
Tidak terasa telah enam bulan usia kandungan nya Aisha. Saat ini kandungannya telah makin membesar. Syifa bahagia banget mengetahui jika dalam waktu dekat dia akan memiliki adik. Dia makin posesif dengan maminya.
Begitu juga Ghibran. Perhatiannya pada Aisha makin bertambah. Walau Ghibran bukan dokter, tapi karena sering membaca buku tentang wanita hamil, membuat dia tahu semua yang boleh dan tidak boleh istrinya itu lakukan saat hamil. Terutama mengenai makanan. Ghibran ingin menebus waktunya saat Alya hamil Syifa. Dia akan memperhatikan semua tentang istrinya.
"Papi, kata mami sebentar lagi adik aku lahir," ucap Syifa dengan memeluk tubuh papinya sambil mengecup pipi pria itu.
Saat ini Ghibran, Aisha dan Syifa berada di ruang keluarga sedang menonton televisi. Syifa selalu saja berpelukan dengan Ghibran jika menonton, seolah papinya itu akan pergi jika pelukannya di lepas. Terkadang dia juga akan memeluk Aisha dengan erat. Syifa selalu saja manja dengan kedua orang tuanya.
"Iya, Sayang. Adik Syifa lahir sekitar tiga bulan lagi. Berarti kamu udah mau jadi kakak!" ucap Ghibran sambil mengusap kepala bocah itu. Ghibran tampak begitu menyayangi keluarganya. Bukan saja dengan putrinya, sama Aisha dia juga begitu lembut.
"Papi, besok aku libur sekolah. Apa aku boleh bermain dengan temanku di lapangan?" tanya Syifa.
Dia ingin sekali bermain dengan anak-anak di desa ini. Bermain larian dan juga petak umpet di lapangan. Selama ini dia hanya melihat semua itu dari kejauhan saja.
Ghibran tidak menjawab pertanyaan sang bocah. Dia justru memandangi Aisha, meminta pendapat sang istri. Dia takut Syifa nyasar jika dibiarkan bermain di luar rumah.
"Tak apa, Pi. Biar saja dia bermain dan bergaul dengan teman sekitar. Dia juga perlu beradaptasi dengan lingkungan sekitar sini. Syifa juga perlu bersosialisasi dengan orang lain," ucap Aisha.
"Baiklah, tapi kamu harus janji jangan main jauh-jauh. Hanya sekitar lapangan," ujar Ghibran.
__ADS_1
"Horee, terima kasih Papi. Terima kasih, Mami. Aku senang banget," ucap Syifa dengan girang.
Aisha menasehati sang putri agar bermain dengan baik. Jangan ada pertengkaran dan pulang saat makan siang tiba. Satu lagi, jangan pergi jauh dari rumah, takut putrinya tidak tahu jalan pulang.
Setelah jam sembilan, Ghibran meminta putrinya itu untuk tidur. Syifa lalu bangun dari duduknya dan mengecup kedua pipi Ghibran dengan semangat, karena membayangkan besok akan bermain dengan temannya di lapangan.
"Selamat malam, Papi. Semoga mimpi indah," ucap Syifa sebelum masuk ke kamarnya.
Setelah itu Syifa berjalan menuju mami nya. "Selamat malam Mamiku yang paling cantik. Semoga Mami juga mimpi indah." Syifa mengecup kedua pipi maminya dan dibalas Aisha dengan mengecup kedua pipi bocah cilik itu juga.
"Selamat malam juga, Sayang. Semoga mimpi indah," balas Aisha.
Setelah membersihkan wajahnya, Aisha naik ke ranjang diikuti Ghibran. Pria itu langsung menunduk dan mengecup perut wanitanya itu.
"Sayang, Papi sudah nggak sabar ingin bertemu kamu, Nak." Ghibran mengusap dan mengecup perut istrinya itu.
"Mas ...," panggil Aisha pelan.
"Iya, Sayang," jawab Ghibran dengan suara lembut.
__ADS_1
"Apa Mas masih membantu keuangan Annisa?" tanya Aisha.
Telah satu bulan berlalu sejak kejadian kecelakaan yang menimpa Ikhbar. Dari terakhir kabar yang dia dengar, pria mantan kekasihnya itu telah bisa berjalan walau dibantu tongkat penyangga. Dan yang paling mengejutkan dari semua berita itu adalah, Ikhbar dinyatakan mengalami impoten karena kelumpuhan yang dia derita mempengaruhi sistem reproduksi.
"Masih, jika kamu tidak mengizinkan aku tidak akan membantu lagi,' jawab Ghibran.
"Tidak apa, Mas. Kapan kita ke kota melihat ayah dan ibu sekalian menjenguk Ikhbar?" tanya Aisha.
"Terserah kamu saja. Aku takut kamu akan berdebat lagi dengan Ibu," jawab Ghibran.
"Kita datang saat ayah di rumah saja," balas Aisha.
"Boleh. Sayang, mungkin Annisa dan Ikhbar akan bercerai," ucap Ghibran pelan.
"Kenapa, Mas?" tanya Aisha dengan raut wajah yang sangat terkejut.
"Permintaan ibunya, mereka tidak mungkin membiarkan Annisa terus bersama Ikhbar setelah dokter mengatakan kemungkinan Ikhbar tidak bisa lagi memberikan keturunan karena mengalami impoten,' jawab Ghibran.
Aisha semakin terkejut mendengar kenyataan yang Ghibran katakan. Tidak mengira jika Ikhbar akan mengalami hal ini di usia muda.
__ADS_1
...----------------...