
Pagi ini Ghibran sudah mulai masuk kerja lagi. Dia akan mengadakan rapat dengan orang kepercayaannya untuk memberikan kekuasaan pada mereka. Pria itu hanya datang dua kali dalam seminggu karena jarak yang harus dia tempuh hingga enam jam perjalanan.
Aisha di rumah akan ditemani putri mereka Syifa. Gadis cilik itu tidak bersekolah lagi karena akan pindah ke tempat yang baru. Awalnya sang bocah keberatan karena dia baru saja merasa nyaman di sekolah baru ini dan harus pindah lagi.
Aisha duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi. Sedangkan putrinya asyik bermain dengan bonekanya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu apartemen diketuk. Aisha yang mau berdiri membukakan pintu, di larang sang putri.
"Biar aku aja yang buka pintunya, Mi," ucap Syifa. Bocah itu berlari menuju pintu dan membukanya. Di balik pintu tampak berdiri Ibu Nur, Annisa dan putrinya Aqila.
Syifa terdiam melihat kedatangan mereka. Dia berdiri terpaku dan tidak mempersilakan mereka masuk. Hingga suara Ibu Nur memecahkan kesunyian.
"Apa nenek boleh masuk?" tanya Ibu Nur.
"Silakan, Nek!" ucap Syifa gugup.
Ibu Nur melangkah masuk diikuti Annisa yang menggendong putrinya. Dengan setengah berlari Syifa mendekati mami-nya. Memeluk erat seolah dia takut sang nenek akan melukai perasaan sang mami.
"Mami, ada nenek," bisik Syifa.
__ADS_1
Aisha menoleh ke belakang dan melihat ibu mertuanya dengan Annisa serta Aqila di gendongan wanita itu. Wanita itu berdiri dan menyalami tangan sang mertua serta menciumnya.
"Silakan duduk, Bu!" ucap Aisha mempersilakan sang mertua untuk duduk.
Annisa lalu menyalami tangan Aisha. Membawa Aqila duduk dipangkuan nya. Takut dengan kejadian di rumah oma-nya Aqila terulang lagi, Syifa segera sembunyikan boneka kesayangannya. Beberapa dibiarkan di lantai. Mungkin baginya itu boleh di pinjam selain yang disembunyikan di kamar.
"Maaf aku pamit dulu. Mau buatkan minum," ucap Aisha pelan. Dia memang masih belum pulih benar. Syifa langsung berlari mencegah maminya.
"Mami duduk aja. Kata Papi, mami tak boleh kerja. Masih sakit," ucap bocah itu. Dia menarik tangan sang mami agar duduk kembali di sofa.
"Sayang, mami cuma buat air untuk nenek dan Tante," ujar Aisha mencoba menjelaskan.
Aisha terpaksa menurut dengan apa yang diminta sang bocah. Dia lalu tersenyum dengan mertua dan adik iparnya. Wanita itu belum tahu jika ibunya Ghibran itu hanyalah ibu sambung.
Syifa kembali dari dapur dengan membawa dua botol air mineral. Setelah meletakkan itu, dia kembali ke dapur mengambil cemilan.
"Maaf, Bu. Hanya air mineral saja," ucap Aisha merasa tidak enak hati.
"Tak apa, Mbak. Kalau mau aku bisa buat sendiri. Lagi pula betul yang dilakukan Syifa. Katanya Mbak baru sembuh," ucap Annisa.
__ADS_1
"Aisha, maaf kalau ibu tidak sempat menjenguk kamu di rumah sakit. Ibu dan Annisa serta keluarga yang lain, tidak tahu jika kamu di rawat," ucap Ibu.
"Tidak apa, Bu. Aku juga tidak boleh dikunjungi karena dokter meminta istirahat," balas Aisha.
Ibu tampak menarik napas berat. Tidak tahu harus memulai obrolan dari mana. Dia datang tanpa suaminya tahu.
"Begini Aisha, dua hari yang lalu sebenarnya Ghibran ke rumah. Dia mengatakan kamu sakit. Yang membuat ibu kaget itu, Ghibran mengatakan jika kamu sakit karena depresi memikirkan ucapan ibu. Apa boleh ibu tahu, ucapan ibu yang mana yang membuat kamu marah dan tersinggung hingga menjadi pikiran dan depresi?" tanya Ibu Nur.
Aisha tersenyum menanggapi ucapan sang mertua. Apa yang harus dia katakan? Ucapan yang mana? Dia juga tidak tahu lagi ucapan yang mana membuat depresi karena sebenarnya semua yang Ibu Nur katakan sangat membekas di hati dan membuat terluka.
"Aku juga tidak tahu ucapan ibu yang mana yang paling membuat aku terluka dan sakit hati. Tapi aku sudah memaafkan dan mengikhlaskan semua. Saat kita memaafkan orang lain, berarti kita telah memulihkan hati dua orang sekaligus. Hati dia yang berbuat salah, dan hatimu yang ikhlas menerima," ucap Aisha.
"Mbak Aisha baik banget, pantas Kak Ghibran sangat mencintaimu," ujar Annisa.
"Memaafkan, kadang-kadang bukan karena kita terlalu baik tetapi kerana hati tak mampu lagi diisi dengan kebencian. Hidup terlalu singkat untuk diisi dengan benci dan buruk sangka sesama kita. Memaafkan adalah proses membangun kekuatan. Maafkanlah orang yang telah melukaimu, jadilah kepribadian yang kuat dan penyayang," balas Aisha.
Ibu Nur dan Annisa terdiam. Tidak tahu harus bicara apa lagi. Dia berpikir tadi Aisha pasti akan mengatakan sesuatu dan akan marah padanya, nyatanya sambutan sang menantu masih baik.
Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukan kamu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat jelek biarlah ia yang menanggungnya." -(HR Abu Daud).
__ADS_1
...----------------...