HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu


__ADS_3

Pagi setelah solat subuh, Aisha kembali tidur. Tubuhnya terasa lelah dan capek. Mungkin karena kehamilan yang makin membesar. Syifa ikutan tidur dengan memeluk tubuh sang mami.


Ghibran telah memesan sarapan yang dia inginkan dan juga untuk anak serta istrinya dan minta di antar ke kamar karena malas ke restoran hotel.


Melihat kedua wanita yang dia cintai masih terlelap, Ghibran tidak ingin mengganggu. Apa lagi melihat Syifa yang tertidur dalam dekapan dada Aisha.


Gibran berdiri dekat jendela besar yang ada di kamar hotel tempat mereka menginap. Jendela kaca itu terbentang luas dari atap sampai lantai memampilkan pemandangan kota yang dia saksikan dari lantai ruang kamar tempat kedua orang yang dia sayangi terbaring.


Pagi yang cerah dengan sinar matahari yang terpancar begitu indahnya, seperti hatinya Ghibran saat ini. Dia tidak pernah lupa mengucapkan syukur atas kebahagiaan yang sedang dia rasakan saat ini.


Pintu kamar hotelnya di ketuk, ternyata petugas hotel yang mengantar makanan. Ghibran lalu meletakan semua makanan di meja. Dia naik ke ranjang. Tidur di samping istrinya dengan posisi miring.


Ghibran memeluk pinggang Aisha dan mengecup pipinya berulang kali untuk membangunkan. Akhirnya wanita itu membuka mata.


"Selamat Pagi, Sayang." Ghibran mengecup pipi Aisha lagi. Wanita itu hanya tersenyum tanpa bisa bergerak. Tubuhnya di peluk erat Syifa. Tampak sekali anak itu sangat merindukan pelukan seorang ibu.


"Sarapan sudah aku pesan. Bangunlah! Nanti keburu dingin." Ghibran memeluk istrinya sekaligus sang anak yang juga memeluk Aisha. Sepertinya Syifa takut jika wanita itu pergi.


"Gimana aku mau bangun, Mas. Syifa aja memeluk aku erat begini. Nanti dia akan terbangun jika aku bergerak," balas Aisha.


Ghibran mengacak rambut sang istri. Cukup lama dia mengecupnya dengan lembut.


"Terima kasih, Sayang. Aku bersyukur memiliki kamu. Aku tak tahu, jika bukan kamu yang menjadi pendampingku apa bisa menerima Syifa sebaik kamu," ucap Ghibran dan kembali mengecup pipi sang istri.

__ADS_1


"Syifa tidak bersalah. Kenapa tidak bisa menerima kehadirannya. Apa lagi dia anak yang manis dan baik. Siapa pun yang bertemu pasti akan jatuh cinta," ujar Aisha.


Syifa yang berada dalam dekapan dada Aisha membuka matanya. Dia bangun dan langsung menghujani Aisha dengan ciuman di wajah wanita itu.


"Aku kira aku mimpi. Ternyata benar, aku sudah ada mami," ucapnya polos.


Syifa kembali mengecup seluruh bagian di wajah Aisha. Sepertinya ingin mengucapkan terima kasih. Dia lalu kembali berbaring dan memeluknya.


"Mami, janji tidak akan tinggalkan Syifa," ucap Syifa dengan wajah memohon.


"Kenapa mami harus meninggalkan Aisha? Jika mami telah menjemput itu artinya mami akan terus bersama kamu, putri kecilku," balas Aisha.


"Sayang, sekarang cuci muka, gosok gigi. Kita sarapan. Setelah itu mandi dan kembali pulang ke rumah," ucap Ghibran.


"Boleh, Mami juga akan membasuh wajah juga."


Aisha bangun diikuti Syifa. Mereka berdua masuk ke kamar mandi, membersihkan wajah. Setelah itu keluar. Duduk langsung mengelilingi meja makan yang ada di kamar hotel itu.


Melihat menu yang tersedia cukup banyak, gadis cilik itu begitu senangnya. Dia makan bubur terlebih dahulu. Lanjut yang lainnya. Ghibran dan Aisha membiarkan saja apa yang putri mereka lakukan.


"Kenyang banget," ucap Syifa. Dia duduk bersandar karena kekenyangan.


"Sayang, lain kali makannya jangan sampai kekenyangan begitu. Tidak baik. Makan secukupnya. Setelah beberapa saat kamu bisa makan yang lainnya," nasihat Aisha dengan lembut.

__ADS_1


"Ya, Mami," jawab Syifa.


Setelah sarapan beberapa menit kemudian, Aisha memandikan Syifa. Anak itu begitu manjanya dengan sang mami. Ghibran melihat dengan senyum semringah.


"Sekarang Syifa sudah cantik," ucap Aisha setelah mengenakan baju buat anaknya. Kemarin sebelum ke hotel Aisha dan Ghibran membeli baju buat Syifa. Istrinya ingin sang bocah menggunakan hijab sejak dini. Baju yang biasa dikenakan cukup untuk di rumah. Keluar rumah menggunakan hijab.



"Masyaallah, anak Papi cantik banget dengan hijab itu," ucap Ghibran. Putrinya tampak sangat imut. Semua karena Aisha.


Syifa langsung berlari ke arah Aisha dan memeluknya. Mencium wajah wanita itu. Sepertinya ini jadi kebiasaan bocah itu. Mencium pipi sang mami.


"Terima kasih, Mami. Aku sayang Mami," ucap Syifa dengan rasa bahagia. Dia baru merasakan kasih sayang seorang ibu. Walau di panti ada bunda, tapi tidak sepenuhnya wanita itu memperhatikan dirinya. Banyak anak yang lain yang butuh perhatian.


"Mami juga sayang, Syifa," ucap Aisha.


"Lepaskan pelukan Syifa. Mami harus mandi. Kita segera pulang. Kamu mau bertemu kakek dan nenek'kan?" tanya Ghibran.


"Mau banget, Pi," jawab Syifa antusias.


Syifa melepaskan pelukannya di tubuh Aisha setelah mengecup pipi wanita itu. Istri Ghibran itu langsung mandi.


Setelah semua selesai, mereka segera meninggalkan hotel menuju rumah orang tua Ghibran. Pria itu berdoa, ibunya mau menerima Syifa dengan tangan terbuka seperti Aisha menerima putrinya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2