HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 67. Di Kamar Hotel


__ADS_3

Aisha hanya diam sepanjang perjalanan menuju hotel. Ghibran mengerti jika istrinya sedang kesal. Dia lalu meraih tangan kanan istrinya, dan mengecupnya berulang kali. Hal itu mampu membuat wanita itu membuka suara.


"Mas, nyetir jangan tangan satu. Harus konsentrasi," omel Aisha.


"Aku tak bisa konsentrasi melihat wajah istriku yang cantik jadi masam," goda Ghibran.


Aisha dengan terpaksa tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Dia tidak bisa marah, karena Ghibran akan terus menggodanya. Beruntung pria itu tidak pernah ikut terbawa emosi jika sang istri merajuk.


Ghibran sering membaca buku tentang kehamilan. Sehingga tahu jika wanita hamil sering berubah emosinya. Kadang marah, sedih dan juga bahagia dalam beberapa detik.


Saat kehamilan terjadi, perubahan yang ibu alami bukan hanya pada fisik, tetapi juga emosional. Apalagi saat trimester pertama, perubahan suasana hati dan emosi biasa terjadi. Penyebabnya bisa bermacam-macam, salah satunya adalah karena adanya perubahan hormon pada tubuh ibu.


Sampai di hotel, Ghibran langsung pesan kamar dengan dua tempat tidur. Setelah menidurkan Syifa, Aisha berpindah ke ranjang di mana suaminya berbaring.


Ghibran memeluk pinggang Aisha agar makin merapat dengan dirinya. Mengecup pucuk kepala wanita itu.


"Sayang, kamu masih marah dengan sikap ibu tadi?" tanya Ghibran hati-hati. Dia takut Aisha makin marah mendengar pertanyaan darinya.


Aisha menenggelamkan kepalanya ke dada bidang sang suami. Dia membalas pelukan sang suami.

__ADS_1


"Maaf, Mas. Jika tadi aku terpaksa melawan kata ibu dan melarang kamu tetap tinggal di rumah sakit," ujar Aisha.


Kembali Ghibran mengacak rambut istrinya dan mengecupnya. Dia tidak ingin memperkeruh suasana.


"Tak apa, Sayang. Aku mengerti dengan semua yang kamu lakukan itu," balas Ghibran.


"Mas, aku boleh tanya sesuatu? Aku harap kamu jawab jujur dan tidak ada yang disembunyikan," ujar Aisha.


Ghibran mengangguk sebagai persetujuan. Dahinya tampak berkedut. Apa yang ingin diketahui istrinya lagi? Bukankah dia telah mengatakan semua masa lalunya.


"Apa kamu atau Annisa pernah jatuh hati?" tanya Aisha dengan suara pelan. Dia takut pertanyaan itu membuat suaminya marah. Dari tadi dia telah melakukan kesalahan dengan melarang suaminya tetap di rumah sakit, dan juga membantah ucapan ibunya.


"Aku tidak pernah menyukai Annisa lebih dari sekedar adik. Dari pertama aku hanya menganggapnya saudara, walau aku tahu kami tidak ada hubungan darah," jawab Ghibran.


"Bagaimana dengan Annisa? Apa dia pernah mengungkapkan rasa sukanya padamu, Mas?" tanya Aisha lagi.


Ghibran mengacak rambut istrinya. Dia seperti enggan menjawab pertanyaan sang istri. Aisha menengadahkan kepalanya. Menatap mata sang suami. Dia tahu jika pertanyaan itu sangat sulit dijawab pria itu.


"Aku tidak pernah mendengar dia mengatakan langsung jika suka padaku," jawab Ghibran.

__ADS_1


"Jawaban kamu sangat ambigu, Mas. Berarti Annisa itu sebenarnya suka denganmu, tapi dia tidak pernah mengatakan secara langsung. Tapi orang lain pernah mengutarakan itu'kan? Dan Mas tahu jika dia pernah memiliki perasaan padamu?" tanya Aisha lagi.


Ghibran memeluk pinggang istrinya dengan erat. Mengecup semua bagian di wajah istrinya berulang kali. Dia sepertinya ingin mengelak dari pertanyaan sang istri.


"Mas, jawab pertanyaanku. Jangan hanya mencium terus," ucap Aisha dengan cemberut. Dia tahu suaminya itu sengaja mengalihkan pertanyaan darinya. Terbukti Ghibran tertawa melihat wanita itu cemberut.


"Mas jawab! Kalau tak mau jawab aku pindah tidur ke kasur Syifa," ancam Aisha. Dia lalu melepaskan pelukan sang suami. Berusaha bangun dari tidurnya.


Namun, Ghibran menahan. Aisha tahu jika sang suami tidak akan mau dia pindah. Pria itu pernah mengatakan, sejak menikah dia tidak bisa tidur jika tidak dipeluk. Itulah kenapa dia sampai jatuh pingsan saat istrinya pergi dari rumah. Ke kota saja, walau pulang larut malam, dia tetap memilih pulang ke rumah, tidak akan mau menginap.


"Ibu pernah meminta aku menikahi Annisa saja dari pada mencari wanita lain. Tapi aku menolaknya karena memang tidak cinta. Saat itu aku juga masih belum bisa move on dari Alya."


"Apa ibu juga mengatakan jika Annisa menyukai Mas , sehingga dia menjodohkan kalian?" tanya Aisha.


Ghibran menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Ibu Nur memang pernah mengatakan jika Annisa mencintai dirinya, sehingga ibu pernah meminta dia mau menerima Annisa sebagai calon istri. Itu sebelum bertemu Ikhbar.


Melihat reaksi dari sang suami, Aisha makin cemberut. Dia makin cemburu setelah tahu jika Annisa pernah menyimpan rasa untuk Ghibran. Dalam hatinya berkata, mulai hari ini tidak akan membiarkan Annisa mendekati suaminya lagi. Apa pun nanti yang akan ibu mertuanya katakan, dia tidak akan mengizinkan Ghibran membantu Annisa, jika tanpa dirinya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2