
Sejak pukul 18.00, suasana rumah Abdul begitu hening. Di ruang keluarga mereka, terdapat degup jantung yang begitu kencang. Abdul, seorang pria setengah baya dengan janggut yang sudah banyak memutih, duduk bersimpuh di depan istrinya, Nur.
"Hari ini, aku ingin berbicara denganmu tentang sesuatu yang penting," gumam Abdul dengan suara bergetar. Nur terlihat gemetaran saat mencoba menenangkan diri. Ia menatap wajah Abdul dengan ekspresi kebingungan dan kecurigaan.
"Apa ayah ingin mengatakan tentang wanita yang ada dalam foto itu," gumam Ibu Nur dalam hatinya.
"Kamu tahu, Nur, hidup kita telah berjalan secara harmonis selama bertahun-tahun. Namun, saat ini aku harus memberitahumu tentang hal yang mungkin akan membuatmu shock," kata Pak Abdul dengan berat hati.
Nur menarik napas dalam-dalam, "Ayah, apa yang sedang kamu bicarakan? Aku tidak mengerti apa maksudmu."
Tangan Ibu Nur gemetar. Keringat dingin membasahi telapak tangan itu
Abdul menatap lurus ke mata Nur. Ia merasakan beban hari ini begitu berat, tetapi kejujuran adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh. "Nur, aku harus memberitahumu jika aku telah menikah siri dengan seorang wanita muda. Dan saat ini dia sedang mengandung anakku," akhirnya Abdul mengucapkan kata-kata yang selama ini ia sembunyikan.
__ADS_1
Terdengar decakan kesedihan dari Nur, "Apa? Aku tidak percaya dengan apa yang kamu katakan, Yah. Bagaimana kamu bisa melakukan ini? Sudah berapa lama kamu mengkhianati ku, Yah?" tanya Ibu Nur dengan suara gemetar.
Abdul mencoba mendekati Nur, memegang tangan istrinya dengan lembut, "Nur, aku tahu betapa beratnya ini bagimu, namun harap dengarkanlah penjelasanku. Wanita tersebut adalah Rachel, seorang penjaga toko yang berada di dekat kantorku."
Air mata mulai membasahi pipi Nur, "Kenapa kamu melakukan ini? Apa yang salah dengan pernikahan kita? Kenapa kamu melanggar janji suci kita?"
Abdul mencoba menjelaskan, "Nur, aku tidak pernah bermaksud menyakiti perasaanmu. Aku tahu ini adalah keputusan yang egois dan melanggar pernikahan kita. Aku tidak bisa menjawab sebenar apa yang membuatku melakukannya. Aku merasa hampa dan jenuh dengan rutinitas hidup kita. Aku juga menginginkan keturunan."
Nur mencoba menenangkan hatinya yang hancur, "Ayah, kita telah membangun segalanya bersama selama bertahun-tahun. Bukankah lebih baik untuk membicarakan masalah ini daripada mencari pelarian di tempat lain? Dulu kamu mengatakan tidak masalah mengenai keturunan," ucap Ibu Nur dengan derai air mata.
Walaupun sedih, Nur tidak tega melihat suaminya menderita. Ia ingin memberikan kesempatan kedua bagi pernikahan mereka. Tapi untuk saat ini dia masih belum sepenuhnya bisa menerima keputusan Abdul yang menikah tanpa izin.
"Nur, aku ingin meminta maaf sebanyak-banyaknya atas apa yang telah terjadi. Bukannya aku ingin membela diri. Bukankah aku pernah meminta izin denganmu, tapi tidak kamu izinkan. Sehingga aku terpaksa melakukan semua ini diam-diam," ucap Pak Abdul.
__ADS_1
"Coba kamu tanyakan pada semua wanita, apa ada yang rela di madu. Seharusnya kamu berpikir sebelum melakukan semua itu," ucap Bu Nur.
"Sekarang terserah kamu, Nur. Apa yang kamu inginkan. Jika memang mau berpisah, walau berat akan aku kabulkan. Tapi perlu kamu ingat, bukan aku yang menginginkan. Aku justru ingin kamu dan Rachel bisa saling menerima. Dua tahun aku nikahi, dia tidak pernah menuntut karena sadar dia yang kedua," ujar Pak Abdul.
"Dia itu pelakor. Tentu saja harus bersabar dan ikhlas menerima. Coba seandainya dia yang pertama, belum tentu bisa begini. Maaf, Yah. Beri aku waktu untuk berpikir," ucap Ibu Nur.
Dia bangun dari duduknya dan berjalan masuk ke kamar tamu. Di dalam kamar tangisnya pecah. Tidak percaya rumah tangga yang telah dibina puluhan tahun harus di guncang masalah sebesar ini.
...----------------...
Selamat Pagi semuanya. Happy weekend. Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel anak online mama di bawah ini. Terima kasih. Lope-lope sekebon jeruk. 😍😍😍
__ADS_1