
Setelah satu mingguan menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya Aisha diberi izin pulang oleh dokter. Terbayang bahagia yang luar biasa di wajah suaminya, Ghibran. Dia dan Syifa telah menanti ini.
"Mami akan segera pulang ke rumah, Syifa!", seru Ghibran pada anak perempuannya yang berusia 5 tahun.
Syifa langsung berlari ke arah ranjang rumah sakit, lalu memeluk Aisha dengan erat. Aisha merasakan kebahagiaan yang tiada tara, setelah satu minggu merindukan kebersamaan keluarganya di rumah.
Setelah memastikan kondisi Aisha baik-baik saja, dokter memberinya izin untuk pulang ke rumah. Aisha dan keluarganya pun segera pulang. Sesampainya di rumah, Aisha di minta Ghibran beristirahat.
"Aku akan masak buat makan malam kita. Kamu istirahat saja," ucap Ghibran saat akan tiba waktunya makan malam.
"Aku bosan tidur terus, Mas. Selama di rumah sakit hanya berbaring. Aku ikut Mas ke dapur," balas Aisha.
"Kamu masih sakit, Aisha. Biar aku saja yang masak. Walau masakanku tidak seenak dan selezat masakanmu tapi masih bisa di makan," ujar Ghibran.
"Banar, Mi. Biar Papi saja yang masak. Mami tidur saja. Aku yang akan bantu Papi di dapur," kata Syifa.
"Mami hanya melihat saja. Bosan Mami di tempat tidur terus, Nak!"
"Baiklah, tapi kamu janji harus diam. Lihat saja apa yang aku lakukan tanpa turun tangan!" Ghibran mencoba mengingatkan. Aisha menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Ghibran lalu mengajak Aisha masuk ke dapur. Ia berencana membikin'kan istri dan anaknya makan malam yang spesial. Aisha hanya bisa tertawa bahagia melihat gelagat suaminya yang kayak anak kecil itu.
__ADS_1
"Demi apa kamu begitu semangat buat masak, Mas?" tanya Aisha dengan menatap tanpa kedip ke arah suaminya itu.
"Kamu'kan baru pulang dari rumah sakit, pasti lapar banget," jawab Ghibran dengan tersenyum.
"Aduh, Mas ... setelah satu minggu dirawat dan menjalani pengobatan di rumah sakit. Rasanya aku sekarang baru sadar kamu betapa penting dalam hidupku," ujar Aisha sambil tersenyum dengan manisnya.
Ghibran terus bekerja di dapur, sementara Syifa duduk manis di samping ibunya, mengamati kegiatan di dapur. Saat ini, aroma masakan yang enak mulai menyebar ke seluruh rumah.
"Syifa jangan bosan ya menunggu makanan kita selesai dimasak. Nanti Papi buatin Syifa juga cemilan kesukaanmu," ujar Ghibran sambil menatap anaknya.
"Bisa juga Ayah bikin makanan yang sehat untuk kita keluarga. Jangan cuma makanan yang enak aja," timpal Aisha sambil tersenyum.
Setelah agak lama menunggu, akhirnya makanan siap disantap. Ternyata, Ghibran betul-betul pandai memasak. Aisha dan Syifa langsung melahap habis semua makanan yang disajikan. Dari adanya aroma sampai kepahitan rasa kuno kala Aisha berada di rumah sakit.
"Terimakasih Mas Ghibran, makanannya enak banget!" puji Aisha.
"Iya, terimakasih ya Papi yang ganteng," tambah Syifa dengan senyum manis di wajahnya.
Ghibran hanya bisa tersenyum bahagia melihat istri dan anaknya yang bahagia sekali. Dia senang masakannya disukai oleh kedua wanita terpenting dalam hidupnya itu.
Setelah makan malam selesai, Ghibran dibantu Syifa membersihkan meja makan. Setalah itu Syifa pergi ke kamar tidur untuk tidur. Aisha dan Ghibran juga masuk ke kamar mereka, keduanya mulai bercakap-cakap lagi.
__ADS_1
"Akhirnya kamu kembali ke rumah. Aku sangat merindukan tidur sambil memeluk kamu, Sayang," kata Ghibran.
"Aku juga, Mas," balas Aisha dengan malu-malu.
"Minggu depan kita akan segera pindah. Kita akan mengadakan syukuran empat bulan kehamilan kamu dan syukuran atas rumah baru kita," ucap Ghibran.
"Undangannya sedikit saja, Mas. Aku takut kelelahan."
"Iya, Sayangku. Setelah itu kita rencanakan liburan keluarga," ujar Ghibran lagi.
Ghibran mengatakan rencananya yang akan membawa Aisha dan Syifa berlibur. Tidak jauh-jauh, agar istrinya tidak kelelahan di jalan Semua itu agar istrinya tidak stress.
Mereka pun melanjutkan obrolan hingga larut malam. Aisha merasa sangat bahagia bisa bersama suami dan anaknya setelah sekian lama di rumah sakit. Mereka berdua pun merencanakan waktu yang akan dihabiskan bersama keluarga dengan lebih banyak kegiatan dan liburan di tempat yang menyenangkan.
"Aku beruntung memiliki keluarga seperti kamu, Sayang. Terima kasih sudah merawat ku dengan baik," kata Aisha sambil memeluk Ghibran.
"Aku akan selalu merawat mu dan mencintaimu, Aish. Sampai ujung hidupku," ujar Ghibran sambil mencium kening istrinya.
Aisha merasakan kebahagiaan di dalam dadanya. Ia tahu bahwa tidak ada yang lebih penting dari keluarga dan cinta yang mereka miliki. Mereka pun berdua tertidur dengan damai dan gembira di malam itu.
...----------------...
__ADS_1