HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
22.terima kasih,mang Didin


__ADS_3

Karirnya di bank sudah cukup llama, hampir seusia putri pertamanya yang sudah 18 tahun. berbagai jabatan dari level bawah pernah dia emban sampai akhirnya dia menjadi senior HR Manager di bank konvensional di Jakarta. Namun, keputusan besar di ambilnya tahun ini. dia resing dan pindah kerja di bank syariah di Bandung, **** jabatan dan gaji yang di terimanya lebih rendah.


"Enggak apa-apa lebih kecil ya, Ma, Ayah takut riba," kata Mang Didin pada Bik Ratna istri kesayanganya.


"Iya enggak apa-apa Ayah. Mama selalu dukung, biyar lebih berkah dan tenang keluarga kita. apalagi pindahnya kebandung, bisa lebih dekat dengan Teh Sinta. Resti juga seneng banget kelihatannya bisa kuliyah di Bandung," kata bi Ratna.


"Iya, Alhamdulillah, kita jalani kehidupan baru kita di Bandung bersama teh Sinta. Bismillah ya, Ma."


Mang Didin teringat awal kepindahannya kebandung. sejauh ini dia merasa bersyukur. selain bisa berkerja di bank syariah di kota ini, dia bahagia bisa dekat dengan kakak dan keponakannya. teringat pesan dari ayahanda, pak Rahmad, sebelum meninggal dulu.


"Bapak titip Sinta dan Senja. sebagai anak lelaki, kamu harus bimbing dan jaga mereka berdua."


Selama ini karena jauh di Jakarta, Mang Didin merasa belum bisa melaksakan amanah tersebut. Tapi, sekarang karena dekat, semuanya menjadi lebih mudah. Allah yang memberikan kemudahan itu.


Teh Sinta telah berubah, begitu juga dengan senja. Mang Didin mendengar dari putrinya, Resti, kalau Senja udah mau sholat dan semangat mendengarkan kajian-kajian ilmu meski baru lewat YouTube. dan, itu semua membuat mang Didin terharu, bahkan menangis dalam doa setelah sholat.


"Terima kasih ya Allah, kau memberi cahaya hidayah dan kemudahan. tolong jaga keduanya ya rabb. arahkan terus wajah dan hati mereka pada kebenaran dan cahaya-mu."


"Ayah, lihatlah putri dan cucu kesayangan mu kini mulai berubah. Didin berjanji akan terus membimbing dan menjaga mereka berdua. melaksanakan amanah yang sudah ayah berikan."


Mang Didin mengingat masa lalu keluarganya, kepedihan-kepedihan yang di alaminya. dan, di Bandung dia ingin membangun puing-puing kepedihan itu menjadi bangunan yang indah. kehidupan baru yang indah.


Di ruang kantornya, mang Didin duduk terdiam. pandangannya lurus keluar jendela.


"Assalamu'alaikum, Pak Didin," sebuah suara membuyarkan lamunannya.


"Waalaikumsalamwarahmatullah," jawabnya.


"Hari ini kita ada wawancara, Pak. beberapa calon karyawan sudah hadir. mereka semua sudah lolos tes tertulis tahap pertama, Pak. Ini CV mereka," kata seorang setaf sambil menyerahkan lembaran print out CV kepada mang Didin.


"Baik. lima menit lagi Wawan cara kita mulai," kata mang Didin.


"Baik, Pak," kata staf tersebut.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Mang Didin mewawancara satu demi satu calon karyawan. hinga tersisa satu orang terakhir. calon karyawan itu telah duduk di kursi di depan meja mang Didin.


" Tolong perkenalkan diri anda? apa kesibukan anda saat ini?" tanya mang Didin sambil melihat-lihat CV lelaki berkulit putih dengan hidung mancung dan rambut ikal di hadapannya.


"Nama saya Fajar Lesmana, Pak. baru lulus dari IPB jurusan ekonomi syariah. dulu di kampus saya aktif di organisasi dakwa kampus, kesibukan saya saat ini setelah lulus kuliyah, saya sedang belajar Al-Qur'an di pondok Qur'an. dan, berharap bisa berkerja di perusahaan ini."


Mang Didin menatap fajar dengan serius. mereka teryata satu almamater.


"Kamu menghafal Alquran?"


"HMmm," Fajar tak menjawab. tapi, anggukan pelan setelah itu sudah cukup menjawab pertanyaan Mamang Didin.


"Sudah berapa juz kamu hafal?"


"Saya masih belajar, belum banyak yang saya hapal Pak," jawab Fajar.


Mang Didin tersenyum dengan jawaban fajar.


Terakhir mang Didin bertanya," berapa gaji yang kamu harapkan jika di terima nanti?"


"Saya masih fresh graduate, tapi saya siap berkerja keras dan profesional. untuk gaji saya serahkan pada kebijakan perusahaan. insyaallah saya mengikuti," jawab Fajar yakin. Mang Didin tersenyum puas dengan jawaban Fajar. dia seperti telah mendapatkan seseorang yang dia cari dan dibutuhkan untuk berkerja di perusahaan. apalagi, meskipun fresh graduate, orang di hadapannya ini lulus dengan predikat cum laude.


"terima kasih atas kehadirannya hari ini. nanti kalau di terima, kami akan kembali menghubungi anda," kata Mang Didin sambil berdiri dan mengajak fajar bersalaman.


Dalam hati, Fajar berharap bisa di terima berkeja di perusahaan ini.vdengan mengucap salam, Fajar melangkah keluar ruangan. tiba-tiba Mang Didin kembali memangil Fajar.


"Fajar."


Fajar menoleh.


"Iya, Pak?"


Mang Didin berdiri, lalu berjalan mendekati fajar.

__ADS_1


"Di CV, tertulis alamat tinggalmu di Ciapus, Bogor?"


"betul, Pak."


" Rumah kamu sebelah mana?"


Fajar sedikit terkejut dengan pertanyaan mang Didin.


"Say juga dulu tinggal di Ciapus," Mang Didin menjelaskan kenapa dia bertanya.


"Oh, begitu Pak. alhamdulillah, kita sama berarti. saya tinggal tak jauh dari TK Aisyah, Pak. sekitaran situ."


Mendengar jawaban Fajar, Mang Didin langsung tersenyum akrab.


"Ohhh, dekat TK aisyiah. dulu ponakan saya, Senja, juga pernah belajar gaji di sana. dia seumuran kamu."


deig. tiba-tiba ada getaran dalam hati Fajar saat Mang Didin mengucap nama itu. benarkah itu Senja yang di maksud?benarkah orang yang ada di depannya ini adalah paman Senja yang dulu pernah senja ceritakan?


"Senja? Senja Ainul Mardhiah?" kata Fajar.


Mendengar pertanyaan itu, wajah Mang Didin langsung semringah.


"Betul, itu keponakan saya. kamu kenal dia?"


"I-iya, Pak," Fajar hanya mampu menjawab singkat. padahal, dalam dadanya sekarang ini ada rasa bergemuruh. ingin sebenarnya dia mengatakan banyak hal. tetapi tetap dia simpan dalam hatinya karena malu.


" bukan hanya kenal, Pak, walah satu alasan kuat aku berada di sini, di kota ini sekarang, adalah untuk bertemu Senja. seseorang yang sangat berjasa dalam hidupku. seseorang yang teramat sering hadir dalam pikiran ku beberapa bulan ini. Sang pemilik juz amma yang masih ku simpan, kubawa ke mana pun aku pergi, Dan ingin ku kembalikan padanya sambil mengucapkan beribu kata terima kasih.";?


Hari itu mang Didin merasa sangat terkesan dengan sosok Fajar karena banyaknya kesamaan: satu kampung juga satu almamater. ditambah, Fajar adalah penghafal Al-Qur'an yang rendah hati. selama sesi wawancara pun sikapnya sangat baik, dan jawaban-jawaban yang di berikan terasa menyakinkan. Mang Didin merasa Fajar pantas diterima di perusahaan ini.


Sedang kan bagi Fajar, hari itu dia tak menyangka akan mendapatkan hadiah dari Allah. dia kebandung dengan tiga tujuan: belajar Al-Qur'an, berkerja, dan bertemu Senja. hari ini, Fajar merasa Allah hampir mengabulkan semua keinginannya dalam tempo sesingkat-singkatnya.


Petunjuk keberadaan Senja sudah ada di depan mata. ya Allah, aku inggin segera bertemu dengannya.

__ADS_1


__ADS_2