
Setelah aku bertobat.
Memandang-Mu dalam tangisku.
Menangis dan menyesal. Hanya itu yang bisa di lakukan Satria malam ini. Di tangannya ada buku karangan Kang Umar, Jalan Pertobatan. Salah satu bannya yang berjudul "Bertobat dari maksiat Zina" berhasil membuat sekujur tubuhnya merinding. Air mata penyesalan tak henti membasahi pipinya.
Duhai saudaraku, relakan Kam jika Ibumu dizinai? Relakah kamu jika adek perempuanmu dizinai? Relakah kamu jika bibimu dizinai?
Aku yakin hati kecilmu berkata tidak.
Maka demi Allah, aku takut dengan segala dosa-dosaku di masa lalu. Aku menyesali semua perbuatanku. Dan, aku berlindung dari semua kejahatan karena telah melakukan perbuatan yang buruk dan keji itu berkali-kali.
Aku membaca penjelasan Imam Syafi'i yang disampaikan oleh Ustadz Salim A. Fillah bahwa zina adalah utang. penjelasan itu membuatku sulit tidur. Dan, akan membuat seseorang berpikir jutaan kali untuk melakukan perbuatan buruk dan keji itu.
Dalam suatu kisah, seseorang datang dan bertanya kepada Imam Syafi'i, "Mengapa hukuman bagi para pezina sedemikian beratnya?"
Wajah Imam Syafi'i memerah. Pipinya merona delima. Lalu, beliau berkata, "Karena zina adalah dosa yang bala' ( besar resikonya ). Akibatnya akan mengenai keluarganya, tetangganya, keturunannya hingga tikus di rumahnya dan semut di liang sekitar rumahnya."
Orang itu kembali bertanya, " Mengapa pelaksanaan hukumannya dengan itu? Sebagaimana Allah berfirman, "Dan janganlah rasa ibamu kepada mereka menghalangimu menegakkan agama."
Imam Syafi'i terdiam, Lalu menangis. Setelah tangisnya berhenti, beliau berkata, "Sebab zina sering kali datang dari cinta dan cinta selalu membuat seseorang menjadi iba. Kemudian, setan datang untuk membuat kita lebih mengasihi manusia dari pada mencintai-Nya."
__ADS_1
Lalu, orang itu bertanya kembali, "Dan mengapa Allah berfirman, ' Dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka ( pezina ) disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman? Bukankah hukuman bagi pembunuh, orang murtad dan pencuri, Allah tidak mensyaratkan menjadikannya tontonan?"
Seketika janggut Imam Syafi'i basah, ia terguncang, lalu. beliau berkata, "Agar menjadi pelajaran," ucapannya sambil terisak.
"Agar menjadi pelajaran," beliau tersedu.
"Agar menjadi pelajaran," beliau kembali terisak.
Kemudian, ia bangkit dari duduknya dan matanya kembali menyala. Ia berkata, "Sebab ketahuilah oleh kalian bahwa sesungguhnya zina adalah utang. Dan, sungguh utang tetaplah utang. Salah seorang dalam nasab/katurunan pelakunya pasti harus membayarnya."
Itulah sebabnya aku takut. Takut kalau dosa zina yang kulakukan menimpa putriku. Aku menangis setiap malam bertobat kepada Allah. Mengiba dan berharap, jalan pertobatanku ini bisa menyelamatkan putriku dari dosa yang pernah kuperbuat.
Aku ingin menjadikan langkah hidupku sebagai wujud dari jalan pertobatanku. Seperti yang d ucapkan oleh Guru Mulia, Al-Allamah Sayyidi Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz Hafizhahullah, "Setiap orang yang berjalan menuju Allah, harus senantiasa dalam keadaan bertobat, demi mengagungkan Allah. Perjalananmu menuju Allah tidaklah sah selama engkau belum bertobat. Setiap langkah yang engkau ayunkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya merupakan salah satu perwujudan tobat."
Satria merenungi buku karya Kang Umar yang berkali-kali telah di bacanya itu dengan dada Bergetar. Air mata masih menetes membasahi pipinya. setelah itu, dia melaksanakan shalat malam di kamarnya. Menikmati hening hanya bersama-Nya. Mengadukan harap, doa, dan segala kegelisahan hati. Bermuhasabah atas semua episode kehidupan yang telah hadir dalam hidupnya.
"ya Allah, pantaskah ku kini menjadi hamba-Mu?
"Pantaskah aku bersujud di depan-Mu?
"Dengan lautan dosa yang kumiliki?
__ADS_1
"Ya Allah, dulu malam-malamku adalah maksiat. Dulu cerita hidupku adalah menjauh dari jalan taat. Dulu aku selalu menantang-Mu. Mengikuti langkah hanya karena Hawa Nafsu. Dulu aku adalah pengikut jalan kesesatan iblis dan setan laknatullah. Namun, aku menyesal ya Rabb. Aku menyesali semuanya. Aku kembali ya Allah. Aku ingin kembali ke jalan-Mu. Ingin sekali kepada cinta-Mu. Terima tobatku ya Allah....... Terima aku kembali di jalan-Mu."
Lalu, dalam lirih doa pertobatannya, Satria mengingat sebuah nama. Seseorang yang telah menjadi jalannya mengenal Kampung hijrah sehingga bisa meniti jalan hijrah dan pertobatan di sana. Seseorang yang dia anggap sangat berjasa dalam hidupnya.
Senja.... bagaimana keadaanmu sekarang?
Ya Allah, hamba mohon jangan dia. Lindungilah dia selalu dalam kuasa-mu, dalam cinta-mu. dan, mohon pertemuan aku kembali dengan dia, meski hanya sekali. agar aku bisa menyampaikan rasa terima kasih dan permohonan maaf ku kepadanya.
Ada kehangatan dan rasa yang tumbuh dalam hati Satria saat mengucapkan doa-doa untuk Senja. Doa, memang senjata utama orang mukmin, juga senjata orang-orang yang di Landa rindu mendalam.
Pagi yang cerah di rumah Satria, selesai shalat subuh dia joging keliling kompleks perumahan, saat kembali, Mama sudah membuatkan teh manis untuknya
"Asyik, nih. makasih ya, Ma," katanya dan dibalas senyum oleh Mama.
"Oh, iya, Ma, Satria boleh kembali ke kampung hijrah besok? Enggak enak kalau izinnya terlalu lama. Enggak apa-apa, kan?" Tanya Satria sambil minum teh manis buatan Mama. Satria merasa sudah harus kembali ke kampung hijrah. Ada banyak program pendidikan yang masih harus dia ikuti.
"Iya, enggak apa-apa. Mama sudah sudah ambil cuti kerja seminggu ke depan, jadi bisa jaga adikmu," jawab Mama.
"Alhamdulillah..... thanks ya, Ma," kata Satria.
Satria lalu berjanji akan lebih sering memberi kabar kalau sudah berada di kampung hijrah. Juga akan sering menelepon adiknya untuk memberikan motivasi.
__ADS_1
Satria lalu menuju kamarnya, meninggalkan Mama yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan. sampai di kamar dia langsung merebahkan badannya di kasur dan menyalakan TV menonton channel berita. Terlihat ada breaking news di sana. Sebuah peristiwa menghebohkan terjadi di Bandung. Malam tadi ada penggerebekan terduga ******* di indikos jalan Taman sari. Ditemukan bahan-bahan membuat bom di sana. saat ini pasukan khusus anti-teror kepolisian sedang menyisir kota Bandung mencari beberapa terduga ******* yang berhasil melarikan diri.