HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 72. Boneka Syifa


__ADS_3

Ghibran menghentikan mobilnya dan parkir di samping rumah. Hari ini ada pertemuan keluarga besar mereka di rumah kediaman orang tuanya. Pria itu mau membawa anak istrinya atas permintaan sang ayah.


Mereka masuk setelah mengucapkan salam. Di taman belakang telah berkumpul seluruh keluarga. Anak-anak bermain dengan riang. Namun, Syifa tidak mau bergabung. Setiap dia ikut bermain, mereka akan menyisihkan. Mungkin belum terbiasa dengan kehadiran bocah itu.


"Assalamualaikum, Ayah. Apa kabar?" tanya Aisha sambil bersalaman dengan mertuanya itu.


"Waalaikumsalam, Ayah sehat. Sini Syifa. Kakek ada beli boneka kemarin di Singapura," ucap Pak Abdul.


"Betulkah, Kek?" tanya Syifa dengan riang. Dia mendekati sang kakek dan memeluknya.


Pak Abdul melakukan hal yang sama. Memeluk dan mencium bocah itu. Aisha memilih duduk di dekat bapak mertuanya. Tidak peduli keluarga yang lain mau mengatakan apa tentang dirinya yang tidak mau berkumpul. Baginya kewarasan diri lebih penting dari pada mendengar opini mereka.


Saat Abdul sedang bercerita dengan sang cucu, Ibu Nur lewat dengan makanan yang dibawa bersama nampan. Wajahnya tampak sedikit masam, karena Aisha tidak membantu melayani keluarga.


Aisha yang mengerti dengan pandangan mertuanya lalu bangun. Dia menghampiri Ibu Nur.


"Biar aku bantu bawakan, Bu," ucap Aisha.


"Biar saja ibu dan yang lainnya membawa makanan itu. Kamu sedang hamil. Apa lagi perutmu sudah membuncit begitu. Ibu minta tolong yang lain. Biar Aisha duduk saja," ucap Ayah Abdul.


"Tidak apa, Yah. Tidak berat, kok!" jawab Aisha.


"Masih banyak gadis dan wanita muda lainnya. Kamu duduk saja!" ucap Ayah Abdul.

__ADS_1


Ghibran yang duduk dengan saudara lainnya mendengar ucapan Ayah juga langsung menyela.


"Benar apa yang Ayah katakan, Sayang. Biar saja yang lain membawanya. Kamu duduk saja," ucap Ghibran.


Aisha akhirnya duduk kembali. Annisa dan sepupu perempuan yang lain akhirnya bangun dari duduk dan membantu Ibu Nur. Hal itu membuat ibu mertuanya jadi cemberut.


"Nur, mana boneka untuk Syifa. Tolong ambilkan!" perintah Pak Abdul.


"Boneka untuk Syifa, ya?" tanya Ibu Nur dengan terbata.


"Iya, yang aku minta kamu simpan itu. Tolong ambil dan berikan pada cucuku ini," ucap Pak Nur.


Ibu Nur tampak kikuk. Dia mendekati sang suami. Menarik napas sebelum menjawab ucapan pria paruh baya itu.


"Kenapa bisa dimainkan Aqila? Bukankah untuk Aqila telah diberikan kemarin. Boneka yang buat Syifa kenapa juga ikut diberikan? Aku sudah membelikan untuknya juga'kan!" ucap Ayah dengan sedikit emosi.


Suara Pak Abdul yang cukup besar, mengundang perhatian keluarga yang lain. Mata mereka saat ini tertuju pada Pak Abdul dan Ibu Nur. Aisha yang duduk di dekat bapak mertuanya hanya diam. Tak ingin ikut campur.


"Aku bukan memberikan untuk Aqila. Hanya meminjamkan saja," jawab Ibu Nur pelan. Sepertinya dia malu karena menjadi pusat perhatian.


Annisa yang mendengar itu lalu mendekati putrinya yang sedang bermain boneka itu. Dia lalu mengambilnya. Hal itu membuat Aqila menangis. Dia lalu memeluk boneka itu erat. Tidak mau melepaskan.


"Ayah lihat sendiri. Aqila menangis jika boneka itu diambil," balas Ibu Nur.

__ADS_1


"Annisa, lain kali jika kamu tahu Aqila senang bermain boneka, kemanapun kamu pergi, sebaiknya bawa mainannya. Nanti kebiasaan hingga dewasa ingin menguasai milik orang lain. Om sudah membeli satu buat Aqila. Itu milik Syifa. Jangan ingin dimiliki juga," ucap Pak Abdul dengan penuh penekanan.


"Iya, Om. Aku lupa bawa. Lain kali aku akan bawa bonekanya kemana pun pergi. Aku akan rayu Aqila dulu agar mau memberikan bonekanya," ucap Annisa dengan suara pelan.


Semua keluarga besar Ibu Nur segan dengan Pak Abdul. Pria itu jarang bicara. Namun, sekali berucap akan pedih di dengar. Dia bicara apa adanya tanpa takut lawan bicara tersinggung. Mengatakan yang benar walau itu akan menyakiti hati mereka.


"Ayah, sebenarnya tadi Ibu yang memberi. Annisa tidak ada meminta. Ibu meminjamkan agar Aqila diam, tidak rewel lagi," ujar Ibu Nur membela sang ponakan.


"Lain kali jangan memberikan milik orang lain tanpa izin. Seharusnya ibu bertanya sebelum melakukan sesuatu. Itu sudah menjadi milik Syifa. Jangan meminjamkan tanpa izin pemiliknya," ucap Pak Abdul dengan penuh penekanan.


"Aku akan coba rayu Aqila. Syifa, pinjam sebentar bonekanya ya. Nenek akan memcoba memintanya. Kamu sabar sebentar, ya," ujar Ibu Nur.


"Iya, Nek," jawab Syifa dengan suara pelan. Dia hanya memandangi boneka yang ada dalam pelukan Aqila. Boneka itu memang sangat bagus dan lucu.



Annisa menggendong sang putri yang masih memeluk boneka itu dengan erat. Seolah takut diambil. Ibu Nur mendekati keduanya. Mencoba merayu sang bocah.


"Nisa, maafkan Om kamu ya. Tidak seharusnya dia marah hanya karena boneka ini," bisik Ibu Nur.


"Om tak salah, Tante. Memang seharusnya aku membawa mainan Aqila setiap pergi. Agar jangan meminjam milik orang lagi," ucap Annisa.


Annisa dan Ibu Nur membawa Aqila ke taman. Membujuknya agar mau bermain dengan anak-anak yang lain di rumput. Dengan begitu, dia akan melepaskan pelukannya dengan boneka.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2