HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 46. Annisa dan Syifa


__ADS_3

Hari ini, Annisa memutuskan untuk pulang ke kampung. Ada dua alasan mengapa dia pergi. Pertama, mertuanya sakit dan membutuhkan bantuan. Kedua, dia ingin meminta maaf pada suaminya, Ikhbar, atas pertengkaran mereka yang terjadi beberapa hari yang lalu.


Annisa tiba di rumah mertuanya di desa dengan perasaan yang khawatir. Dia belum pernah bertengkar dan berpisah dengan Ikhbar sejak mereka menikah sekitar 2 tahun yang lalu. Namun, dia merasa ini adalah keputusan yang tepat untuk membuat semuanya menjadi baik lagi.


Annisa mendengar jika mertuanya telah kembali ke rumah di kampung. Itulah alasan kenapa dia langsung menuju ke rumah Ikhbar, suaminya.


Ketika tiba di rumah Ikhbar, Annisa merasa gugup dan tidak sabar untuk memulai pembicaraannya. Dia mengetuk pintu dan Ikhbar langsung membukanya.


"Annisa ... silakan masuk!" ucap Ikhbar.


"Terima kasih, Mas," balas Annisa.


Dia masuk dan duduk di sofa ruang tamu dengan perasaan canggung. Semenjak pergi dari rumah Ikhbar masih memberi kabar dengan istrinya itu meski pun sekedar menghubungi putri mereka Aqila.


"Aqila mana, Niss?" tanya Ikhbar. Dia telah rindu dengan putrinya


"Aku tinggal dengan Mama, Mas."


"Mas Ikhbar, maafkan aku. Aku baru bisa datang sekarang. Bagaimana kondisi ibu?" tanya Annisa dengan suara lembut.


"Ibu masih sakit, Annisa," jawab Ikhbar sambil menunjuk ke arah kamar ibunya.


"Aku datang untuk membantu Mas merawat Ibu. Dan juga, aku ingin minta maaf atas pertengkaran kita beberapa waktu yang lalu," kata Annisa dengan suara ragu.


"Iya, aku juga ingin minta maaf. Aku menyesal karena membuatmu merasa tidak dihargai olehku sebagai suami," ujar Ikhbar sambil meraih tangan Annisa.


Annisa tersenyum dan merangkul pundak Ikhbar. Mereka berdua berjalan ke ruang keluarga dan memulai pembicaraan mereka.


Kemarin Ikhbar telah memikirkan semuanya, walau Annisa tidak datang, dia tetap akan pulang. Memperbaiki hubungan mereka.


"Aku tahu aku bersikap egois dan melebih-lebihkan masalah. Aku tidak bermaksud membuatmu marah atau terluka," kata Ikhbar dengan jujur.

__ADS_1


"Aku pun tahu, Mas. Aku juga bersalah dan bersikap kurang sabar. Aku menyesalinya. Tidak seharusnya aku mengungkit masa lalu kamu lagi," ujar Annisa dengan suara lembut.


Mereka berdua terus berbicara dan mencoba untuk memahami satu sama lain. Mereka berbicara tentang perasaan mereka dan bagaimana mereka dapat memperbaiki hubungan mereka untuk masa depan.


"Maafkan aku, Annisa. Aku ingin selalu memperhatikanmu dan menjaga hubungan kita sebaik mungkin," kata Ikhbar sambil mengecup tangan Annisa.


"Maafkan aku juga, Mas Ikhbar. Aku sangat mencintaimu dan ingin kita selalu saling mendukung dan mencintai satu sama lain," kata Annisa sambil tersenyum.


"Aku minta padamu, jangan pernah mengungkit masa laluku lagi. Bukan hanya aku yang akan sakit hati, ada Aisha dan Mas Ghibran juga. Mereka berdua telah ikhlas. Kenapa harus di ungkit lagi," ucap Ikhbar.


"Iya, Mas aku janji tidak akan mengungkitnya lagi," balas Annisa.


Mereka berdua berpelukan mempererat cinta mereka yang mulai mencair. Setelah menyelesaikan pembicaraan mereka, Annisa izin masuk ke kamar ibu mertuanya.


Ibu mertuanya sedang tidur sehingga Annisa keluar lagi, dan menuju dapur. Dia mempersiapkan masakan untuk makan malam mereka. Ikhbar tadi mengatakan mereka hanya dua hari saja di kampung, kasihan dengan Aqila jika di tinggal lama.


**


Hari itu, Syifa baru pindah ke sekolah baru. Ia merasa sangat gugup dan sedikit takut menghadapi lingkungan baru. Namun, ia juga merasa senang dan antusias untuk bertemu teman-teman baru.


Ketika mencapai gerbang sekolah, mereka melihat banyak siswa dan siswi yang sibuk berjalan ke kelas dan beberapa orang tua melambai tangan kepada anaknya yang baru masuk sekolah.


"Kamu sudah siap, Syifa?" tanya Aisha.


Syifa menggigit bibirnya dan mengangguk. Ia ingin menunjukkan kepada orangtuanya bahwa ia cukup kuat untuk menghadapi hari pertama sekolah barunya.


"Kamu akan baik-baik saja, Nak. Kami berdua akan selalu mendukungmu," kata Ghibran sambil merangkul Syifa.


Mereka berjalan ke kantor sekolah untuk mendaftarkan Syifa ke kelas. Setelah mendaftar, mereka berjalan ke kelas Syifa dan bertemu dengan guru Syifa.


"Salam kenal, Bapak dan Ibu. Saya Juliet, guru kelas Syifa. Selamat datang di sekolah kami," kata guru kelas sambil tersenyum.

__ADS_1


"Salam kenal juga, Bu Juliet. Kami orang tua dari Syifa," jawab Aisha dengan ramah.


Juliet memperkenalkan Syifa ke beberapa siswa di kelas. Semua siswa sangat ramah dan tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang Syifa.


Syifa duduk di tempatnya dan segera merasa nyaman di kelas baru ini. Dia merasa seperti dirinya sudah menjadi bagian dari kelompok. Ketika jam pelajaran dimulai, ia dengan giat belajar dan mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh.


Setelah beberapa jam di kelas, saatnya untuk istirahat. Syifa dan beberapa siswi lainnya keluar dari kelas untuk bermain dan bersantai di halaman sekolah. Syifa bergabung dengan beberapa siswi dan mulai berbicara tentang hobi mereka.


"Saya suka menari dan masak," ucap Syifa dengan senang hati.


"Saya juga suka menari! Kapan-kapan kita bisa menari bersama, ya!" ucap salah satu siswi lainnya.


Mereka berbicara dan tertawa bersama-sama, sambil menikmati waktu istirahat mereka. Syifa merasa sangat bahagia dan senang telah menemukan teman-teman baru di sekolah barunya. Dia bahagia karena tidak ada yang mengejeknya anak panti dan tidak ada orang tua lagi. Semua temannya bisa menerima kehadirannya dengan tangan terbuka.


Setelah selesai istirahat, Syifa kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajarannya. Jam pelajaran berlalu dengan cepat dan saatnya untuk pulang.


"Bagaimana sekolah hari pertamamu, Syifa?" tanya Aisha saat berada di mobil.


"Iya, bagus. Saya bertemu banyak teman baru dan guru saya sangat baik, Mi," ucap Syifa.


"Banyak teman baru, ya? Mami dan Papi sangat senang mendengarnya," kata Ghibran sambil tersenyum.


"Mami, Papi, aku suka sekolah baruku. Aku nggak sabar untuk menunggu hari esok. Pengin sekolah terus," kata Syifa dengan antusias.


Aisha dan Ghibran tersenyum bahagia melihat putrinya begitu bersemangat untuk belajar.


"Kami senang mendengarnya, Sayang. Kami akan selalu mendukungmu," kata Aisha sambil memeluk Syifa dengan erat.


Bocah itu terus berbicara tentang pengalaman di sekolah barunya. Hari pertama sekolah yang awalnya penuh kekhawatiran dan ketidakpastian, berubah menjadi pengalaman yang menyenangkan dan membanggakan bagi Syifa.


...----------------...

__ADS_1


Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini .



__ADS_2