke rumah Senja seorang diri. Dia mengajak Senja berbicara berbicara bersama Ibu.
"Ada apa, Ya, Mang? Kok, mendadak harus rapat sama ibu segala," tanya senja penasaran.
"Iya, ini memang penting. Urusan dunia dan akhirat," jawab Mang Didin.
"Minta tolong apa, Bu?" tanya Senja.
"Minta tolong nyariin jodoh untuk kamu," jawab Mang Didin.
"Astagfirullah'adzim......," kata Senja
"Ko, istighfar, sih, Senja, Bukanya mengucap hamdalah," ralat ibu.
"Kok, Ibu bisa kepikiran itu?" tanya senja.
"Senja, kamu mau membahagiakan Ibu sekali ini saja?" tanya Ibu, dan Senja langsung diam.
"Ibumu sangat sayang, dan juga khawatir, jadinya nyuruh Mamang nyariin jodoh yang saleh buatmu. Yang bisa jadi imam kamu, yang bisa jagain dan bimbang kamu," kata Mang Didin.
"Apalagi usiamu sudah pantas menikah, Nak," tambah Ibu.
"Senja, kan, saat ini sedang serius berhijrah.Mamang yakin, insyaallah, lalu di bimbing sama suami yang saleh, prosesnya lebih mantap. Dan, tenang saja, Kami tidak akan memaksa. setuju atau tidaknya, keputusan tetep di Senja," jelas Mang Didin, menenangkan Senja yang terlihat sangat terkejut.
__ADS_1
"Senja sudah terpikir untuk menikah?" tanya Ibu.
" Pemikiran menikah Insyaallah sudah ada, Bu....."
"Nah, Kan, Alhamdulillah kalau begitu.....," seru Mang Didin.
" Tapi, Kan, enggak harus secepat ini. Maksudnya itu, Senja baru terpikir soal pernikahan, bukan ingin segera menikah," ralat Senja.
"Kalau begitu gak masalah. Jalani proses nya dulu saja," kata mang Didin.
"Emangnya menikah dengan siapa, Mang?"
Mang Didin dan Ibu bertatapan. Wajah mereka seperti bertukar kode pikiran. Kemudian, Mang Didin menyampaikan maksudnya kepada Senja.
"Menikah dengan Fajar. Mamang yakin dia jodoh terbaik untukmu. Insyaallah saleh, penghafal Al-Qur'an juga, jadi bisa bimbing kamu........"
Senja begitu terkejut. Tangannya menutup mulutnya yang menganga tidak percaya.
"Ibu juga udah setuju." Ibu menambahkan.
"Ini serius?" tanya Senja.
"Sangat serius. Fajar insyaallah bersedia," jawab Mang Didin.
Senja masih diam tak percaya. Bayangan Fajar muncul dalam pikirannya bersama puluhan pertanyaan yang lain. Baru seminggu lalu dia bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya itu. Kini tiba-tiba statusnya menjadi calon suami? Calon jodoh dunia akhiratnya?
Setelah sekian lama terdiam, Senja memberikan jawabannya kepada Ibu dan Mang Didin yang terlihat sangat berharap.
"Pernikahan, Kan, fase penting dalam hidup, Senja minta waktu memikirkan dulu. Insyaallah secepatnya dikabari."
Ibu dan Mang Didin tersenyum, lalu mengangguk tanda setuju. sementara itu, Senja masih tampak kebingungan. Namun, Senja pun mengerti, niat Ibu dan Mang Didin mencarikan jodoh adalah demi kebaikannya.
Malam ini kamarnya, mata senjaysulit terpenjam. Berapa kali dia membolak-balik badanya. Dalam hati nya muncul banyak pertanyaan.
Fajar Lesmana, si Anak Yatim, benarkah kamu adalah jodohku?
Hanya takdir-nya yang bisa menjawab. Yang jelas, mulai sekarang, nama Fajar Lesmana, sahabat masa kecilnya itu, yang sejak kecil selalu menerima dan membelanya, akan lebih sering hadir dalam hati dan pikirannya, dalam doa-doanya, dan mungkin juga dalam mimpi-mimpinya.
__ADS_1