HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
32.Kala Senja Bertemu Fajar


__ADS_3

Senja, besok siang kekantor Mamang, ya. seseorang sepesial ingin bertemu dengan mu. kamu pasti tak menyangka. mamang gak bisa cerita sekarang. yang jelas, kamu harus datang.


Senja membaca pesan Mang Didin dengan dahi berkerut. Dia penasaran, siapa yang ingin bertemu dengannya besok? Setahu Senja, tak ada tema di kantor Mang Didin yang dia kenal. Senja pun selama ini belum pernah berkunjung ke kantor Mang Didin.


Di kamarnya, Senja baru saja menonton Vidio proyek cinta positif berjudul "Halaqah Cinta." Dia terpukau dengan kata-kata dan lirik di dalamnya.


"Tuhan, pertemukan aku dengan kekasih pilihan. seseorang yang mencintai-Mu, mencintai Rasul-Mu, di Multazam kumeminta.


"Tuhan, persatukan aku dengan kekasih pilihan, seseorang yang'kan menemani ku menuju surga-mu.


"Halaqah Cinta, tempat hati bertemu.


"Halaqah Cinta, tempat hati bersatu,"


Lirik itu kini menjadi doa dan pengharapan dalam hati senja. Entah mengapa, sejak mengikuti Majelis Teladan Cinta beberapa waktu lalu,dia mulai memikirkan tentang cinta, jodoh, dan juga pernikahan secara serius. Malam ini. ketika berpikir tentang itu semua, tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan. pertanyaan yang menumbuhkan harapan sekaligus ketakutan dalam dirinya.


Apakah perempuan dengan masa lalu buruk sepertiku pantas mendapatkan jodoh yang saleh dari Allah? Seseorang yang mencintai Allah dan rasul-nya?


Tampa senja tahu, pertanyaan itu akan segara terjawab. Radar hati yang aktif akan dibimbing oleh-nya menemukan jawaban.


Di sudut kamar lain. Fajar sedang menahan perasaan yang sulit di mengerti. beberapa menit sebelumnya dia sudah membaca Alquran, tetapi gundah dala hatinya terus membesar. semua rasa, bahagia, takut, juga perasaan bercampur menjadi satu.


Fajar bahagia karena penantiannya untuk bertemu perempuan yang berjasa dalam hidup nya,sahabat masa kecilnya, Sang pemilik juz amma yang selalu dia bawa kemana pun, Akan berakhir esok hari. Dia bisa mengembalikan juz amma sambil mengucapkan terima kasih. hanya itu yang ingin dia lakukan ketika bertemu senja nanti.


Akan tetapi, Fajar takut senja tak mengingatnya karena sudah puluhan tahun tak bertemu.Takut kehadirannya mengangu.Takut seandainya senja malah tidak nyaman bertemu dirinya.


Fajar juga sangat penasaran. Seperti apa Senja sekarang? Apakah dia selucu Daan seimut dahulu ketika berusia 6 tahun?Apakah dia memakai kerudung seperti dahulu dia selalu mengenakan kerudung mungil penuh warna ketika datang ke tempat pengajian?


Pertanyaan itu berkecamuk dalam hati dan pikirannya. Dua hari yang lalu, dia bercerita kepada Mang Didin tentang sahabat nya dengan Senja. Juga, keinginannya mengembalikan barang Senja yang dulu dia pinjam. Dia bersyukur Mang Didin mau memfasilitasi pertemuan dengan senja esok hari di kantor.


Waktu bergerak pelan,malam semakin larut, Fajar menatap keluar jendela dengan perasaan mengharu biru.Terlihat bulan penuh bercahaya menerangi malam. Seolah menemani dirinya yang masih sulit terpejam. Wajahnya tersenyum penuh syukur. Dalam hatinya terucap doa penuh pengharapan.


YA ALLAH, Enkau pertemukan dan perkenalkan aku dengannya dulu, itu adalah skenario-Mu. lewat juz amma yang di pinjamkan nya, aku bisa menghafal surat cinta dari-mu hingga sekarang, itu adalah skanerio-mu. lewat motivasi darinya untuk menghafal surat Adhu-Dhuha, aku terinspirasi mengejar mimpi demi impian, itu adalah skanerio-mu. Dan besok, aku bisa bisa bertemu kembali dengan dia pun, itu adalah skanerio dari-mu. Apa pun yang tejadi besok dan setelahnya, tetapkan aku dalam lindungan dan karunia-mu."


Hari yang di nantikan tiba. Fajar berangkat kekantor dengan perasaan berbeda.Tak lupa sebelum berangkat dia melaksanakan sholat Dhuha, lalu, tepat sebelum berangkat. dia kembali memandang pantulan dirinya di cermin. penampilanya terlihat menawan. selama ini,dia sangat jarang memperhatikan penampilannya. padahal, dia cukup rupawan. sekilas mirip aktor Indonesia, Dude Harlino, putih dan karismatik.

__ADS_1


Seumur hidup, tak pernah sekalipun berhubungan dengan wanita. meskipun ketika kuliyah dahulu, banyak akhwat yang tertarik dan mengidolakan, dia tak pernah menanggapi. Hanya senja satu-satunya perempuan yang pernah singah dalam hatinya. Ini pun bukan karena cinta, melainkan karena rasa terima kasih yang begitu besar kepadanya.


Jadi, bagi Fajar, pertemuan dengan senja hari ini adalah pertemuan yang sangat penting. sebuah pertemuan yang sudah lama dia nanti-nanti kan.


Detik berganti menit, waktu terus berjalan, matahari semakin tinggi, terasa hangat menyinari bumi. Sinarnya masuk ke jendela kamar senja yang sedang bersiap-siap.


Ya,di dalam kamarnya, senja tengah bersiap pergi ke kantor Mang Didin, sebuah Bank Syariah terkemuka di Bandung.penampilanya hari ini sangat cantik dan sopan. Ia menggunakan Tunik selutut di padu celana wide leg trouser, membuat nya terlihat trendy dan fashionable. meskipun belum berjilbab, senja sudah memutuskan berpakaian sopan ke mana pun dia pergi. Dia tidak mau mengenakan celana pendek lagi. Juga, tidak mau mengenakan busana yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.


"Aku akan berproses untuk terus berubah, berhijrah, seiring tumbuhnya ilmu, kadar kesadaran, dan ketaatanku," kata Senja kepada kedua sahabatnya hijraahnya, Resti dan Yulia tempo hari.


Rambut bergelombangnya kini masih panjang, membuat dirinya terlihat sangat anggun ketika berjalan.


Senja menatap cermin dan melihat semuanya sudah siap.Tiga puluhmenit sebelum zhuhur, dia berangkat menuju kantor Mang Didin dengan taksi. dalam hatinya masih tersimpan rasa penasaran.


Siapa orang spesial, seperti kata Mang Didin, yang ingin bertemu dengan ku hari ini?


Senja sampai di kantor Mang Didin pukul 12.00 siang lewat beberapa menit. matahari semakin terik, senja bergegas mencari Musala kantor untuk shalat zhuhur. setelah shalat, Dia membaca pesan dari mang Didin untuk langsung ke ruangannya kalau sudah samapi. setelah bertanya ke satpam, dia diarahkan ke ruangan Mang Didin di lantai 2.


Tepat di depan ruangan Mang Didin, senja mengetuk pintu sambil mengucap salam. tak lama kemudian pintu terbuka.mang Didin yang membuka pintu langsung tersenyum dan mengajak Senja masuk.


Perlahan Senja berjalan menuju sofa diruang mang Didin, tempat seorang lelaki sudah duduk di sana.


Senja menatap Fajar penuh tanya siapakah lelaki ini?


Sementara itu, Fajar menatap Senja dengan gemuruh perasaan tiba-tiba membesar di dada. Sesuatu yang tidak dia mengerti. Hanya beberapa detik mereka saling menatap, dan Fajar langsung tertunduk malu. Wajah putih nya bersemu merah. Dalam hatinya mengucap istighfar.


Mang Didin yang melihat keduanya kebingungan hanya tertawa dan mempersilahkan mereka kembali duduk.


"Coba tebak, Senja. kamu kenal dia siapa?" tanya Mang Didin sambil tersenyum kepada Senja.


Senja menggeleng, lalu berkata, "Tidak tahu, Mang...."


"Coba kamu ingat-ingat. Anak muda ganteng dan saleh ini temanmu dulu, lho. Sekarang dia kerja disini bareng Mamang." Mang Didin mencoba memberi petunjuk.


Senja menatap Fajar yang semakin grogi.

__ADS_1


"Beneran tidak ingat, Mang. Maaf, memangnya Akang siap?" tanya Senja langsung.


Mendengar pertanyaan Senja, Fajar semakin deg-degan. Tarikan napasnya semakin tak teratur. Sambil mengucapkan basmalah. Dia mencoba mengendalikan diri. Mang Didin memberikan kode kepada Fajar untuk menjawab dan menjelaskan.


"Maafkan saya, Senja, karena mengajak bertemu hari ini,"kata Fajar mengawali cerita.


Kemudian, dia mengambil juz amma yang sejak tadi dia simpan di samping tempat duduknya dan menyerahkannya kepada Senja.


"Saya mengembalikan juz amma ini......"


Juz amma itu diletakkannya di atas meja. Senja langsung mengambil juZ amma lusuh yang di sampaikan bertuliskan Senja Ainul Mardhiah itu.


Senja terkejut. sambil memang juz amma, pikirannya kembali ke masa lalu.


"Kamu......"senja menatap Fajar dengan jari telunjuk terangkat.


"Saya Fajar, Senja. Di Yatim Miskin."


Senja terdiam. Ingatan masa lalu bersama Fajar kembali muncul dalam kepingan memori dan episode yang masih mampu dia ingat.


"Ya Allah, jadi kamu, Fajar," kata senja.


Ada yang berbeda dalam hatinya saat dia tahu bahwa lelaki di hadapannya adalah Fajar, sahabat masa kecilnya.


Sementara itu, Fajar terlihat mulai bisa mengendalikan diri.


"Iya. Saya ingin mengucapkan beribu terima kasih kepada senja untuk semua kebaikan di masa lalu. untuk juZ amma yang sudah senja pinjamkan kepada saya dulu.waktu itu......ingat, enggak? Ketika di kelas,saya tak bisa membaca surah Adh-dhuha. sepulang pengajian, senja dengan baik hati meminjamkan juz amma," kata Fajar sambil tersenyum.


"Dari menghafal juz amma yang di pinjam dari Senja, kini Fajar sudah menjadi penghafal Alquran, lho. masyaallah.....", Mang Didin ikut menimbrung.


Fajar menunduk mendengar perkataan Mang Didin sementara Senja masih tak menyangka. Bahkan, juZ amma yang dia pinjamkan itu sebenarnya dia sudah lupa.


Betapa luar biasa Allah membuat skenario ini terjadi.


"Iya, sama-sama. Senja juga ingin berterima kasih karena Kang Fajar pernah membela senja dulu. katena Kang Fajar sudah menjadi sahabat yang baik," balas senja sambil mengingat satu peristiwa di masa lalu yang membekas dalam dirinya.

__ADS_1


Ketiga nya lalu mengobrol sambil makan siang. sebuah penantian yang lama bagi fajar berakhir sudah. sebuah awal cerita bagi keduanya sedang di mulai.


Maaf kak.,baru bisa nulis lagi, karna kemaren aku sakit..maaf ya kak.,.,


__ADS_2