HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
31.Pustaka Cinta Ainul Mardhiah


__ADS_3

Sejarah mencatat, manusia-manusia yang berpengaruh sejak zaman nabi Adam sampai dengan sekarang selalu meninggalkan jejak warisan yang berguna dan di kenang oleh generasi selanjutnya.Warisan itu bahkan menjadi fondasi yang turut membantu terbentuknya peradaban manusia pada hari ini dan masa depan.


Bisa dalam bentuk kisah kebaikan yang melegenda seperti kisah-kisah nabi yang terabadikan dalam Al-Qur'an. kisah nabi Muhamad dan para sahabat kala mendakwahkan Islam yang terabadikan dalam sirah. Karya-karyaa yang berpengaruh seperti karya-karya kitab atau buku yang di buat ulama. sastrawan dan cendekiawan yang masih di kenang, di baca, dibahas hingga sekarang.


Penemuan -penemuan di dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi oleh para ilmuwan dan inovator. Artevak atau benda-benda peninggalan. maupun bangunan yang memiliki nilai guna dan bersejarah tinggi.


Semua warisan itu terabadikan oleh waktu. selama bumi ini masih berputar pada porosnya,selama itu pula jejaknya akan di ingat dan memberikan nilai kebaikan bagi generasi selanjutnya, turun-temurun.


Pun, demikian di kampung hijrah. Ada tempat yang memiliki sejarah, yaitu sebuah rumah dengan perpustakaan di dalamnya. Rumah kayu dua lantai itu memiliki oleh seseorang yang ikut berjasa membangun kampung hijrah. Dia adalah sahabat Abah Iwan.


Kematian orang itu di kenang sebagai kematian yang agung. pertobatan orang itu di kenang sebagai pertobatan suci. menjadi cerita indah di kampung hijrah terutama bagi orang-orang yang baru bergabung sebagai santri. memberi harapan bagi setiap orang bahwa seburuk apa pun masa lalumu, nilai diri mu akan di tentukan dan di kenang di ujung perjalanan hidup mu.


"Rumah itu milik kang Umar. sekarang kosong tak berpenghuni," kata Bang Mirza kepada Satria, Angga, dan Demoy.


"Tetapi lantai dua rumah itu di buka untuk umum karena sejak awal oleh Khang Umar di fungsikan sebagai perpustakaan. Beberapa waktu ini, perpustakaan sempat di tutup karena pengurus yang biasa menjaga sering sakit-sakitan dan akhirnya mengundurkan diri. Namun, sekarang sudah di buka kembali. kami memutuskan bergantian menjaga perpustakaan sampai nanti ada yang tetap," tambah Bang Mirza.


Dan, hari ini, Satria penasaran ingin berkunjung ke perpustakaan yang di bangun oleh ayahnya senja tersebut. pagi sekitar pukul 08.00, saat cerah matahari mulai menyinari kampung Hijrah, Satria bergegas menuju perpustakaan yang kemaren di ceritakan Bang Mirza. Dua sahabatnya,Angga dan Demoy, sedang berolahraga lari pagi, mengintari perkebunan teh Rancabali.


Saat sampai di rumah dua lantai tersebut, melalui tangga di luar rumah, Satria langsung naik menuju perpustakaan. ketika sampai di depan pintu, terlihat plang tulisan yang terpasang di atasnya. Mata Satria terpaku membacanya.


Pustaka Cinta Ainul Mardhiah.


Ainul Mardhiah? kata satria dalam hati.

__ADS_1


Satria melihat ke dalam perpustakaan dari balik kaca jendela. tidak terlihat siapa pun di sana. Namun, pintu teryata tidak terkunci, dan Satria langsung bisa masuk kedalam.


Sekarang dia berada seorang diri di perpustakaan berukuran 10*12 meter tersebut. Bersama buku-buku yang rapi tersimpan dalam rak-rak kayu. Di atas tiap rak itu tertulis kategori buku dan kitab. Mulai dari buku dan kitab tentang tauhid, fikih, Nabi Muhammad, sejarah Islam, Nabel/sastra, tasawuf, dan buku-buku populer karangan ulama dan penulis terkenal, dari zaman dahulu sampai sekarang.


Perpustakaan itu memiliki jendela kaca-kaca jendela yang besar di setiap sudutnya sehingga pemandangan indah perbukitan, pengunungan, juga perkebunan teh Rancabali tampak terhampar menyejukkan mata.


Mata Satria yang menatap sekeliling perpustakaan hingga di satu sudut dinding sebelah kanan dirinya. Dia melihat sebuah tulisan dalam ukiran kayu yang terpasang. tulisan itu membuat dirinya merenung lama.


Perpustakaan ini di bangun dengan dan karena cinta, oleh seorang pendosa.


Di persembahkan untuk putri ku Senja Ainul Mardhiah, dan untuk para pendosa yang telah menemukan kembali jalan pulang.


Ketika satria melihat-lihat koleksi perpustakaan itu, terlihat satu rak kecil buka yang terletak paling ujung. Di atas rak itu tertulis: Buku Karya Kang Umar. Satria mendekat dan melihat empat buku yang berjudul: Jalan Pertobatan, Perjalanan hijraah, Jihat Melawan Hawa Nafsu,dan Merindu Khusnul Khotimah.


"Abah Iwan, maaf saya lancang masuk kedalam perpustakaan......."


Abah Iwan tersenyum kepada satria.


"Tidak mengapa. semua santri di perbolehkan masuk ke dalam perpustakaan ini."


"Iya, dari kemaren saya penasaran ,Abah. ingin datang kesini karena ......."


"Karena ini rumah ayahnya senja?" tukas Abah Iwan membuat satria gelagapan.

__ADS_1


"Karena saya ingin serius belajar, Abah. saya ingin tau seperti apa Kang Umar itu."


"Kamu lihat buku yang pegang, Nak?"


Satria kini menatap lekat buku-buku yang di pegang nya.


"Buku-buku itu peninggalan berharga. Warisan Kang Umar untuk semua masyarakat di kampung hijrah. juga, perpustakaan ini, adalah warisan berharga yang akan terus terjaga sepanjang kampung hijrah ada."


Satria kini memandang takjub sekeliling perpustakaan, dengan dua buku yang Mash di pegang penuh kekaguman.


"Buku-buku karya Kang Umar menjadi salah satu referensi utama kurikulum program di kampung hijrah. program 40 hari menyucikan dan membangun jiwa itu kami adaptasi dari bukunya Kang Umar. Juga, ada beberapa program lainnya yang terinspirasi dari buku-buku karya Kang Umar."


"Boleh saya pinjam buku-buku ini, Abah.?"


"Tentu saja boleh," jawab Abah sambil beranjak meninggalkan perpustakaan karena seorang pengurus memanggil beliau.


Satria tersenyum antusias. sebelum Abah pergi dia menanyakan sesuatu.


"Abah, apakah senja sudah tahu tentang perpustakaan ini?"


Abah Iwan menoleh ke arah Satria sambil tersenyum tipis.


"Belum, tapi tak lama lagi, dia akan tahu."

__ADS_1


__ADS_2