
Aisha bangun dan membuatkan sarapan untuk suami dan anaknya. Pagi ini dia ingin membuat soto Padang. Setelah solat subuh, Aisha langsung menuju dapur dan memasak.
Semua bahan telah dia persiapkan dari kemarin. Aisha mengeluarkan dari kulkas. Mulai dari ayam, mie dan lainnya.
Dia merebus ayam sebelum di goreng. Agar bisa diambil kaldunya. Mengambil kentang untuk perkedel. Serta menggoreng kerupuk merah, dan bawang merah.
Soto Padang justru berbeda dengan kebanyakan masakan Minang lainnya yang menggunakan santan ataupun kari. Soto Padang tampil sederhana, bening, namun tetap begitu kaya akan rasa.
Hampir dua jam Aisha di dapur, akhirnya soto yang dia buat siap untuk di santap. Setelah menata di meja makan, dia lalu masuk ke kamar untuk membangunkan suaminya.
"Mas, bangun! Aku sudah masak buat sarapan," ucap Aisha dengan mengguncang tubuh suaminya pelan.
Ghibran membuka matanya. Tersenyum melihat istrinya. Pria itu bangun dan langsung memeluk istrinya erat.
"Setiap bangun tidur, selalu melihat bidadari. Nikmat mana lagi yang kau dusta," ucap Ghibran. Aisha tersenyum dan membalas ucapan suaminya dengan mengecup pipi pria itu.
"Bisa saja membuat istrinya salting," balas Aisha.
"Tapi bagiku kecantikan kamu memang seperti bidadari," ujar Ghibran lagi. Dia balas mengecup pipi istri dengan gemas dan lama.
"Mas mandilah. Aku sudah masak soto Padang untuk sarapan," perintah Aisha.
__ADS_1
"Siap, Sayang," jawab Ghibran. Sebelum bangun kembali dia mengecup pipi istrinya.
"Mas, aku bangunkan Syifa. Selesai berpakaian langsung ke meja makan aja. Aku mandikan Syifa dulu," ucap Aisha sedikit berteriak karena Ghibran telah masuk ke kamar mandi.
Tanpa menunggu jawaban dari sang suami, Aisha berjalan menuju kamar anaknya. Baru membuka pintu, tampak sang putri telah membuka matanya. Bocah itu tersenyum melihat maminya. Dia langsung merentangkan tangan meminta dipeluk.
Aisha berjalan mendekati ranjang dan memeluk putrinya dengan mengecup seluruh bagian di wajah Syifa. Gadis cilik tersebut membalas dengan hal yang sama, mengecup seluruh bagian di wajah wanita itu.
"Sekarang waktunya putri Mami mandi!" ucap Aisha.
"Oke, Mam!" jawab Syifa.
Dia bangun dan langsung berjalan menuju kamar mandi. Aisha membantu sang putri membersihkan tubuhnya. Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, mereka berdua menuju meja makan. Di sana telah menunggu Ghibran.
"Selamat Pagi, Papi," balas Syifa.
Putri kecilnya itu mengambil duduk di sebrang Ghibran. Dia langsung melihat menu sarapan yang dibuatkan Maminya.
"Pasti enak banget, baunya saja sudah membuat lapar," ucap Syifa dengan antusias.
__ADS_1
"Masakan mami kamu pasti lezat. Tak pernah gagal," balas Ghibran.
Aisha memberi kuah pada soto yang ada di meja dan mempersilakan keduanya makan. Ghibran meminta tambah semangkuk lagi karena enaknya masakan sang istri.
"Papi doyan apa lapar?" tanya Syifa, melihat Ghibran makan dengan lahapnya.
"Dua-duanya. Doyan banget semua masakan mami. Kalah makanan di restoran," jawab Ghibran.
"Papi betul, masakan mami tiada duanya," balas Syifa.
Aisha mengacak rambut sang putri. Dia selalu saja memuji apa pun masakan yang Aisha masak, membuat wanita itu senang. Syifa selalu bisa membuat dia merasa dibutuhkan dan dibanggakan.
Setelah makan mereka bertiga bersantai sebentar sebelum bersiap ke rumah ibunya Annisa. Mereka semua berkumpul buat makan siang sebagai jalinan silaturahmi.
Jam sepuluh siang, Ghibran mengendarai mobilnya menuju rumah kediaman ibunya Annisa. Perjalanan sekitar dua jam. Syifa yang duduk di belakang asyik bermain game di tabletnya. Di samping bocah cilik itu ada boneka yang sengaja dia bawa agar tidak bosan.
Sekitar jam dua belas siang, Ghibran sampai di rumah orang tua Annisa itu. Syifa keluar dengan menggendong bonekanya. Mereka bertiga masuk setelah mengucapkan salam.
Semua keluarga telah berkumpul di taman belakang rumah itu. Semua memandang ke arah mereka bertiga saat Ghibran dan Aisha mengucapkan salam.
"Ghibran, Aisha, silakan duduk. Anak siapa ini? Apakah ini yang Annisa katakan anak kamu itu?" tanya mamanya Annisa.
__ADS_1
Ghibran menarik napas dalam. Sepertinya akan ada lagi kejulidan yang akan dia dan Aisha dengar.
...----------------...