
Setelah makan siang, Ghibran melanjutkan perjalanan. Anak dan istrinya duduk dibelakang, karena Syifa ingin tidur di paha Aisha. Gadis ciliknya itu tidak ingin melepas pelukannya walau semenit.
Jam empat sore akhirnya mobil Ghibran memasuki pekarangan rumah orang tuanya. Aisha dan Syifa turun dari mobil setelah Ghibran membukakan pintu mobilnya.
"Ini rumah nenek, Pi?" tanya Syifa dengan wajah takjub. Rumah dengan pekarangan yang luas dan juga bangunan yang begitu megah. Dia memandangi rumah tanpa kedip.
Di tangan Syifa ada boneka pemberian Aisha. Dia membeli tadi saat mereka mampir ke supermarket. Wanita itu membeli buah tangan yang cukup banyak untuk ayah dan ibu mertuanya.
Setelah mengucapkan salam, dan bibi yang bekerja mempersilakan masuk, barulah mereka bertiga melangkahkan kaki memasuki rumah.
Ibu dan Annisa beserta anaknya Aqila sedang menonton di ruang keluarga. Aisha menyalami dan mencium tangan mertuanya diikuti Syifa. Pandangan mata Bu Nur tak bergeming dari bocah cilik itu.
Setelah itu Ghibran melakukan hal yang sama dengan Aisha lakukan. Pria itu mengajak anak dan istrinya duduk.
Dengan manja Syifa memeluk Aisha, hal itu makin membuat ibu dan Annisa memandangi keduanya tanpa kedip. Kedua ibu dan anak itu tampak sangat akrab.
__ADS_1
"Bu, ini Syifa, anakku," ucap Ghibran memperkenalkan bocah cilik itu.
Syifa tersenyum dengan Ibu Nur. Namun, wanita itu tidak membalasnya. Dia tampak sangat terkejut mendengar ucapan sang anak. Semua diruangan itu terdiam membisu. Larut dalam pikiran masing-masing.
"Anakmu atau anak Aisha?" tanya ibu memecahkan kesunyian. Semua yang ada langsung menoleh ke ibu. Terkejut mendengar pertanyaan wanita paruh baya itu.
"Apa maksud ucapan Ibu?" tanya Ghibran tak mengerti.
"Kenapa kamu jadi telat mikir begini. Apa kurang jelas ucapan ibu. Syifa anak kamu atau anaknya Aisha yang kamu akui sebagai anak. Semua juga dapat melihat kemiripan antara ibu dan anak itu," ucap Ibu Nur.
Aisha tampak terkejut dengan ucapan ibu mertuanya. Kenapa wanita itu jadi berpikir jika Syifa putrinya? Apa mereka begitu mirip? Pikir Aisha. Dia lalu memandangi wajah sang bocah.
Ghibran sengaja mengatakan kebohongan karena ingin melindungi sang istri. Dia sengaja mengakui itu putrinya agar Ibu Nur mau menerimanya. Pikir Annisa dalam hatinya.
"Astagfirullah, Bu. Apakah ibu sadar dengan ucapan Ibu. Itu sama saja ibu menuduh jika aku dan Aisah telah berbohong. Syifa darah dagingku. Kenapa ibu jadi berpikir itu anaknya Aisha?" tanya Ghibran dengan penuh penekanan.
"Ibu hanya bertanya. Setiap orang melihat pasti akan mengatakan jika mereka berdua sangat mirip. Seperti ibu dan anak kandung. Menurut kamu, apakah mereka mirip, Annisa?" tanya Ibu Nur dengan Annisa sang ponakan.
__ADS_1
Annisa hanya menjawab dengan anggukan kepala. Aisha kembali tampak menarik napas berat. Dia harus bisa menahan emosi. Saat ini hubungannya dengan mertua sedang di uji. Dia di beri suami baik dan perhatian, tapi di beri ujian dengan mertua. Ujian ini belum seberapa dengan yang pernah dia alami, dia harus bisa melewatinya.
"Ibu, Annisa, sejak saat ini Syifa memang telah menjadi putriku. Aku menyayanginya walau baru bertemu. Mungkin itu yang membuat wajah kami terlihat mirip," balas Aisha dengan suara lembut.
"Aisha banar, Bu. Mungkin karena keikhlasannya menerima Syifa, menjadikan wajah mereka mirip," ucap Ghibran.
"Jika memang anak kamu, ya sudah. Jangan diperpanjang. Ibu hanya bertanya. Jika pertanyaan ibu salah, dan istri kamu menjadi tersinggung, Ibu minta maaf," ucap Ibu Nur.
"Aku tidak marah dan tersinggung. Justru aku senang jika memang wajah kami mirip. Dia memang putriku mulai hari ini dan selamanya," jawab Aisha. Dia makin mempererat pelukannya pada tubuh Syifa. Bocah itu juga memeluk Aisha dengan erat.
"Aku sudah mengenalkan putriku. Semoga Ibu bisa menerima kehadirannya. Oh ya, Annisa, apa kamu sudah tahu jika mertuamu sakit?" tanya Ghibran.
Annisa cukup terkejut mendengar berita itu. Sejak kepergiannya dari rumah, Ikhbar hanya menghubungi untuk menanyakan kabar putrinya. Tidak ada bicara lain-lain termasuk tentang ibunya.
"Dari mana Kak Ghibran tahu?" tanya Annisa.
"Dari Ikhbar. Sebaiknya kamu menyusul ke kampung. Dia masih di rawat di rumah sakit," ucap Ghibran.
__ADS_1
"Dari Mas Ikhbar, sejak kapan Kak Ghibran dan Mas Ikhbar dekat dan saling menghubungi?" tanya Annisa dengan wajah penuh selidik.
...----------------...