HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 62. Ayah Abdul


__ADS_3

Ayah dan Ibu pamit setelah makan siang. Dia tidak mau kemalaman jika sampai di rumah. Syifa dengan manjanya berada dalam gendongan sang kakek.


"Kakek janji ya akan sering datang," ucap Syifa dan mencium pipi pria paruh baya itu.


"Iya, tapi kakek tidak bisa janji akan sering datang. Kakek sudah tua. Mulai tidak sanggup menyetir lama," balas Pak Abdul.


"Kakek bisa pakai supir. Kenapa harus bawa sendiri," jawab Syifa.


Pak Abdul mencubit hidung cucunya dengan pelan. Mencium kedua pipi gadis cilik itu dengan gemas.


"Pintar banget cucu kakek," jawab Abdul akhirnya.


"Yang dikatakan Syifa benar, Yah. Kalau ayah ke sini lagi, jangan menyetir sendiri. Pakai supir. Aku dan Mas Ghibran tidak tenang selama ayah diperjalanan," ucap Aisha.


"Iya, Nak. Ayah akan cari supir," balas Pak Abdul dengan tersenyum. Dia tampak sangat senang dengan menantunya itu. Ibu Nur hanya diam mendengar dengan wajah cemberut melihat suaminya bicara akrab dengan Syifa dan Aisha.


Ghibran dan Aisha mengantar hingga ke halaman rumah. Saat Pak Abdul mau masuk mobil, dia mengurungkan niatnya. Dia lalu mendekati istri dari putranya. Ibu Nur yang telah terlebih dahulu masuk memperhatikan sang suami dengan mata tanpa kedip.


"Aisha, sebagai suami, ayah minta maaf jika ibu sering mengucapkan kata yang menyakiti hatimu. Ayah harap kamu tetap sesabar ini menghadapi ibu. Jangan pernah lelah. Ayah meminta sebagai orang tua dari Ghibran, tetaplah berada di samping putra ayah. Jika dia salah katakan dengan ayah, biar ayah yang akan menegurnya. Terima kasih karena memilih Ghibran menjadi pendamping hidupmu," ucap Ayah Abdul.

__ADS_1


"Ayah, aku tidak marah mendengar ucapan ibu. Aku telah menganggapnya seperti ibuku sendiri. Jika dia memarahiku, biar saja. Bukankah seorang yang telah lanjut usia akan kembali bersikap seperti anak kecil. Mungkin saja nanti setelah tua, sikapku lebih dari ibu," balas Aisha.


Ghibran memeluk pinggang istrinya mendengar ucapan wanita itu. Dia merasa sangat beruntung memiliki istri seperti Aisha. Kepahitan hidup yang dia alami membuat sikapnya dewasa. Dia juga menjadi orang yang sangat sabar.


"Ini untuk kamu. Bisa buat pegangan saat melahirkan," ucap Ayah Abdul. Dia memberikan selembar cek.


Ghibran dan Aisha saling pandang. Mereka tidak menyangka ayah akan memberi cek.


"Tak usah Ayah. Mas Ghibran masih ada uang untuk persalinanku nantinya," ucap Aisha. Dia mengembalikan cek itu ke tangan mertuanya.


'Ayah tahu jika Ghibran mampu untuk membiayai kamu. Tapi ini ayah beri untuk kamu. Bisa dimasukan tabungan. Ingat Ghibran, ini uang istrimu. Bukan untukmu!"


"Terima kasih, Yah. Aku tidak tahu harus bicara apa. Hanya doa yang bisa aku panjatkan, semoga Allah selalu memberikan kebaikan dan keberkahan untuk Ayah," doa Aisha.


Ayah Abdul lalu masuk ke mobil. Dia meninggalkan rumah kediaman putranya dengan kecepatan sedang. Hingga mobil hilang dari pandangan barulah mereka masuk ke rumah.


"Mas, ini cek nya," ucap Aisha memberikan cek pada suaminya.


"Itu untuk kamu. Ayah sudah mengatakan itu tadi'kan?"

__ADS_1


"Ini jumlahnya besar, Mas. Apa Ayah tidak salah tulis," ujar Aisha saat melihat nominal yang tertera di lembaran cek itu.


"Itu rezeki kamu. Besok cairkan dan masuk ke tabungan kamu."


Aisha memeluk suaminya dan mengecup pipinya. Dia merasa sangat beruntung. Walau ibu mertua belum bisa menerima dia seutuhnya, tapi dengan cinta suami dan perhatian ayah mertua, Aisha yakin dapat menghadapi sikap Ibu Nur.


Di dalam mobil ibu yang penasaran dengan apa yang suaminya berikan, akhirnya bertanya.


"Ayah tadi memberikan apa untuk Aisha?" tanya Ibu Nur.


"Hanya secarik kertas," jawab Pak Abdul datar.


"Secarik kertas? Untuk apa? Ayah jangan bohong," ucap Ibu Nur. Dia berpikir, untuk apa suaminya memberikan secarik kertas.


"Bu, apa pun yang aku berikan pada Aisha itu tidak ada hubungan denganmu. Bukan hak kamu yang aku beri. Aku tetap memenuhi semua kebutuhan kamu. Jadi jangan kuatir. Satu yang perlu ibu ingat, jangan pernah lagi ikut campur dengan urusan keluarga Ghibran. Apa ibu tidak takut di benci? Kita sudah tua. Anak cuma satu Ghibran. Seharusnya kita berusaha menjalin hubungan yang baik. Siapa yang akan menjaga kita saat tua jika kita bersitegang terus dengan anak menantu?" tanya Ayah dengan suara penuh penekanan.


Ibu Nur terdiam, tidak bisa menjawab ucapan sang suami. Dia mengakui kebenaran apa yang Ayah Abdul katakan.


***

__ADS_1


__ADS_2