
Ibu Nur dan Ghibran masuk ke ruang ICU, setelah diizinkan dokter. Mereka melihat mata ayah yang mulai terbuka. Keduanya berdiri di samping tempat tidur pria itu.
"Ayah, akhirnya kamu sadar!" ucap Ibu Nur. Dia menggenggam tangan sang suami.
"Bu, maafkan ayah ...," ucap Pak Abdul dengan terbata.
"Sudah, ayah. Ibu sudah maafkan semua kesalahan ayah. Sekarang ayah jangan banyak pikiran, biar cepat sembuh," balas Bu Nur dengan suara pelan.
"Bu, maafkan Rachel juga," ucap Ayah Abdul kembali.
"Iya, Yah. Aku sudah memaafkan semuanya," jawab Bu Nur.
"Ghibran, maafkan ayah dan Rachel, maaf jika ayah mengecewakan kamu." Pak Abdul masih saja terus bicara. Padahal Ibu Nur telah melarang.
"Ayah, aku yang seharusnya minta maaf. Sekarang ayah jangan banyak bicara dulu. Fokus pada kesehatan Ayah," kata Ghibran.
"Ayah bermimpi jika Rachel telah pergi. Dia telah pergi'kan? Bagaimana anak ayah, adikmu?" tanya Ayah Abdul lagi.
Ibu Nur dan Ghibran saling bertatapan. Bagaimana mungkin mereka mengatakan jika memang Rachel telah tiada. Takut itu akan membuat ayah tambah drop.
"Katakan saja. Apa yang terjadi dengan Rachel dan anak ayah?" tanya Ayah dengan suara terbata.
__ADS_1
Kembali Ibu Nur dan Ghibran saling pandang. Dalam pikirannya apakah mereka harus berbohong agar ayah tidak kuatir.
"Katakan saja yang jujur. Jangan bohong. Ayah melihat Rachel telah pergi, apakah itu benar? Bagaimana dengan anak ayah?" Kembali ayah bertanya.
"Anak ayah selamat. Putri kecil yang cantik," jawab Ghibran dengan suara pelan.
"Rachel ...." Masih pertanyaan yang sama ayah utarakan.
"Maaf Ayah, Rachel telah pergi mendahului kita semua," jawab Ghibran akhirnya.
Ayah terdiam dan memejamkan matanya. Napasnya tampak sangat memburu. Ayah meraih tangan Ibu Nur dan menggenggamnya. Wanita itu sudah tidak bisa menahan tangis. Dia melihat cinta pak Abdul untuk Rachel. Cinta yang sama saat mereka baru menikah dulu.
"Ghibran, Ibu, aku titip putriku. Beri dia nama Hana Kayla Maira. Tolong jaga dan sayangi dia. Ikhlaskan kepergian ayah, dan maafkan ayah yang tidak bisa menjadi ayah dan suami terbaik. Ma ... af ...."
Ayah mengucapkan kata maaf sebelum akhirnya menutup mata lagi. Dari layar monitor terlihat detak jantungnya tampak sangat lemah.
Ghibran langsung berlari keluar ruangan untuk memanggil dokter. Sementara Ibu Nur mengguncang pelan tubuh suaminya agar kembali membuka mata.
"Ayah bangun! Jangan tinggalkan ibu. Ibu rela jika ayah mencari pengganti ibu, asal masih bisa tetap bisa melihat ayah. ibu mohon, jangan tinggalkan Ibu, Yah. Jangan hukum ibu seberat ini. Ibu sudah memaafkan semua kesalahan ayah. Bangunlah, Yah," ucap Ibu Nur dengan derai air mata.
Ibu Nur masih terus mengguncang tubuh sang suami. Berharap jika pria yang telah menemaninya selama tiga puluh tahun pernikahan, menjadi sadar.
__ADS_1
Tiga puluh tahun pernikahan, ayah selalu bisa memahami dan menerima dirinya. Walau dia banyak kekurangan dan juga selalu saja cerewet, tapi pria itu tidak pernah marah besar. Paling dia hanya menasehati. Itulah yang membuat dia sangat keberatan saat mendengar suaminya mendua.
Ibu Nur cemburu, membayangkan istri mudanya Pak Abdul akan mendapat perlakuan yang lebih darinya. Sewaktu awal pernikahan, mereka tidak pernah terpisah. Dimana ada Ibu Nur pasti ada ayah Abdul. Kerja juga sang istri ikut.
"Ayah, aku mohon bangun!" ucap Bu Nur dengan suara lemah. Dia melihat ke layar monitor. Detak jantung ayah telah berhenti berdetak. Tubuhnya terasa lemah.
Dokter dan Ghibran masuk. Dokter lalu meminta Ibu Nur dan Ghibran keluar, dia dan perawat akan memeriksa keadaan Pak Abdul.
Dengan langkah gontai, Ibu Nur keluar dari ruangan. Ghibran memeluk tubuh ibunya yang lemah itu.
Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruangan. Ibu Nur dan Ghibran langsung berdiri menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Ibu Nur dengan suara yang sangat lemah.
"Bapak, Ibu ... maaf, kami sebagai manusia hanya bisa berusaha dan semua kehendak ada pada-Nya. Kami mohon maaf, karena tidak bisa menyelamatkan Bapak," ucap Dokter.
"Apa ayah saya telah pergi, Dok?" tanya Ghibran dengan suara yang lemah juga.
Dengan pelan dokter itu menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Dunia sekaan runtuh bagi Ibu Nur saat melihat jawaban dokter itu. Tubuhnya Ibu Nur makin terasa lemah dan akhirnya pingsan. Beruntung Ghibran cekat menyambutnya.
...----------------...
__ADS_1