HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 78. Makan Malam


__ADS_3

Siang harinya tanpa pamit dengan Pak Abdul, Ibu Nur meminta supir mengantarnya ke rumah Ghibran. Dia masih belum bertemu suaminya. Dengan berat hati dia pergi tanpa pamit.


Selama perjalanan Ibu Nur selalu meneteskan air mata. Dia tidak menyangka pernikahan yang telah berjalan hampir tiga puluh tahun ini diterpa masalah. Apa kurangnya dirinya? Tanya Bu Nur dalam hati. Jika karena dia mandul, tidak ada satu pun wanita di dunia yang menginginkan itu. Semua telah menjadi takdir yang kuasa.


Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang kau berikan pada hamba-Mu ini. Jika ini adalah penebus akan dosa yang pernah aku lakukan, aku rela dan ikhlas menjalaninya. Aturlah segala skenario terbaik dalam hidupku, aku hanya akan menjalani semuanya. Kuatkan aku dalam keadaan apapun. Sabar kan aku dengan proses apapun itu, dan ikhlaskan hatiku dalam hasil apapun dalam hidupku.


Jam empat sore, akhirnya Ibu Nur sampai di kediaman Ghibran. Dia langsung meminta supir kembali dan mengatakan pada suaminya jika dia akan menginap di rumah Ghibran.


Bu Nur mengetuk pintu rumah, tapi beberapa kali di ketuk tidak juga ada sahutan. Ketika ada tetangga yang kebetulan lewat. Dia bertanya ada Bu Nur.


"Ibu cari Pak Ghibran ya?" tanya tetangga itu.


"Iya, Bu. Apa mereka tidak di rumah, ya?" Bu Nur balik bertanya.


"Mereka pergi dari dua hari lalu. Tapi menurut anak saya temannya Syifa, hari ini mereka kembali. Besok harus sekolah," jawab sang tetangga itu.


"Baik, Bu. Terima kasih infonya," ucap Ibu Nur.


Tetangga itu kembali berjalan. Ibu Nur duduk di teras menunggu anak menantunya kembali. Hingga pukul enam, ketika adzan magrib berkumandang, barulah tampak mobil memasuki halaman rumah itu.


Aisha tampak terkejut melihat ibu mertuanya yang menunggu di teras. Begitu juga dengan Ghibran, apa lagi Ibu Nur tidak ada mengabarkan akan datang.

__ADS_1


"Mas, ibu itu. Apa sudah lama ya dia menunggu?" tanya Aisha kuatir. Walau sering di zalimi sama mertuanya itu, Aisha tidak ada rasa dendam. Marah mungkin tetap ada. Tapi tidak ada dendam. Namun, semua cepat hilang setelah Ghibran merayunya. Anggap saja Aisha terlalu bucin dengan sang suami, sehingga marahnya akan hilang jika pria itu membujuknya.


Aisha turun dari mobil dan menghampiri ibu mertua. Menyalami dan mencium tangannya.


"Ibu, sudah lama menunggu?" tanya Aisha masih dengan rasa kuatir nya.


"Hampir dua jam, Aisha," jawab Ibu Nur.


Ghibran turun dari mobil dengan menggendong Syifa. Putrinya tertidur dalam mobil. Setalah menyalami sang ibu, mereka semua masuk.


"Kenapa ibu tidak mengabari jika akan datang. Kami bisa pulang lebih cepat," ucap Aisha.


"Ibu tidak ingin mengganggu kalian. Biar kalian bisa berlibur dengan tenang. Lagi pula ibu juga tidak ada rencana akan ke sini. Setelah sampai di sini, baru tahu kalian tak di rumah," balas Ibu Nur.


"Maaf Sayang, aku solat dulu. Kamu dan Ibu telah solat?" tanya Ghibran. Kedua wanita itu menjawab dengan menganggukkan kepala.


"Kalau begitu aku solat dulu," ucap Ghibran.


"Aku masak buat makan malam," balas Aisha.


"Kita pesan saja. Kamu pasti capek," ujar Gibran sang suami.

__ADS_1


"Jangan pesan. Biar ibu saja yang masak. Ghibran benar, kamu pasti capek. Kamu duduk saja. Ibu ke dapur dulu," balas sang Ibu.


Ghibran langsung setuju dengan pendapat ibunya. Dia lalu solat. Aisha ikut ke dapur dan mengambilkan bahan untuk ibu memasak. Aisha ingin membantu tapi Ibu Nur melarang, sehingga wanita itu hanya duduk sambil membantu yang ringan saja, seperti merajang bawang atau sayuran.


Aisha memandangi ibu mertuanya dengan tatapan tanda tanya. Ibu Nur sangat berbeda hari ini.


"Ayah, ke luar kota ya, Bu?" tanya Aisha. Ibu tidak menjawab hanya air mata keluar dari sudut matanya. Hal itu membuat Aisha heran.


Dia tidak lagi bertanya. Aisha menyimpulkan pasti ada masalah antara ayah dan ibu setelah melihat reaksi sang mertua.


Satu jam semua masakan telah siap dihidangkan. Semua menyantap dengan lahap masakan ibu Nur. Setelah makan, seperti biasa mereka berkumpul di ruang televisi. Syifa duduk di lantai bermain boneka.


"Ayah tidak tau ya Ibu ke sini? Tadi ayah telepon menanyakan ibu," ucap Ghibran.


Aisha memandangi wajah sang ibu yang menunduk saat di tanya tentang ayah, seperti saat di dapur tadi.


"Ibu memang tidak mengatakan pada ayah jika ke sini. Ibu ingin menenangkan diri dan sedikit menjauh dari ayah beberapa hari ini. Apa boleh ibu menginap di sini hingga ibu siap bertemu ayah lagi?" tanya Ibu Nur.


"Sebenarnya ada masalah apa antara ibu dan ayah?" Bukannya menjawab pertanyaan sang ibu, Ghibran balik bertanya.


Ibu terdiam sesaat mendengar pertanyaan Ghibran. Air mata keluar dari sudut matanya.

__ADS_1


"Ayahmu mengkhianati ibu. Tenyata sudah dua tahun dia menikah siri dengan seorang wanita muda. Saat ini wanita itu sedang hamil dan mereka sedang menunggu kelahiran bayi itu," ucap ibu pelan, tapi mampu membuat Aisya dan Ghibran terkejut.


...----------------...


__ADS_2