
Sementara itu di rumahnya, Satria baru saja selesai berkemas dan akan berangkat ke kampung Hijrah. Setelah berpamitan kepada adik dan mamanya, dia langsung menggeber motornya, berharap bisa sampai sebelum Maghrib. Betapa dia sangat rindu kampung Hijrah. Rindu mendengarkan tausiah Abah Iwan. Rindu belajar memanah dan berkuda. Rindu shalat malam bersama, bermuhasabah dan menangis karena Allah.Rindu belajar mengaji bersama Angga, Demoy, dan Bang Mirza. Dia juga sangat merindukan Perpustakaan Ainul Mardhiah. salah satu tempat favorit untuk menghabiskan waktu dan belajar di kampung Hijrah.
Senja sangat bersyukur bisa datang ke kampung Hijrah hari ini. berziarah ke makamnya, melihat langsung rumahnya. Dan hatinya, semua kebencian kepada Ayah yang dahulu pernah dia rasakan telah benar-benar menghilang. Berganti kekaguman yang muncul begitu saja. Seperti pelangi indah yang muncul setelah hujan reda.
Setelah puas melihat rumah ayahnya, Senja diajak naik ke perpustakaan.
"Ini adalah perpustakaan peninggalan Kang Umar. Kamu akan suka perpustakaan ini," kata Abah Iwan.
Di depan perpustakaan, Senja mematung beberapa saat. Dibacanya plang di pintu.
"Pustaka Cinta Ainul Mardhiah."
Membacanya membuat Senja sangat terharu.Ternyata Ayah benar-benar mencintaiku. Bahkan, nama perpustakaan pun dinamainya dengan namaku ... .., Kata Senja dalam hati.
Setelah itu, Senja masuk bersama Abah Iwan. Waktu menunjukan pukul 16.45. sekitar 15 menit lagi, perpustakaan akan tutup. Beberapa santri langsung keluar perpustakaan ketika Abah Iwan dan Senja masuk.
Mata Senja terpukau melihat perpustakaan milik ayahnya. Buku-buku berjejer rapi di rak kayu. Kaca-kaca besar dengan pemandangan perkebunan teh, perbukitan dan pegunungan adalah keindahan yang hanya bisa ditemukan di negeri dongeng. Tiba-tiba dia merasakan kesejukan, kedamaian, dan kenyamanan dalam hatinya. Apalagi ketika matanya melihat satu tulisan yang terpasang pada sebuah kayu di sana. Senja menatapnya dengan perasaan haru yang sulit dilukiskan kata-kata.
Perpustakaan ini di bangun dengan dan karena cinta, oleh seorang pendosa.
Dipersembahkan untuk putriku Senja Ainul Mardhiah, dan untuk para pendosa yang telah menemukan kembali jalan pulang.
Mata Senja Lagi-lagi berair.
Ayah, Senja datang, Senja pulang, bisiknya dalam hati.
Dia melihat koleksi buku yang ada di perpustakaan. Tiba-tiba, Abah Iwan memanggilnya.
"Senja, coba ke sini , , ,.." kata Abah Iwan.
Senja langsung mendekati Abah Iwan.
"Ini buku karya Ayahmu. Ada empat buku. . . . "
Senja mengambil salah satu buku karya Ayah yang berjudul Merindu Husnul khatimah. Dilihatnya buku itu dengan perasaan cinta yang membesar dalam hatinya. Pada sosok ayah yang teryata sangat pantas dibanggakan.
"Buku-buku karya Kang Umar adalah salah satu inspirasi kami mengembangkan program pendidikan di kampung Hijrah, jalan pertobatan yang dia tempuh, dan cerita beliau di akhir hayat adalah inspirasi besar untuk semua orang yang sedang belajar berhijrah di sini."
Abah Iwan tersenyum kepada Senja yang terlihat takjub dengan apa yang dia ketahui hari ini.
" Alhamdulillah, terima kasih, Abah sudah menceritakan ini semua kepada Senja," kata Senja sambil tersenyum haru.
"Assalamu'alaikum, Abah, punten, sudah jam 5, saya pamit duluan ... . .," ujar santri penjaga tiba-tiba.
"Oh, iya, mangga . . . .," jawab Abah.
"Perpustakaan ini dulu ada penjaga tetapnya. Tapi, karena sakit dia mengundurkan diri. sekarang dijaga bergantian oleh santri, Satria adalah salah seorang yang ikut menjaga," kata Abah kemudian.
Deg, Deg Deg senja tak menyangka Satria sering berada di sini. Apakah dia benar-benar serius berhijrah?
"Oh, begitu, Abah . . . . ? jawab Senja singkat.
Senja masih memegang dan membaca beberapa lembar tulisan buku karangan Ayah. Ada ketenangan yang dia rasakan saat membaca tulisan Ayah yang benar-benar dari hati.
"Senja . . .."
"Iya, Abah . . . ."
"Kamu harus tahu rumah dan perpustakaan ini milikmu. ini amanah dari Kang Umar untuk Abah sampaikan."
Senja menoleh kepada Abah, lalu berkata.
"Iya, Abah, Nanti Senja akan lebih sering datang ke sini."
__ADS_1
"Kamu nyaman berada di sini, Senja?"
"Senja sangat nyaman berada di sini. Orang-orangnya ramah, pemandangannya indah."
"Alhamdulillah, Ini adalah rumah kamu, Senja, kamu bisa datang ke sini kapan saja. Bahkan, kamu bisa tinggal di sini. melanjutkan hidup dan impian Kang Umar di sini."
Dada Senja bergetar mendengar perkataan Abah Iwan. jantungnya memompa lebih cepat.
"Kamu bisa tinggal di sini, melanjutkan hidup dan impian Kang Umar di sini," kata-kata itu berdengung dalam pikirannya.
"Insyaallah, Abah. Senja pikirkan dulu,? jawab Senja akhirnya.
Abah tersenyum. Begitu juga dengan Senja. Sosok Abah terasa seperti Ayah baginya kini.
Beberapa saat kemudian, Mang Didin masuk ke perpustakaan dan mengajak Abah Iwan berbincang. waktu sudah menunjukkan pukul 17.20.
"Senja, kita pulang setelah shalat Maghrib, ya," kata Mang Didin.
"Baik, Mang ..."
"Oh, ya, ada yang harus Mamang obrolin Sama Abah Iwan di bawah. Kamu masih mau di sini?" tanya Mang Didin.
"Iya, Mang. Senja pengin di sini dulu sampai azan magrib," jawab Senja.
Mang Didin dan Abah lalu menuju lantai bawah rumah Kang Umar. meninggalkan Senja yang kini berdiri menghadap kaca jendela yang berukuran besar. menikmati pemandangan matahari pulang ke peraduan. Matanya masih melihat-lihat buku karya Kang Umar di perpustakaan. Hatinya tersentuh dan berdecak kagum melihat bait-bait huruf yang dirangkai ayahnya.
"Seperti halnya kehidupan, hijrah adalah perjalanan. Oleh sebab itu, seseorang hanya bisa dinilai sukses dan berhasil di akhir perjalanan. Saat waktu kehidupan berakhir. Saat nafas berhenti berembus. Saat raga terpisah dengan jiwa. Apakah saat itu terjadi, Allah sedang cinta kepadanya ataukah sebaliknya.
"Sesungguhnya, kita sedang bergerak menjalani kehidupan. Menuju satu titik episode bernama kematian. Setiap hari, detik Kematian itu mendekat. Dan, yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan bekal kematian. Dengan tobat dan dengan taat. Agar kita bisa bergerak meninggalkan kehidupan yang fana ini dengan Cinta-Nya. menuju Cinta-Nya yang abadi."
Senja membacanya dengan hati damai. sesekali matanya menatap ke depan. Hijau perkebunan tersinari matahari senja membuat jiwanya lebih tenang.
Tiba-tiba satu suara memanggil.
Senja menoleh pada suara yang sangat dia kenal. Raut wajahnya sangat terkejut.
"Satria, kamu di sini?" Senja bertanya balik.
Satria melangkah mendekat hingga beberapa di samping Senja Dia menoleh sebentar dan tersenyum. Mendengar suara Senja, dada Satria tiba-tiba bergetar hebat. Betapa selama ini dia ingin bertemu Senja. Keduanya terdiam beberapa saat.
"Aku baru sampai dan diberi tahu Angga kalau kamu berada di sini. Katanya dia melihatmu di perpustakaan. Sudah sebulan ini aku belajar di sini. Aku ingin mengikuti jejak pertobatan ayahmu, Senja," kata Satria memecah keheningan.
"Oh, syukurlah. Aku tadi berziarah ke makam Ayah," Kata Senja pelan.
"Aku bahagia bisa bertemu lagi denganmu," kata Satria.
"Takdir Allah yang mempertemukan kita. Dulu dan sekarang," jawab Senja.
"Senja, aku minta maaf. Aku menyesal."
"Tak ada yang harus dimaafkan. Kita sama-sama bersalah atas dosa yang dulu kita lakukan."
"Kamu tidak salah. Aku yang salah. Aku yang merencanakan berziarah denganmu. Aku sengaja merayumu. Aku . . . " Satria kehilangan kata-kata.
"Aku memang lelaki berengsek . . . ," tambah Satria penuh penyesalan.
Senja menahan nafas mendengar perkataan Satria. Ada gemuruh yang tiba-tiba hadir dalam dadanya mengingat semua peristiwa pada masa lalu " Pada akhirnya aku paham, Satria. semua perhatian, juga rasa yang dulu kau berikan kepadaku adalah nafsu, bukan cinta. Dan, aku bersyukur Allah masih melindungi kita dari dosa besar bernama zina," kata Senja sambil menatap ke depan, menikmati suara-suara saat petang di kampung Hijrah.
"Selama ini aku resah memikirkamu. Aku ingin kamu memaafkaku. Untuk mempermudah jalan pertobatanku . . . ," kata Satria.
"Aku sudah menerima dan belajar ikhlas dengan semua jalan hidupku. Aku sudah memaafkan mu Tampa kamu minta . . . ,
"Alhamdulillah Terima kasih, Senja. Sekarang hatiku lebih tenang . . . "
__ADS_1
"Aku berharap kamu terus berada di jalan yang lurus . . . "
"Aku berjanji, Senja, Aku akan terus berusaha berada di jalan yang lurus."
Satria menoleh menatap Senja penuh senyuman. senyuman yang menyembunyikan semua getir kerinduan. Pada sosok wanita yang telah menjadi jalan baginya mengenal jalan cinta sang Mahacinta.
"Terima kasih sudah menjaga perpustakaan ini," kata Senja.
"Aku yang harusnya berterima kasih. Ini adalah tempat yang terbaik bagiku untuk belajar. Suatu saat, aku akan menjadi seorang penulis seperti ayahmu."
Senja menoleh sesaat kepada Satria. Tiba-tiba terpikir olehnya kalau sangat tidak baik berduaan saja dengan-nya lama-lama.
"Maaf, aku harus pergi sekarang . . . ," kata Senja sambil berbalik dan berjalan menjauh.
Akan tetapi, Satria seperti tak rela perempuan yang sudah lama dia rindukan itu pergi begitu saja.
"Senja Ainul Mardhiah . . . . ." Satria memanggil Senja dengan dada yang kembali bergetar.
Langkah Senja berhenti. Wajah cantiknya yang terkena Sinaran lampu berbalik menatap Satria. Angin menggerakkan beberapa helai rambutnya. Mereka berdua kini saling menatap. Senja menunduk. Satria lalu berkata dengan getir.
"Memang kuakui, aku sangat menyesal pernah merayu dan mengajakku berzina . . . ." Satria terdiam sesaat. Ia menghela nafas. Menahan gejolak perasaan yang selama ini tertahan di dalam hati, lalu melanjutkan.
"Tapi. . . . tapi aku tak pernah menyesal pernah mencintaimu, Senja. Ya, aku harus jujur. Aku benar-benar mencintaimu saat ini. perasaan ini tumbuh dalam doa-doaku. Dalam pertobatanku. Dalam proses hijrahku. Tak bisa ku hentikan."
Satria lalu terdiam dengan hati berkecamuk. Sementara itu, Senja terkejut dengan pengakuan Satria.
"Aaku mencintaimu karena Allah, Senja."
Kembali Satria mengungkapkan kata yang membuat Senja terdiam. Ada kebingungan dalam hati yang tiba-tiba Dia rasakan. Entah apa yang harus dia ungkapkan sekarang.
Cinta? Bukankah cinta harusnya teraktualisasi dalam pernikahan.
"Terima kasih untuk kejujuranmu, tapi. . . . ." Senja terlihat ragu.
Wajahnya menunduk kebingungan. Sebenarnya dia ingin menjawab langsung bahwa saat ini dia sedang proses ta'aruf dengan Fajar. Namun, mulutnya seperti sulit untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Aku .. . . .aku saat ini sedang bertaaruf dengan seseorang. mohon maaf," kata Senja akhirnya
Ta'aruf? ada rasa sakit yang dirasakan Satria saat mendengar kata itu.
"Apakah masih ada kesempatan dan ruang dalam hatimu untuk aku isi?" tanya Satria pelan dengan penuh harapan.
"Aku tidak tahu. . . . .," kata Senja, masih dengan wajah menunduk.
"Biar waktu yang menjawab. . . . .biar allah yang tentukan. . . .," jawab Senja pelan.
Wajahnya kini terangkat, menatap Satria beberapa detik saja.
Kemudian, hening. Hanya suara pepohonan dan desau angin yang sayup terdengar.
"Assalamu'alaikum . . . . ," kata Senja akhirnya sambil berbalik.
Satria menjawab pelan,"Waalaikumsalam. . ."
Di luar, azan Maghrib merdu berkumandang.
Senja melangkah semakin jauh. Mata Satria sendu menatap punggung Senja. seolah itu adalah tatapan dan pertemuan kali terakhir.
Dalam hatinya, dalam temaram yang semakin dalam, Satria mengucapkan kata yang tak sempat dia ucapkan.
"Terima kasih, Senja. Bertemu dengan mu telah menjadi jalan bagiku mengenal Allah. . . ."
Maaf gak upload, kepala ku gak tahan lama melihat layar hp ,.,.,JD Maaf maaf
__ADS_1
jadi aku minta maaf....