
Setelah makan siang, Abdul meminta Annisa untuk duduk di dekat dirinya. Ada yang banyak ingin dia tanyakan mengenai hubungan wanita itu dengan suaminya.
"Annisa, aku tahu ini sebenarnya bukan urusanku. Tapi sebagai om kamu, aku perlu bertanya dengan berita yang aku dengar. Apa benar kamu ingin mengajukan gugatan cerai pada suamimu Ikhbar?" tanya Pak Abdul.
Annisa melirik ke arah mamanya mendengar ucapan Om Abdul. Jika boleh jujur dia masih ragu untuk melakukan itu. Di satu sisi dia masih ada cinta untuk pria itu, tapi di sisi lain dia juga tidak mungkin bertahan dengan suami berpenyakitan begitu. Dia masih muda dan hidup masih terus berjalan.
"Itu benar, Bang. Annisa masih muda. Tidak mungkin dia harus menghabiskan waktunya untuk suami yang imp*oten. Dia masih membutuhkan nafkah batin, dari pada nanti terjadi hal yang tidak diinginkan," jawab Mamanya Annisa.
Annisa hanya menunduk. Dia masih belum bisa menjawab dengan tegas akan keinginan itu. Terkadang ada rasa ingin mencoba bertahan, tapi jika semakin lama mereka berpisah akan semakin sulit melepaskan.
"Aku bertanya pendapat Annisa. Kamu diam saja dulu. Yang akan menjalani semua itu Annisa, jadi biar dia yang memutuskan," )balas Pak Abdul.
__ADS_1
"Aku nggak tahu, Om. Aku tidak ingin berpisah, tapi aku juga tidak mungkin hidup selamanya dengan pria cacat. Usiaku masih muda, masih banyak waktu yang akan aku tempuh. Bukankah menggugat cerai pada suami yang tidak bisa memberikan nafkah, baik lahir atau batin itu dibolehkan?"
Pak Abdul menatap Annisa tanpa kedip. Dia tahu apa yang diucapkan oleh wanita itu ada benarnya. Namun, bisa juga kita ambil jalan keluar dengan cara pengobatan.
"Memang tidak dilarang menggugat cerai pada suami yang sakit. Sang istri boleh meminta cerai karena suami tidak bisa menafkahi lahir dan batin, mungkin karena suaminya terkena penyakit atau apa, maka istri berhak minta cerai. Namun jika istri bersabar di wilayah itu, maka ini kemuliaan pahala besar bagi istri jika dirinya bersabar," balas Pak Abdul.
Annisa hanya terdiam. Ibunya mencubit pelan lengan wanita itu. Meminta dia berkata tegas untuk berpisah saja. Mama Annisa tidak mau anaknya memiliki suami pria cacat.
"Aku tidak mungkin menunggu hingga dia sembuh, Om. Mungkin saja Mas Ikhbar tidak akan pernah sembuh. Apa aku harus menghabiskan waktu hanya untuk mengabdi selamanya pada suamiku? Sedangkan sebagai manusia biasa aku masih ingin dipenuhi kebutuhan biologisnya," balas Annisa.
Ibu Nur yang dari tadi hanya diam mendengar, akhirnya angkat bicara. Dia salah satu orang yang mendukung perceraian Ikhbar dan Annisa. Dengan berhati-hati dia berucap.
__ADS_1
"Kalau menurut ibu memang lebih baik mereka berpisah. Dari pada nanti Annisa selingkuh saat merasa kekurangan perhatian dan kebutuhan biologisnya tidak terpenuhi," ucap Ibu Nur.
Jawaban Ibu Nur membuat Pak Abdul dan Ghibran terkejut. Mereka memandang serempak ke arah wanita itu.
"Istighfar, Bu. Orang yang tidak memiliki iman yang memiliki niat selingkuh. Namun, jika memang itu yang mungkin akan kamu lakukan jika suami sakit terus, maka berpisah lah. Dari pada kamu akhirnya melakukan zina karena keinginan biologis yang tidak terpenuhi," ucap Pak Abdul.
"Tindakan perselingkuhan termasuk perbuatan yang sangat dilarang dalam Islam. Hakikatnya, seseorang yang menikah memiliki tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta menjaga diri dari segala godaan. Apabila seorang suami atau istri tergoda dengan orang lain dan melakukan perselingkuhan, maka salah satu di antara mereka telah mengingkari komitmen pernikahan. Jadi dari pada itu yang akan kamu lakukan, lebih baik berpisah!" lanjut Pak Abdul.
Sementara mereka masih berdebat, ditempat lain di sebuah kamar, tampak Ikhbar termenung. Sudah seminggu dia ke kampung dan tinggal bersama ibunya. Dia merasa rendah diri setelah tahu jika dirinya imp*oten.
"Ya Allah, jika semua sakit ku ini adalah penggugur dosaku yang lalu, aku ikhlas menjalaninya. Mungkin ini balasan atas semua perbuatanku di masa lalu," gumam Ikhbar dalam hatinya.
__ADS_1
Dengan sakit, keburukan yang dilakukan seorang muslim akan dihapus dari catatan amalnya hingga menjadi ringan dari dosa-dosa. Seorang hamba akan mendapat pahala dari musibah yang menimpanya, sekalipun hanya sakit ringan. Selama ia tetap sabar dan selalu meminta pahala.
...----------------...