HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
44. Cinta tanah Air


__ADS_3

" Indonesia adalah negeri yang diberkahi. Mereka dengan perjuangan darah para syuhada dan ulama. Dengan pekikan takbir menggema. Itulah mengapa sila pertama Pancasila berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. itu pula mengapa dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 dikatakan, kita merdeka berkat Rahmat karunia Allah yang Mahakuasa. . . . ."


Begitu tausiah Abah Iwan bakda subuh ini. Semua santri mendengarkan dengan Khidmat.


"Oleh sebab itu, di bulan Agustus ini, Kampung Hijrah akan merayakan 17 Agustus dengan membuat lomba antar santri seperti tahun-tahun sebelumnya. Salah satu lomba utamanya adalah memanah dan berkuda. Abah minta pengurus dan santri menghiyas kampung hijrah dengan bendera-bendera merah putih di setiap sudut rumah dan asrama. kita semarakkan bulan kemerdekaan ini."


Abah Iwan menyampaikan rencananya dengan penuh semangat. Namun, seseorang mengungkapkan keengganannya.


"Haruskah kita melaksanakan ini, Abah?" tanya Abu Zaid.


"Kenapa tidak?" jawab Abah Iwan singkat.

__ADS_1


"Bukankah Negara kesatuan Republika Indonesia itu thagut, Abah? Darul kufr? Mengapa kita harus hormat dan tunduk kepadanya?" tanya Abu Zaid lagi. Para santri terdengar gaduh dan saling berbisik satu sama lain.


Abah Iwan mengangkat tangannya, meminta untuk tenang. Seketika suasana kembali tenang. Beliau berusaha menahan diri.


"Izinkan Abah meluruskan pikiranmu, Nak. Indonesian itu bukan Darul kufr. Bukan negara kafir atau thagut. Bukan pula negara Islam, darul harbi, atau negara perang. NKRI adalah darul ahdi, atau bisa dianggap negara kesepakatan. . . .," jelas Abah, senyuman masih terlihat di wajahnya.


Kemudian, Abah melanjutkan, "Kita bukan yang pertama menerapkan ini. Nabi Muhammad pernah membuat kesepakatan bersama yang dinamakan Piagam Madinah. Ini merupakan kesempatan hukum yang harus dipatuhi oleh seluruh pemeluk agama di Madinah. Nabi juga mengatakan, siap yang membunuh non-Muslim yang ada perjanjian dengannya, dia tak akan mencium bau surga."


Semua santri masih memperhatikan, termasuk Abu Zaid. sorot matanya tidak nyaman dengan jawaban Abah Iwan.


Abah Iwan terlihat bersemangat. Dari matanya semua santri tahu, betapa dia mencintai negeri Indonesia yang sangat beragam, dan mengharapkan kedamaian selalu terjadi di bumi Indonesia.

__ADS_1


"Jadi, kita harus syukuri kenikmatan, kedamaian, dan kemerdekaan di negeri ini. kita juga harus ikut membangun negeri dengan karya-karya nyata. Sehingga, Indonesia menjadi negeri yang semakin Allah berkahi. Dan, kita semua bisa berlindung dari fitrah akhir zaman. Akan ada saatnya kita berperang, tapi itu bukan melawan saudara sendiri, melainkan melawan Dajjal dan pasukannya. Itu musuh nyata kita nanti. Fase saat ini, kita fokus berdakwah, membentengi diri dan keluarga dengan imam, dari fitrah Dajjal dan akhir zaman."


Abah Iwan kembali mengingatkan semua santri. Abu Zaid terlihat tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Persiapkan diri kalian untuk lomba-lomba yang akan diadakan. Bersainglah dengan fair dan penuh semangat . . . ," ujarnya menutup tausiahnya.


Para santri menyambut baik pesan Abah Iwan. Tak terkecuali Satria, Angga,dan Demoy. ketiganya sangat antusias mengikuti lomba-lomba, khususnya memanah dan berkuda.


Pada hari perlombaan, suasana kampung hijrah sangat semarak. Bendera merah putih terpasang di setiap sudut. para santri yang kompak mengenakan kaos berwarna putih bergerak menuju lapangan. Mereka bergembira merayakan lomba-lomba tujuh belas.


Mendadak Demoy sakit perut sehingga harus kembali ke toilet di kamar asramanya. Ketika selesai, dia bergegas menuju lapangan melewati beberapa kamar. saat melewati kamar Abu Zaid, dia melihat pintu kamar terbuka sebagian. Demoy melihat beberapa orang asing yang tak dia kenal berada di sana. Baru saja dia hendak memperhatikan, pintu langsung di tutup rapat.

__ADS_1


Siapa, ya, mereka? setahu Demoy, memasukan orang asing sangat di larang di Kampung Hijrah. Kalaupun ada santri baru, pasti akan diperkenalkan ke santri-santri lain. Apalagi sekarang. Bukanya semua santri diwajibkan mengikuti lomba?


Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala Demoy. Namun, sesampainya di lapangan, suasana sangat ramai dan Demoy segera berbaur dengan yang lain. Peristiwa yang tadi diia lihat terlupa begitu saja


__ADS_2