HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
41. Amanah Ziarah


__ADS_3

Malam ini Fajar sedang berada di kamarnya. Setelah tadi sore muraja'ah, menyetor hafalannya kepada Ustad Ali di pondok Qur'an. Fajar sudah tidak tinggal di pondok Qur'an sejak dia berkerja di bank syariah. Dia memilih indikos tidak jauh dari pondok Qur'an. Sesekali, dia masih di ajak mengajar Al-Qur'an oleh Ustadz Ali.


Di kamarnya, Fajar sedang membaca CV dan biodata lengkap Senja. Namun, sayang sekali, di bab rencana hidupnya, Senja menuliskan masih dalam pencarian. Meskipun begitu, bagi Fajar, seorang muslimah itu tinggal mengikut suami saja. Fajar yakin rencana hidupnya cukup bisa mewakili keluarga seperti apa yang hendak dia bangun nanti.


Fajar bersyukur dengan setiap kejadian yang terjadi dalam hidupnya belakangan ini. Terutama ketika ibunya meridai dirinya untuk segera menikah. Dia sangat berharap proses ta'arufnya dengan Senja, yang dilakukan selama Dua bulan ini akan berakhir pada sebuah pernikahan impian.


Akan tetapi, masih ada yang mengganjal dalam diri Fajar, yaitu kondisi Senja yang belum mengenakan kerudung seperti keinginannya. Namun, ketika memikirkan itu terlintas, dia selalu teringat perkataan Mang Didin.


"Senja sedang berproses, sedang memantaskan dan memantapkan ilmunya. Akang, kan, sudah jelaskan background dan masa lalu Senja seperti apa. Tidak mudah berubah ke kondisi ideal. Apalagi Senja ingin proses hijrahnya berjalan Tampa dipaksakan, biar benar-benar lillah katanya. Akang yakin kalau sudah menikah, Senja bakal nurut, taat 100% sama suami," kata Mang Didin.


Mang Didin sendiri yang berpesan sebagai perantara ta'aruf, sudah pernah menyampaikan perihal ini kepada Senja. bahwa alangkah baiknya kalau ketika proses ta'aruf, dia sudah mengenakan hijab. Tapi, Senja menjawab tegas.


"Senja tidak ingin berjilbab karena sedang bertaaruf dengan hafiz Al-Quran. kalau nanti Senja berhijab. Tapi, insyaallah 100% alasannya karena keinginan taat kepada Allah."

__ADS_1


Begitu jawabannya, dan Mang Didin tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Sementara itu, di dalam kamarnya, Senja juga tengah membaca proposal Fajar, si anak yatim, sahabat masa kecil yang kini tiba-tiba menjadi "calon suaminya ". Ah, sudahkah dia jadi calon suami beneran? Senja merasa malu ketika berpikir itu terlintas dalam benaknya.


Senja membaca proposal itu dengan teliti dan dengan perasaan deg-degan. Dia bagian rencana hidup, dia melihat bahwa Fajar ingin menjadi penghafal Al-Qur'an, mengajar Al-Qur'an di pondok Qur'an, mendirikan yayasan Citra AL-Quran, dan menjadi islami bankir yang sukses.


Apakah aku siap menemani dia berjuang menggapai mimpi-mimpinya? Senja bertanya dalam hati.


Dia sendiri masih planning hidupnya akan seperti apa. Kalau menjadi istri dan Ibu rumah tangga sih, sudah pasti dia mau. Namun, apa cukup hanya itu? Bukankah seorang muslimah boleh memiliki peran tersendiri sehingga bisa beraktualisasi? Apa, sih, hal yang benar-benar mau aku kerjakan di masa depan?


ketika malam semakin larut, terdengar pintu kamar Senja terbuka. Senja menoleh dan melihat Ibu melangkah mendekatinya.


"Iya, Bu, ada apa?" tanya Senja.

__ADS_1


"Ibu mau menyampaikan sesuatu yang penting," kata Ibu sambil duduk di kasurnya Senja.


"Hmmmm, pasti soal ta'aruf, ya?"


"Bukan, eh, iya,,,,..... maksudnya urusan ini berhubungan dengan proses ta'arufmu dengan Fajar."


"Oooooh.. .. "


"Begini, tadi siang Ibu mengobrol dengan Mang Didin. Ini tentang amanah mendiang ayahmu. Untuk datang ke kampung hijrah, bertemu guru ayahmu, Abah Iwan. Dan juga, Ibu ingin kamu berziarah ke makam Ayah. Belum pernah, kan?"


Mendengar perkataan Ibu, Senja terdiam. Ayah? sudahkan Senja siap berziarah ke makam Ayah? seseorang yang tak pernah dia kenal dalam hidupnya. Hanya sebuah surat yang menjadi awal perkenalannya dengan Ayah. Dan, cerita Mang Didin tentang kisah kematian Ayah. itu pun hanya sedikit.


"Kamu, kan, sedang ta'aruf dengan Fajar, biyar berkah prosesnya, dan biyar kamu lebih mengenal Ayahmu. Mang Didin sudah bersedia mengantarmu untuk pergi ke kampung hijrah besok Sabtu. Kamu mau, ya, Nak? Nanti kalau Ibu sudah pulih 100% Ibu pun akan berziarah ke makam Ayah. kamu dan Fajar yang Gantar Ibu nanti. . . . .," kata ibu sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Senja penuh kelembutan.

__ADS_1


Ya, tidak ada salahnya datang ke kampung hijrah. Apalagi selama ini, dia memang sangat penasaran seperti apa ayahnya sebenarnya. Sambil menikmati belaian Ibu, Senja menjawab pelan.


"Baik Bu, insyaallah senja bersedia . . . ."


__ADS_2