
Ghibran baru saja pulang dari menjemput Syifa, ketika ia mendengar berita yang mengguncang hatinya. Ikhbar, saudara iparnya yang sedang berkunjung di luar kota, mengalami kecelakaan mobil yang serius. Hatinya langsung berdegup kencang mendengar kabar itu, pikirannya terasa kalut dan cemas. Tanpa pikir panjang, ia segera mengambil ponselnya dan menelepon sang istri, Aisha, yang sedang berada di rumah.
"Assalamualaikum, Sayang. Ada berita buruk. Ikhbar mengalami kecelakaan mobil, saat dia dalam perjalanan pulang ke rumah," ucap Ghibran dengan lembut.
"Apa? Benarkah, Mas? Oh tidak, bagaimana keadaannya, Mas?" tanya Aisha dengan nada terkejut.
"Aku belum mendengar kabar pastinya. Tetapi aku akan segera pergi ke rumah sakit di kota untuk melihatnya. Maukah kamu ikut, Sayang?" tanya Ghibran.
"Tentu saja, Mas! Aku akan langsung siapkwn pakaian dan kita langsung berangkat sekarang juga!" ujar Aisha.
Sesampainyq di rumah,nGhibran dan Aisha segera berganti pakaian dengan cepat dan mereka bergegas menuju ke kota. Mereka terus berbicara satu sama lain, mencari kekuatan dan ketenangan di antara kecemasan yang memenuhi pikiran mereka.
Syifa berada di belakang, tertidur dengan boneka dalam pelukannya. Ghibran sebenarnya telah mendengar dari salah seorang kerabat jika keadaan Ikhbar cukup parah dan memprihatinkan.
"Mas, aku benar-benar terkejut dengan berita ini. Bagaimana ini bisa terjadi? Mas dapat kabar dari mana? Kasihan Annisa, pasti dia sangat sedih," ucap Aisha.
Aisha tidak memiliki perasaan apa pun lagi pada pria itu. Saat ini jika dia kuatir itu murni karena rasa kasihan.
"Aku juga tidak tahu, sayang. Mungkin jalanan sedang ramai atau ada kecelakaan di sekitar tempatnya. Kita hanya bisa berharap yang terbaik sekarang. Kamu sangat mengkuatirkan Ikhbar?" tanya Ghibran.
"Mas, aku tak suka pertanyaan kamu. Siapa pun itu, jika aku mengenalnya, pasti akan timbul rasa kasihan saat mendengar orang itu kecelakaan," ucap Aisha.
__ADS_1
Aisha menatap wajah sang suami. Dia lalu menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya lagi.
"Mas, aku tidak memiliki perasaan apa pun lagi pada Ikhbar. Cintaku telah habis kuberikan padamu," ucap Aisha dengan suara pelan karena malu.
"Aku percaya denganmu, Sayang," ucap Ghibran dengan mengusap kepala sang istri.
Ghibran sebenarnya hanya becanda. Dia percaya dengan sang istri. Jika Aisha memang masih mencintai Ikhbar pasti dia akan mencoba mencuri perhatian pria itu.
Sesampainya di rumah sakit, Ghibran dan Aisha langsung mencari informasi di loket pendaftaran. Mereka diberitahu bahwa Ikhbar telah dibawa ke ruang gawat darurat. Di sana telah menunggu Annisa dan keluarga yang lainnya. Mereka duduk di ruang tunggu dengan hati yang berdebar, menunggu berita terbaru tentang keadaan Ikhbar.
Annisa tampak menangis dengan memeluk Ibu Nur. Putrinya Aqila berada dalam gendongan mamanya. Aisha duduk dengan Syifa dalam pelukannya.
Ghibran mendekati Annisa. Memegang pundak wanita itu. Air mata terus mengalir dari matanya.
"Kak, aku belum siap kehilangan Mas Ikhbar," ucap Annisa dengan terbata.
"Berdoalah dan yakin semua ketetapan dan takdir Allah adalah yang terbaik," balas Ghibran.
Annisa memandangi Ghibran yang berdiri disampingnya. Tangannya terulur ingin memeluk pinggang pria itu. Reflek suami Aisha itu menghindar. Sehingga tangan Annisa kembali lagi ke pahanya.Wajahnya memerah karena malu.
Aisha hanya diam melihat semua itu. Dia bersyukur karena Ghibran tidak menyambut saat Annisa ingin memeluknya. Pria itu berjalan mendekati sang istri. Duduk disampingnya. Aisha langsung memeluk lengannya. Seolah ingin mengatakan pada semua yang ada jika hanya dia dan Syifa, yang boleh memeluk Ghibran.
__ADS_1
Dokter keluar dari ruangan, sehingga perhatian mereka saat ini hanya tertuju pada satu orang. Ghibran langsung berdiri dan mendekati dokter.
"Bagaimana keadaan Ikhbar, Dok?" tanya Ghibran.
"Kami harus melakukan operasi untuk tulang kaki yang patah dan retak. Untuk itu kami perlu persetujuan dari keluarga," ucap Dokter.
"Lakukan saja semua yang terbaik untuk saudara saya itu, Dok," balas Ghibran.
"Silakan Bapak isi formulir persetujuan operasi dulu," ucap dokter lagi.
"Baik, Dok. Saya akan segera mengisinya. Terima kasih. Saya permisi dulu," ujar Ghibran.
Dia lalu mendekati Annisa. Mengatakan jika semua akan dirinya urus.
"Aku akan ke pendaftaran pasien dulu. Kamu bisa ikut untuk tanda tangan persetujuan operasi bagi Ikhbar."
"Baik, Kak." Hanya itu yang di jawab Annisa.
Ghibran lalu mendekati sang istri dan putrinya. "Temani aku ke pendaftaran, Sayang. Ikhbar harus di operasi. Aku ingin mendaftar dulu."
"Iya, Mas. Ayo Sayang, kita temani papi dulu," ucap Aisha pada sang putri. Kedua tangan Ghibran dipeluk oleh dua bidadarinya. Annisa berjalan dibelakang mengikuti mereka tanpa bicara apa pun.
__ADS_1
...----------------...