HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 54. Ke Rumah Ayah


__ADS_3

Pagi ini Ghibran datang menemui ayahnya di rumah kediaman mereka. Pria itu bertemu dengan ibunya. Mereka tampak canggung. Sejak kejadian hari itu, keduanya tidak ada berkomunikasi.


Ghibran yakin jika ibunya tidak mengatakan apa-apa tentang perseteruan mereka berdua. Pasti sang ayah tidak mengetahuinya.


"Ada ayah, Bu?" tanya Ghibran dengan suara datar.


"Ada di ruang kerjanya," jawab Ibu dengan lembut.


Tanpa menoleh lagi, Ghibran berjalan. Namun, langkah kakinya terhenti saat mendengar ucapan sang ibu.


"Ibu minta maaf jika kamu marah dengan kejadian kemarin. Ibu tidak bermaksud membuat kamu tersinggung," ucap Ibu Nur.


Ghibran menarik napas berat. Dia membalikan tubuhnya menghadap ke ibunya.


"Kenapa harus minta maaf denganku, Bu? Bukan aku yang tersakiti, tapi istriku. Hingga aku hampir kehilangan calon bayiku," ucap Ghibran dengan nada penuh penekanan.

__ADS_1


Ibu Nur terkejut mendengar ucapan putranya. Apa yang terjadi sehingga Ghibran berkata begitu. Bukankah kemarin semua baik-baik saja, ucap Ibu Nur dalam hatinya. Dia berjalan mendekati sang putra. Mungkin takut obrolan mereka di dengar suaminya.


"Ibu tidak mengerti apa maksud kamu, Ghibran? Apa yang terjadi dengan Aisha?" tanya Ibu Nur.


"Apa Ibu sadar, jika ucapan dan tindakan ibu kemarin membuat Aisha tertekan. Dia sangat menghargai dan menghormati ibu sehingga memilih diam. Namun, batinnya tersiksa, sehingga sampai harus di rawat. Hampir saja aku dan Aisha kehilangan calon bayi kami," ujar Ghibran dengan suara yang tegas.


Ibu Nur sangat terkejut dengan apa yang Ghibran katakan. Dalam hatinya bertanya, apakah mungkin sebegitu parahnya akibat dari mulut mereka ke Aisha.Tanpa menunggu jawaban dari sang ibu, Ghibran melanjutkan langkah kakinya.


Diketuknya pintu ruang kerja sang ayah. Terdengar suara yang mempersilakan dia masuk. Ghibran melangkah dengan pasti setelah membuka pintu.


"Sepertinya ada sesuatu yang penting ingin kamu katakan! Wajahmu begitu tegang," ucap Pak Abdul.


"Kenapa memilih ke luar kota? Kenapa bukan di sini saja?" tanya Ayah Abdul dengan wajah penuh tanda tanya.


"Banyak alasan kenapa aku lebih memilih ke luar kota. Pertama, untuk menjaga kesehatan mental Aisha. Kedua, aku ingin hidup lebih damai dan tenang karena di sana suasananya masih segar," jawab Ghibran.

__ADS_1


Ayah tampak memandangi wajah putranya dengan dahi berkerut. Tidak tahu harus berkata apa. Melarang Ghibran itu tidak mungkin, dia telah dewasa dan memiliki keluarga sendiri.


"Apa yang terjadi?" tanya Ayah Abdul lagi.


"Aisha saat ini sedang di rawat di rumah sakit. Mungkin besok baru pulang. Dia mengalami depresi berat karena tidak tahan selalu diungkit kesalahan masa lalunya. Aku hampir kehilangan anakku karena ini. Aku tidak ingin terulang kedua kalinya. Aisha harus di rawat karena omongan mereka yang mengaku keluarga," ucap Ghibran.


Tampak ayah menarik napas dalam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Pria paruh baya itu tahu jika salah satu penyebab depresi Aisha adalah karena mulut sang istri. Sudah beberapa kali wanita itu membahas masa lalu Aisha, menantunya. Bukannya Ayah tidak menanggapi atau membiarkan saja. Sudah berulang kali dia menasehati dan sang istri sepertinya paham, tapi ternyata terulang lagi.


Dari awal Ghibran memilih Aisha dan mereka datang melamar wanita itu, istrinya memang kurang setuju. Alasan pertama karena Aisha bukan berasal dari kalangan berada.


"Semua terserah denganmu. Ayah hanya mendukung semua keputusan yang kau anggap baik. Itu keluarga kamu. Jadi apa pun yang akan kamu lakukan, tidak ada hak bagi ayah untuk melarang."


"Terima kasih, Yah. Seminggu lagi kami akan pindah. Semoga ini pilihan terbaik dan akan membuat keluarga kami lebih damai dan bahagia. Aku pamit dulu. Tidak bisa lama-lama meninggalkan Aisha," pamit Ghibran.


"Pergilah dulu. Ayah nanti menyusul ingin menjenguk Aisha," balas ayah.

__ADS_1


Ghibran keluar dari ruang kerja tanpa menoleh ke arah ibunya yang masih duduk di sofa ruang keluarga. Dia juga tidak pamit pada wanita itu. Ibu Nur tampak memandangi kepergian sang putra dengan wajah sendu. Tidak pernah Ghibran mengacuhkan dirinya seperti ini.


...----------------...


__ADS_2