
"Sayang, maafkan ibu," ucap Ghibran.
Aisha yang sedang minum langsung menoleh pada suaminya. Dia kembali memberikan senyuman terbaiknya.
"Kenapa Mas yang harus minta maaf?" tanya Aisha. Dia memilih duduk di tepi ranjang.
"Tentu saja, Sayang. Bukankah Ibu, orang tuaku. Aku tahu kamu tersinggung dengan perkataannya sehingga memilih keluar," jawab Ghibran.
Aisha tersenyum. Meangkup kedua pipi sang suami lalu mengecup pipinya. Dia juga mencubit pelan hidung pria itu.
"Siapa yang tersinggung, Sayang. Aku keluar karena ingin memberi waktu buat kamu dan ibu bicara. Aku takut ibu tidak leluasa jika ada aku," ucap Aisha. Dia lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami dengan tangan memeluk tubuh pria itu.
"Bagiku, yang terpenting kamu, Mas. Selagi kamu percaya dan tetap ingin bersamaku, aku akan bertahan. Cobaan yang jauh lebih berat dari ini telah aku lewati. Ini belum seberapa bagiku. Lagi pula ibu berkata begitu karena dia begitu sayang dengan Annisa. Aku maklum, tapi jika kamu yang lebih membela dan menyayangi Annisa dari istrimu ini, baru aku cemburu," ucap Aisha lagi.
Ghibran mengusap punggung istrinya dan mengecup pucuk kepala sang istri. Pria itu juga mengecup pipi wanitanya. Dia sangat bersyukur memiliki istri seperti Aisha yang sangat pengertian.
"Sayang, kamu janji ya, jangan pernah tinggalkan aku lagi. Jika sekarang aku sakit karena kamu tinggalkan, mungkin besok-besok aku mati kalau ditinggalkan," balas Ghibran.
"Mas ngomong apa?"
Ketika mereka sedang bermesraan, terdengar suara pintu yang diketuk. Aisha langsung turun dari ranjang dan duduk di kursi. Tampak dokter dan perawat masuk.
Ghibran merasa sudah cukup lama di rumah sakit. Hari-hari yang dia lewati terasa sangat membosankan dan terikat. Meskipun dokter memberikan perawatan terbaik, Ghibran merasa bahwa dia bisa memberikan perawatan terbaik bagi dirinya sendiri dari rumah.
Dia berbicara dengan dokternya, meminta izin untuk pulang. Dokter mengatakan bahwa dia masih membutuhkan perawatan intensif dan bahwa waktu pemulihan masih ada seminggu lagi. Namun, Ghibran merasa sudah sangat bosan dengan lingkungan di rumah sakit dan ingin merasa lebih bebas. Walau baru dua hari di rumah sakit.
"Pak Ghibran, saya tidak yakin kamu sudah siap untuk pulang," kata dokter.
Namun, Ghibran bersikeras. "Saya merasa sudah cukup baik, Dok. Saya pasti akan merasa lebih baik lagi dengan perawatan di rumah saya sendiri."
__ADS_1
Dokter memikirkan permintaannya sejenak sebelum berbicara lagi. "Baiklah, Pak Ghibran. Saya akan memberikan izin untuk pulang, tapi dengan syarat bahwa Bapak beosk harus tetap pergi ke rumah sakit untuk perawatan jalan rutin."
Ghibran merasa senang karena permintaannya dikabulkan. "Terima kasih, Dokter."
Namun, sepertinya Aisha tidak setuju. "Tapi Mas, kamu masih harus mendapatkan perawatan intensif," kata Aisha.
"Pak Ghibran bisa merawat dirinya sendiri dengan baik, Bu Aisha," kata dokter. "Dia hanya perlu pergi ke rumah sakit untuk rawat jalan rutin."
Aisha agak ragu, tetapi dia tahu bahwa Ghibran sudah sangat bosan dengan kondisi di rumah sakit, jadi dia setuju.
Ghibran merasa sangat senang bisa pulang. Dia langsung meminta Aisha mengumpulkan barang-barangnya sebelum meninggalkan rumah sakit. Dia mengucapkan terima kasih pada dokter dan perawat sebelum meninggalkan.
Saat tiba di rumah, Ghibran merasa lega. Dia duduk di ruang tamu dan menikmati kebebasan untuk melakukan apa pun yang dia inginkan. Dia mengambil buku favoritnya, membaca beberapa halaman, dan kemudian tidur siang.
Beberapa jam kemudian, dia bangun dan meninggalkan rumah untuk melakukan perawatan rutin ke rumah sakit. Dia merasa sedikit tidak sabar, tetapi tahu bahwa perawatan itu sangat penting.
Tiba di rumah sakit, Ghibran bertemu dengan dokternya dan mengikuti prosedur perawatan. Ketika semuanya selesai, dia kembali ke rumah dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan Aisha.
"Tidak apa-apa, Mas Ghibran," kata Aisha. "Saya hanya ingin Mas merasa lebih baik, jadi saya mendukungmu."
Ghibran tersenyum dan memeluk Aisha. Dia merasa sangat beruntung memiliki istri yang memperhatikan kesehatannya dengan begitu baik. Dia berjanji bahwa dia akan lebih berhati-hati di masa depan untuk tidak membuat Aisha merasa khawatir.
Dengan perawatan yang baik dari rumah sakit dan perawatan pribadinya, Ghibran berhasil pulih sepenuhnya dalam waktu seminggu. Dia mulai melakukan rutinitas sehari-hari lagi dan merasa bahagia bisa hidup normal lagi.
**
Saat malam hari setelah makan malam, Ghibran mengajak Aisha bicara. Dia telah menundanya selama seminggu karena pemulihan dari sakit.
"Sayang, aku rasa ini sudah saatnya aku berkata jujur tentang Alya dan Syifa," ucap Ghibran pelan.
__ADS_1
Aisha tidak menjawab ucapan sang suami. Membiarkan pria itu bercerita. Ghibran menulis cerita dengan kisah cintanya dengan Ayla hingga lahirnya Syifa. Tidak ada lagi yang disembunyikan.
"Sayang, sumpah aku tidak bermaksud menyembunyikan ini. Tapi aku menunggu waktu yang tepat. Jika aku berkata jujur denganmu saat mau menikah, aku takut kamu mundur dan membatalkan pernikahan kita. Lagi pula, kita menikah kemarin dipercepat tanpa ada rencana," ucap Ghibran dengan pelan.
"Mas, aku tidak keberatan menerima kehadiran Syifa. Yang aku masalahkan kemarin itu ketidak jujuran kamu. Seharusnya kamu mengatakan semua saat aku mengatakan tentang masa laluku. Jika kamu bisa menerima diriku dengan lapang dada, kenapa aku mesti menolak kamu, Mas?"
Ghibran menarik napas berat. Dia tahu itu salah. Di peluknya pinggang sang istri agar duduknya lebih merapat.
"Maafkan aku, Sayang. Aku janji akan jujur apa pun itu denganmu," balas Ghibran.
"Mas aku juga ingin jujur denganmu. Saat aku pergi dari rumah, aku itu kabur ke kampung halamanku. Aku pergi ke rumah sakit untuk periksa kandungan. Di sana aku bertemu Ikhbar," ucap Aisha. Dia menghentikan ucapannnya. Memandangi wajah sang suami. Ingin tahu reaksinya.
"Ikhbar ...?" tanya Ghibran.
"Iya, Mas. Dia di sana sedang menunggu ibunya yang sakit. Tanpa izin dari Mas, aku menjenguk ibunya Ikhbar," balas Aisha dengan suara lembut.
"Aku tidak tahu jika ibu Ikhbar sakit. Lagi pula Annisa tidak pernah cerita. Kenapa dia tidak ikut suaminya pulang ke kampung?" tanya Ghibran.
"Maaf, Mas. Kata Ikhbar, dia dan Annisa sedang ada masalah. Makanya dia pergi sendiri," jawab Aisha.
"Ada masalah apa di antara mereka kita tidak usah ikut campur. Nanti biar kakak yang katakan tentang mertuanya yang sakit pada Annisa. Jika kamu yang mengatakan takutnya terjadi salah paham," ujar Ghibran.
"Iya, Mas. Itulah alasannya kenapa aku tidak mengatakan apa pun pada Annisa," balas Aisha.
"Sayang, apa besok kamu mau kalau aku ajak ke panti asuhan bertemu Syifa?" tanya Ghibran. Dia mengatakan dengan hati-hati, takut reaksi sang istri tidak sesuai harapan.
...----------------...
Selamat Siang. Sambil menunggu novel mama update, bisa mampir ke karya teman mama di bawah ini.
__ADS_1