HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 42. Membawa Syifa


__ADS_3

Syifa memeluk erat Bunda Yeyet dan mencium wajah wanita paruh baya itu berulang kali. Air mata jatuh membasahi pipi chubby nya.


"Aku pasti merindukan, Bunda," ucap Syifa dengan terbata karena menangis.


Aisha juga tak dapat membendung air matanya. Wanita itu dapat merasakan ikatan antara Syifa dan Bunda Yeyet. Dari lahir, dia di asuh dan dibesarkan kepala yayasan itu.


"Bunda juga pasti akan merindukan kamu, Nak. Ingat pesan Bunda, jangan nakal. Dengarkan apa yang Papi dan Mami kamu katakan," nasihat Bunda Yeyet.


"Iya, Bunda," jawab bocah cilik itu.


"Bunda, aku tidak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikan yang telah Bunda lakukan untuk Syifa. Hanya ucapan terima kasih saja yang bisa aku katakan. Semoga semua kebaikan Bunda di balas Allah," ucap Ghibran.


"Bunda, terima kasih untuk semuanya." Aisha hanya dapat mengatakan itu.


Setelah menyalami semua teman-temannya di panti asuhan, Syifa masuk ke mobil. Dia terus melambaikan tangan hingga gedung panti asuhan itu hilang dari pandangan.


Tujuan pertama mereka sebelum pulang adalah kuburannya Alya. Ghibran juga ingin pamit pada wanita itu. Tadi dia telah menanyakan Aisha, apakah dia setuju. Dan istrinya itu menyetujui.

__ADS_1


Setengah jam perjalanan, sampailah mereka di tempat pemakaman umum. Ghibran menggendong tubuh mungil putrinya.


"Kita pamit sama Mami Alya. Katakan kalau Syifa akan tinggal dengan Papi dan Mami Aisha," ucap Ghibran.


"Baik, Pi," balas Aisha.


Sampai di salah satu kuburan, langkah kaki Ghibran berhenti. Dia berlutut di samping kuburan itu. Aisha duduk di bangku yang sengaja di buat dengan semen.


"Alya, aku izin bawa anak kita. Aku dan istriku Aisha akan menjaganya dengan baik. Kamu tenang di sana. Maaf, mungkin aku tidak bisa sesering dulu lagi datang. Tapi aku janji akan tetap mengunjungi kamu bersama Syifa dan Aisha. Maaf, maaf dan maaf atas semua yang pernah aku lakukan padamu. Hingga kamu menutup mata, aku tidak pernah tahu jika kamu berjuang selama hamil demi kelahiran putri kita. Terima kasih atas hadiah indah ini. Selamat jalan Alya," ucap Ghibran.


"Mami, aku mau ikut papi dan mami Aisha. Aku senang banget. Akhirnya aku ada mami. Seperti temanku di sekolah. Mami aku cantik banget. Aku juga akan punya adik. Aku nanti akan ke sini juga sekalian mau lihat Bunda Yeyet. Papi janji akan ke sini jika aku rindu. Kata Papi, Mami yang telah melahirkan aku, tapi aku nanti akan di sayang dan dijaga mami Aisha. Aku sayang kalian berdua," ucap Syifa dengan suara khas anak kecil.


"Alya, aku tidak pernah bertemu kamu atau melihat fotomu. Tapi dengan melihat Syifa, aku tahu kamu wanita yang cantik. Aku mohon izin, ikhlaskan aku menjaga putri kamu dan Ghibran. Aku janji akan menjaganya dengan penuh cinta. Semoga kamu tenang di sana. Aku minta izin untuk menggantikan tempatmu, aku ingin memiliki cinta Mas Ghibran. Tapi jangan kuatir, aku yakin kamu tetap memiliki tempat tersendiri di dalam hatinya," gumam Aisha dalam hatinya.


Setelah itu, Ghibran membaca doa untuk mantan kekasihnya itu. Cukup lama berdoa, akhirnya mereka meninggalkan pemakaman itu.


"Sayang, kita menginap saja satu malam ini. Aku tak mau kamu kecapean, takut berpengaruh dengan kandunganmu," ucap Ghibran.

__ADS_1


"Terserah Mas saja," jawab Aisha.


Ghibran lalu mengendarai mobil menuju salah satu hotel. Syifa selalu saja bertanya apa yang baru saja dia lihat.


Setelah sampai di hotel dan masuk ke kamar, Syifa begitu girangnya. Dia pikir itu rumah yang akan ditempati.



"Ini rumahku, Mami. Cantik banget. Aku suka," ucap Syifa dengan riangnya.


"Bukan, Sayang. Ini hanya hotel. Tempat kita menginap satu malam sebelum pulang ke rumah besok," jawab Aisha dengan lembut.


Ghibran tersenyum bahagia melihat keakraban keduanya. Dia menyesal, tidak jujur dari awal.


"Jika saja aku jujur dari awal tentang keberadaan Syifa, pasti anakku telah lama merasakan kebahagiaan ini. Dia begitu menginginkan berkumpul dengan keluarga. Tinggal bagaimana aku mendekatkan Syifa dengan ayah dan ibu saja. Semoga kedua orang tuaku juga bisa menerima kehadiran putriku seperti istriku. Aisha, sang bidadari surgaku," ucap Ghibran dalam hatinya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2