HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 70. Mamanya Ikhbar


__ADS_3

Ghibran dan Aisha beserta anaknya Syifa, mendatangi rumah sakit. Mereka akan pamit pulang ke kediaman mereka.


"Annisa aku pamit pulang. Aku tak bisa lama-lama di sini. Aisha juga sedang hamil, tak baik sering ke rumah sakit. Pembayaran hingga hari ini telah aku lunasi. Hanya tersisa rawat inap hingga Ikhbar sembuh," ucap Ghibran.


"Terima kasih, Kak. Aku tidak tahu harus melakukan apa, kecuali doa terbaik untukmu yang bisa aku panjatkan," balas Annisa.


"Doa yang kamu panjatkan secara ikhlas dan tulus, itu jauh lebih dari segalanya," ucap Ghibran.


"Terima kasih, Mas Ghibran. Semoga Allah memberikan keberkahan buat keluarga, Mas. Nanti setelah sembuh akan aku ganti," balas Ikhbar.


"Kamu jangan bicara begitu. Aku ikhlas memberikan itu. Uang kamu bisa buat kebutuhan sehari-hari karena aku tidak mungkin bisa membantu sepenuhnya," jawab Ghibran.


"Tapi kamu jangan lupa tetap membantu Annisa buat kebutuhannya. Ikhbar pasti tidak bisa dakwah. Mengandalkan uang dari orang tuanya itu tidak mungkin," jawab Ibu Nur.


"Jangan takut Ibu Nur, aku masih ada penghasilan dari perusahaan milik suamiku. Bisa buat memenuhi kebutuhan hidup mereka," ucap Mamanya Ikhbar.


Entah sejak kapan wanita itu ada di sini. Dia berjalan dengan bantuan tongkat penyangga. Mungkin efek dari struk yang dialami. Suara yang dia keluarkan saja kurang jelas.


Ibu Nur terdiam mendengar ucapan dari mertua Annisa itu. Dia tidak mengira wanita itu ada di tengah mereka.

__ADS_1


"Maaf Bu, jangan salah paham dulu. Maksud saya, tidak mungkin Annisa mengharapkan uang dari mertua saja. Kami sebagai keluarga tentu saja harus membantu," jawab Ibu Nur.


Ghibran menarik napas berat. Ibunya selalu saja membuat orang salah paham. Dia hanya diam saat ada ayahnya. Tapi diakui Ghibran jika sebenarnya sang ibu sangat baik dan perhatian padanya juga ayah. Semua ucapan ayah selalu diikuti.


Aisha berjalan mendekati mamanya Ikhbar. Membantu dia berjalan menuju sebuah kursi di dekat ranjang. Setelah itu Aisha menyalami dan mencium tangan wanita paruh baya itu. Tanpa Aisha sadari semua mata memandang ke arah dirinya.


"Terima kasih Nak Aisha. Sudah berapa bulan kandunganmu?" tanya mama Ikhbar dengan mengelus perut buncit wanita itu.


"Sudah masuk lima bulan, Bu," jawab Aisha dengan suara lembut.


"Semoga kamu dan calon bayi sehat sampai hari persalinan," balas mama Ikhbar dengan tangan yang masih terus mengelus perut Aisha.


Dulu saat keluarga Annisa datang melamar putranya, dia langsung menjawab setuju karena melihat latar keluarga mereka yang baik. Tidak ada tercemar. Mamanya Ikhbar berharap dengan menikahkan putranya segera, itu bisa menjauhi pria itu dari Aisha.


Namun, dia baru menyadari jika putranya sangat mencintai Aisha. Terbukti sejak pernikahan mereka, Ikhbar lebih banyak diam. Selain berdakwah, waktunya banyak dihabiskan di ruang kerja. Dengan anak dan istri saja dia berkumpul sewajarnya.


Di rumah sakit kemarin, dia melihat masih banyak cinta putranya untuk Aisah. Walau hanya bertemu dan berbicara sesaat, wajah Ikhbar begitu tampak bahagia. Dia yakin di hati anaknya masih tersimpan rapi nama Aisha. Tapi sebagai pria yang tahu agama, pasti Ikhbar berusaha melupakan cintanya. Buktinya selama pernikahan dia selalu bertanggung jawab dan bersikap baik dengan sang istri.


"Mana suami kamu, Nak?" tanya Mamanya Ikhbar. Dia ingin tahu pria mana yang bisa menaklukkan hati wanita itu.

__ADS_1


"Ibu, itu suamiku Mas Ghibran," ucap Aisha menunjuk pada sang suami.


Ghibran mendekati ibunya Ikhbar. Dia beberapa kali telah bertemu dengan wanita itu saat berkumpul dengan keluarga.


"Jadi Nak Ghibran ini suami kamu? Berarti saat ini kalian sudah menjadi keluarga besar. Ibu pikir kamu datang hanya sekedar melihat Ikhbar. Ternyata karena ada hubungan keluarga juga," ucap mamanya Ikhbar.


Ibu Nur dan Annisa tampak sedikit cemberut melihat keakraban Aisha dan mamanya Ikhbar.


"Jaga istrimu baik-baik. Dia wanita hebat. Kamu belum tentu akan mendapatkan wanita seperti dia lagi jika melepaskannya," ucap mama Ikhbar.


"Tenang, Bu. Aisha tidak bisa pergi dan lari dariku. Aku telah mengikatnya erat, dengan cinta dan kasih sayangku," balas Ghibran.


Mereka berbicara sebentar sebelum akhirnya pamit. Kembali mama Ikhbar memeluk Aisha erat dan menitikkan air mata saat wanita itu pamit pergi.


"Hati-hati di jalan. Jaga kesehatan. Semoga kalian diberi keberkahan dan keluarga kalian selalu bahagia," doa mama Ikhbar.


Ghibran dan Aisha menyalami Ibu Nur. Wanita itu tidak ada bicara sepatah kata pun saat mereka pamit. Sepertinya ada yang mengganjal di hatinya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2