
Seperti biasa, setiap pagi Aisha bangun dan menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Saat dia ke dapur, wanita melihat ibu mertuanya sudah lebih dahulu berada di sana. Ibu Nur sedang memasak, mungkin sarapan untuk pagi ini.
"Ibu, biar saja aku yang masak. Kenapa ibu terus yang memasak. Nanti aku jadi ketagihan masakan Ibu, susah jadinya," ucap Aisha sambil becanda.
"Kalau memang terbiasa dan suka masakan ibu, kalian bisa kembali pindah ke kota dan tinggal serumah dengan Ibu," balas Ibu Nur.
Aisha hanya tersenyum menanggapi ucapan mertuanya itu. Bagai manapun, dia tidak mungkin akan pindah ke kota lagi. Di sini telah nyaman. Sebaik apa pun mertuanya, lebih baik hidup dengan keluarga kecil saja. Mandiri.
Satu jam mereka berdua di dapur. Masakan telah selesai dihidangkan.
"Bu, aku mandikan Syifa dulu. Dia mau sekolah," pamit Aisha.
"Silakan, Nak," balas Ibu Nur.
Dia membereskan dapur yang masih berantakan. Aisha tadi sudah mengatakan jika itu tugasnya. Tapi ibu tetap ingin melakukan dan membersihkan semua.
Setalah Syifa dan Ghibran berpakaian, mereka sarapan berempat dengan lahap. Masakan Ibu Nur memang lezat. Setelah selesai sarapan sambil menunggu waktu Syifa sekolah, mereka duduk di ruang keluarga. Sesaat kemudian terdengar suara pintu diketuk.
Ayah Abdul mengetuk pintu rumah kediaman putranya itu. Dia ingin menjemput sang istri. Tidak ingin mengganggu kehidupan keluarga putranya. Apa lagi pria itu tahu jika Ibu Nur kurang bisa akur dengan menantunya.
Ghibran berjalan menuju pintu. Terkejut melihat ayahnya yang datang sepagi ini.
"Ayah, pagi benar sudah sampai di sini. Silakan masuk, Yah," ucap Ghibran.
__ADS_1
"Apakah Ibu Nur ada di dalam rumah ini?" tanya Ayah Abdul tanpa basa basi.
"Ya, Ayah. Ibu ada di dalam. Apa yang sebenarnya yang terjadi?" tanya Ghibran berpura-pura tidak tahu.
"Aku harus bicara dengan ibumu. Ada banyak yang ingin ayah katakan," jawab Ayah Ghibran.
"Baiklah, Ayah. Silakan masuk!" Ghibran mengulangi ucapannya.
Ayah masuk ke dalam rumah Ghibran dan berhadapan dengan Ibu Nur yang sedang duduk di ruang keluarga bersama Aisha. Pria itu memilih duduk di dekat sang istri.
"Nur, aku minta maaf atas apa yang terjadi. Aku ingin membicarakan semuanya," ucap Ayah Abdul.
"Sudah 3 hari aku menghindari mu, Yah. Kamu pikir aku bisa langsung menerima hal ini? Coba tanyakan pada wanita manapun, apa mereka bisa menerima pengkhianat sang suami?" tanya Ibu Nur dengan suara kesal.
"Tolong, Nur. Aku ingin bicara dengan tenang. Aku tahu aku telah membuat kesalahan besar, tapi percayalah aku masih mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu," bujuk ayah Abdul.
"Bagaimana aku bisa menerima kenyataan bahwa kamu menikah lagi tanpa memberitahuku? Kita masih suami istri, Pak Abdul!" ucap Ibu Nur dengan air mata yang mulai membasahi pipi.
Telah tiga hari menghindari Abdul, Ibu Nur masih belum bisa menerima dengan ikhlas, pengkhianat sang suami. Dia juga tidak bisa melepaskan pria itu. Rasa cintanya tetap sama seperti dulu.
"Aku tahu bahwa aku salah. Pikiranku kacau saat itu dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Tapi aku menyesal, Nur. Aku sudah menyesal. Seharusnya aku jujur mengatakan semuanya," ucap Pak Abdul.
"Ini tidak mudah bagiku, Abdul. Aku merasa terkhianati dan kepercayaanku hancur," balas Ibu Nur.
__ADS_1
"Aku akan berusaha memperbaikinya, Nur. Aku akan melupakan semuanya dan hanya fokus pada hubungan kita. Tolong, pulanglah dengan aku. Kamu tetap nomor satu dalam hati ini. Dan akan tetap jadi prioritas," bujuk Pak Abdul.
"Bagaimana aku bisa yakin bahwa kamu memang menomor satukan aku, Yah? Bagaimana aku bisa mempercayaimu lagi?" tanya Ibu Nur ragu.
"Sampai detik ini, aku belum pernah menginginkan apapun selain kebahagiaanmu dan keluarga kita. Apa selama ini aku pernah mengecewakan kamu? Tidak 'kan?" Ayah balik bertanya.
"Tapi aku butuh waktu untuk mempercayaimu lagi, Yah. Ini tidak mudah bagiku," jawab Ibu Nur.
"Aku akan menjaga jarak dengan wanita itu setelah dia melahirkan, Nur. Aku juga mengerti bahwa kamu perlu waktu._
"Semoga semua ucapan kamu serius, Yah. Jangan sekali-kali membuatku merasa tersakiti lagi. Tolong jaga jarak setelah anak itu lahir. Aku tidak melarang kamu untuk bertanggung jawab. Tapi aku mohon, jaga hatiku juga," balas Ibu Nur.
"Aku berjanji, Nur. Kita bisa mengatasi ini bersama-sama. Aku akan berusaha menjadi suami yang lebih baik," jawab Abdul.
"Sebenarnya aku masih marah, Ayah, tapi aku mencintaimu dan aku ingin kita bisa melewati ini," jawab Ibu Nur.
"Terima kasih, Nur. Aku tidak akan membuatmu menyesal. Apakah kamu bersedia pulang?" tanya Pak Abdul.
"Baiklah, aku akan pulang. Tapi ini adalah awal baru bagi kita, Yah. Mari kita bangun kepercayaan kita kembali," balas Ibu Nur.
Dia akui tidak bisa berpisah dari suaminya. Apa lagi usia mereka sudah tidak muda lagi. Tidak akan mudah bagi Nur untuk hidup sendiri.
...----------------...
__ADS_1