HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
42. Cinta Seorang Ayah


__ADS_3

Sekitar pukul 10.00 pagi, Mang Didin menjepit Senja untuk berangkat ke kampung hijrah. Dari Antapani, mobil warna putih milik Mang Didin melaju menuju daerah Rancabali, Ciwidey.


Sepanjang perjalanan, Senja merenung saja. Merenungi semua yang sudah Terjadi dalam hidupnya. Proses perubahan hidup yang terjadi beberapa bulan terakhir ini. Terutama setelah peristiwa malam itu dengan sang mantan kekasih, Satria. lalu, diikuti dengan Ibu yang masuk rumah sakit, surat dari Ayah, dan semua lembaran baru yang di mulai saat itu.


Begitu cepat waktu berlalu. Tapi, semua ingatan itu seperti baru kemarin terjadi.


Satria. Ah ...... dia kembali teringat Satria.


Di mana dia sekarang? katanya dalam hati.


HMmm ..... buat apa aku peduliin leelaki berengsek seperti dia? Palingan dia sudah dekat dengan perempuan lain sekarang, batinnya lagi.


Senja segera menghapus bayangan Satria dari pikirannya. Baginya, Satria adalah salah satu masa kelam hidupnya. Apalagi dia sudah nyaman dengan semua proses yang terjadi saat ini. Semakin hari, dia semakin mantap berhijrah dan belajar. Apalagi sekarang, dalam proses ta'arufnya, dia merasa harus lebih serius memantaskan diri. mengingat calon pasangan yang sedang berproses dengannya adalah sosok luar biasa.


Selama ini untuk mendukung proses hijrahnya, Senja mengganti nomor ponsel


nya.Sehingga, teman-teman yang sering mengajaknya melakukan aktivitas tak berfaedah tidak bisa menghubungi dia lagi.


"Agar tidak diganggu lagi, ganti nomor HP dan selektif memilih pergaulan setelah ini," begitu kata Resti waktu itu.


Dia ikut saran dari Resti. meskipun gara-gara hal ini, Senja dicibir sok suci oleh teman-teman lamanya. Dia juga harus kehilangan pekerjaan dari partner yang selama ini berkerja sama. Tetapi, rezeki bisa dicari, peluang akan selalu bermunculan, begitu keyakinannya dalam hati.


Waktu terus berjalan, mobil Mang Didin akhirnya sampai di daerah Ciwidey. Udara sejuk mulai terasa ketika Mang Didin membuka jendela mobil. Senja menikmati suasana perjalanan, melewati pepohonan dan perkebunan yang indah. Saat mobil hampir sampai di kampung hijrah. Mang Didin berkata, "Kamu akan kaget, Senja, karena papamu adalah seseorang yang luar biasa dan sangat dihormati di sini."


Senja hanya diam mendengarkan perkataan Mang Didin. Sementara itu, dari kejauhan, kampung hijrah mulai terlihat. membuat dada Senja semakin deg-degan. pikirannya dipenuhi rasa penasaran.


Sampai di kampung hijrah, Mang Didin langsung mengajak Senja ke rumah Abah Iwan. para santri hanya terlihat beberapa karena sebagian besar sedang sibuk belajar memanah dan berkuda untuk persiapan lomba Agustusan.


Tak lama, Mang Didin dan Senja sampai di depan rumah Abah Iwan. Sebuah rumah kayu sederhana dengan dua lantai. Terlihat sangat nyaman dan asri.

__ADS_1


Ketika melihat Mang Didin yang datang. Abah Iwan terlihat bahagia. Mang Didin mendekat dan mencium tangan Abah Iwan.


"Senja, ini Abah Iwan, gurunya ayahmu," kata Mang Didin memperkenalkan Senja yang tersenyum ke arah Abah Iwan.


"Masya Allah, ini yang Abah tunggu-tunggu. Senja Ainul Mardhiah. Putri kesayangan Kang Umar. Allahu Akbar ...... dah besar sekali kamu, Nak ..... .."


Abah Iwan kemudian mempersilahkan Senja masuk ke rumahnya. Senja yang awalnya canggung mulai nyaman karena Abah Iwan menyambutnya dengan sangat baik.


Di dalam rumah Abah Iwan, mereka bertiga bertukar cerita penuh kehangatan. Sebelumnya, Mang Didin dan Senja melaksanakan sholat Zuhur terlebih dahulu di rumah Abah Iwan karena waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 lebih.


"Kang Umar sering menceritakan kamu dan ibumu, Nak. Kang Umar sangat mencintaimu, dan teramat sering mendoakanmu ......."


Ada getaran hangat yang di rasakan Senja ketika Abah Iwan menceritakan sosok ayahnya.


"Kang Umar, sampai akhir hayatnya, masih tetap mendoakan mu, senja ... . .'


Senja masih diam saja. Namun, saat Abah Iwan membawa foto ayahnya sedang bersama Abah Iwan di depan Masjid Al-Hijrah, ia tak kuasa menahan air mata. Ditatapnya lekat-lekat foto lelaki itu. Dari mulutnya terucap kata, " Ayah ..."


Setelah mengobrol di rumah Abah Iwan, Abah lalu mengajak Senja ke Masjid Al-Hijrah. Beliau menceritakan kisah kematian Kang Umar yang selalu di kenang oleh santri kampung hijrah.


"Senja, kamu harus tahu, mimpi Kang Umar adalah melihatmu dan ibumu bahagia. Tetapi, impian terbesar beliau adalah meninggal dalam keadaan Husnul khatimah. Berkali-kali beliau bilang ingin wafat dalam keadaan bersujud kepada Allah. Dan, luar biasanya rencana Allah, beliau wafat ketika bersujud pada rakaat kedua sholat subuh ...."


Mendengar cerita Abah Iwan, Senja kembali terbaru. Dia berusaha menahan air matanya.


"Di sinilah tempatnya ayahmu meninggal," kata Abah sambil menunjuk satu lokasi yang berdekatan dengan mimbar imam.


Senja dan Mang Didin takjub dengan kisah yang disampaikan Abah Iwan. Terutama Senja. perasaan haru kini berubah menjadi kekaguman. Kenapa lelaki dahulu pernah sangat dia benci.


Selesai berkeliling Masjid Al-Hijrah, Senja di ajak berziarah ke makam Kang Umar. jarak pemakaman lumayan jauh, sekitar 2 kilometer dari kampung hijrah sehingga Abah Iwan, Senja dan Mang Didin pergi ke pemakaman dengan naik mobil.

__ADS_1


Sampai di makam Kang Umar, Senja tak kuasa lagi menahan air matanya. Ia menangis tersedu-sedu penuh kerinduan kepada lelaki bernama Ayah. Betapa ingin dia digendong, dipeluk, juga dicium manja oleh ayahnya saat masih kecil. betapa dia ingin diantara jemput oleh Ayah saat masuk sekolah. Betapa selama ini dia ingin berbagi cerita tentang semua masalahnya Kepada Ayah. Betapa selama ini dia merindu dan sangat membutuhkan kehadiran Ayah dalam hidupnya.


Di pusar ayahnya, Senja tak henti menangis. Mang Didin dan Abah Iwan melihat dari dekat dengan perasaan haru.


Satu jam lebih Senja berada di makam Ayah. Setelah mendoakan ayah, mereka lalu kembali ke kampung hijrah. Namun, sebelum itu karena sudah waktu asar, mereka sholat terlebih dahulu di mushala dekat lokasi pemakaman.


Pukul 16.00, mereka sampai di kampung hijrah. Abah Iwan langsung mengajak Senja ke tempat bersejarah miliki Kang Umar.


"Ini rumah ayahmu, Nak .....," kata Abah Iwan sambil mengajak masuk ke rumah Kang Umar.


"Rumah ini kosong, tapi lantai dua itu perpustakaan yang di dirikan Kang Umar. peninggalan Kang Umar. kami membukanya untuk umum sehingga santri dan pengunjung kampung hijrah bisa mengaksesnya setiap hari."


Abah Iwan menjelaskan sambil menemani Senja melihat-lihat rumah Kang Umar. Mang Didin hanya duduk di kursi karena sudah pernah mengunjungi rumah ini saat Kang Umar masih hidup dahulu. Mang Didin juga memberi kesempatan Senja agar lebih bisa mendalami perasaannya saat ini. Dia sengaja duduk saja agar Senja tidak merasa canggung bertanya langsung kepada Abah Iwan tetang Ayahnya.


Senja masuk ke kamar Kang Umar. Dilihatnya setiap sudut kamar tersebut. Kamar sederhana, tetapi terasa sejuk. setelah itu, dia ke ruang tengah dan melihat foto-foto Kang Umar terpasang di sana. Dia merasa kaget karena foto dirinya saat masih kecil bersama ibunya juga terpasang di sana. Melihat foto itu dia kembali menangis. Teryata ayahnya selama ini tidak pernah melupakan mereka berdua.


"Senja, Abah mau cerita ......," kata Abah saat mereka ada di ruang tengah.


"Sebenarnya ada seseorang yang mungkin kamu kenal sedang menjadi santri di sini."


"Siapa, Abah?"


Dari kejauhan, Mang Didin terlihat memperhatikan Abah dan Senja yang berbicara serius. Mimik wajah Senja terlihat kaget. Mang Didin senang karena Senja sudah terlihat akrab dengan Abah Iwan.


"Berarti, sekarang dia sedang di sini, Abah?" tanya Senja.


"Nah, itu dia, sudah seminggu ini dia izin pulang karena adiknya masuk rumah sakit. Katanya, ada masalah keluarga yang harus di selesaikan. Abah belum tahu kapan dia kembali. Abah harus tanya Mirza dulu."


Senja masih tak percaya dengan informasi yang Abah Iwan sampaikan.

__ADS_1


Satria, teryata kamu datang ke sini? ujar Senja dalam hati.


__ADS_2