
Saat itu, Ikhbar duduk berhadapan dengan sang Mama di ruang tamu rumah mereka. Tatapannya kosong, penuh dengan kesedihan yang mendalam. Di matanya, terpancar keputusasaan dan rasa hampa yang begitu dalam.
"Sungguh Mama, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Segalanya terasa hancur, hidupku seperti telah berakhir," ucap Ikhbar dengan suara tercekat.
Mama meraih tangan Ikhbar, mencoba memberikan sedikit kekuatan dalam kata-kata yang akan diucapkannya, "Nak, aku tahu bahwa semuanya terasa sangat berat bagimu saat ini. Tapi, janganlah kau biarkan dirimu tenggelam dalam keputusasaan. Kita harus mencari jalan keluar bersama."
Ikhbar menghela nafas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosinya. "Mama, bagaimana mungkin aku menemukan jalan keluar? Aku cacat dan impoten. Annisa telah menyatakan akan menggugat cerai. Bagaimana bisa aku hidup tanpa dia?"
Mama menatap Ikhbar dengan penuh sayang dan kasih, "Anakku, kamu tidak sendiri. Kita punya banyak orang yang peduli dan akan mendukungmu. Kita harus berusaha bersama-sama untuk mengatasi permasalahan ini."
Ikhbar menangis pelan, "Tapi, Mama, bagaimana aku bisa menerima diriku yang seperti ini? Aku adalah seorang pria, seharusnya kuat dan bisa memberikan kebahagiaan pada istriku. Tapi sekarang, aku tak bisa melakukannya lagi."
Mama menjawab dengan lembut, "Hidup bukan hanya tentang fisik semata, Nak. Kadangkala, ketahanan dan keberanian adalah hal yang lebih berharga. Kau adalah seorang pria hebat yang tak hanya ditentukan oleh kemampuan memenuhi kebutuhan biologis saja. Seharusnya kau berterima kasih. Karena Allah telah menunjukan siapa sebenarnya Annisa itu! Jika dia memang tetap kekeuh menginginkan perceraian, mungkin sampai di sinilah pertemuan kalian."
Ikhbar mengangguk, mencoba memahami kata-kata Mama. "Tapi Mama, aku belum tahu bagaimana cara menciptakan kebahagiaan di dalam pernikahan tanpa kehadiran itu."
Mama tersenyum, "Percayalah, cinta sejati bukanlah sekadar tentang sek*s. Annisa mencintaimu bukan hanya karena itu. Ada begitu banyak hal yang kamu lakukan bersamanya, kenangan indah yang telah kamu bagi. Fokuslah pada itu."
__ADS_1
Ikhbar mengangguk pelan, mencoba menerima nasihat Mama. "Tapi Mama, bagaimana jika Annisa tetap ingin bercerai? Apa yang harus aku lakukan?"
Mama menatap Ikhbar dengan tajam, "Jika Annisa memang sudah memutuskan untuk bercerai, maka itu merupakan pilihan yang tak bisa kamu ubah. Namun, itu bukan berarti hidupmu berakhir. Kita harus belajar menerima dan mencari kebahagiaan dari hal-hal lain."
Ikhbar memalingkan wajahnya, air mata kembali menjalar, "Aku merasa begitu rendah diri, Mama. Seakan hidupku tidak ada artinya lagi."
Mama menjawab dengan tegas, "Jangan pernah lagi bilang seperti itu, Nak. Kamu adalah manusia berharga, tak ada yang bisa merampas nilai hidupmu, kecuali dirimu sendiri. Kau punya kemampuan untuk mengubah hidupmu menjadi lebih baik."
Ikhbar mengusap air matanya, berusaha untuk percaya pada kata-kata Mama. "Mama, apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana aku bisa berubah? Apakah aku bisa sembuh?"
Mama tersenyum lembut, "Pertama, belajarlah menerima dirimu apa adanya. Kekurangan yang kamu miliki bukanlah halangan untuk mencapai kebahagiaan. Kedua, carilah dukungan dari keluarga dan teman-temanmu. Mereka akan membantumu melalui masa sulit ini. Dan yang terakhir, jangan menyerah. Kehidupan memberikan banyak peluang untukmu."
Mama meraih tangan Ikhbar lagi, memberikan kehangatan kasih sayangnya. "Kamu tidak sendiri, Nak. Aku akan selalu ada untukmu. Bersama-sama, kita akan melewati ini. Mama akan mengusahakan pengobatan apa pun untuk kesembuhan kamu."
Dalam sebuah momen keheningan, Ikhbar merasa sedikit lega. Meski masih terombang-ambing dalam keputusasaan, ia merasakan adanya titik terang kecil yang muncul di hatinya. Ikhbar tahu bahwa jalan ke depan tidak akan mudah, namun ia bersumpah akan melakukannya dengan lebih baik.
Jika memang Annisa tetap menggugat cerai, dia tidak akan menahannya. Hanya satu yang dia inginkan, istrinya tidak menghalangi saat dia ingin bertemu Aqila.
__ADS_1
***
Di rumah kediaman Ghibran, mereka sedang menonton televisi bersama. Berbeda dengan Ghibran yang sedang bersedih, keluarga kecil ini sedang berbahagia.
"Apa benar, Pi? Kita akan liburan besok?" tanya Syifa tak percaya saat sang Papi mengatakan jika akhir pekan ini mereka akan pergi liburan bersama.
Ghibran mengajak anak dan istrinya liburan sebelum perut sang istri makin membuncit. Dia ingin memberikan rasa nyaman pada istri dan anaknya.
"Iya, Sayang. Emang Papi pernah bohong?" tanya Ghibran.
"Horeeee, besok liburan. Terima kasih, Pi." Syifa langsung mengecup kedua pipi papinya. Aisha tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu.
"Sekarang Syifa tidur lagi. Biar besok bisa bangun pagi dan tubuh kamu bisa segar saat pergi besok," ucap Aisha.
"Siap, Mi!" jawab Syifa.
Gadis cilik itu pamit dengan mengecup pipi Papi dan Maminya. Dia sangat bersemangat untuk liburan besok.
__ADS_1
...----------------...