HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 45. Kebahagiaan Aisha


__ADS_3

"Dari Mas Ikhbar? Sejak kapan Kak Ghibran dan Mas Ikhbar dekat dan saling menghubungi?" tanya Annisa dengan wajah penuh selidik.


Ghibran tersenyum miring mendengar ucapan adik sepupunya itu. Jika saja bukan karena kebetulan bertemu di sini, dia pasti akan menghindari. Dalam hati pria itu, dia yg tidak akan pernah membawa sang istri dalam pertemuan keluarga, kapan pun itu dan dimanapun diadakan.


Kesabaran seorang manusia ada batasnya. Dia tidak mau kehilangan Aisha hanya gara-gara mulut keluarganya. Ghibran berdiri dan mendekati Aisha, dia menggendong putrinya.


"Seharusnya kamu bersyukur aku beritahu tentang keadaan mertuamu. Mungkin dengan kehadiran kamu di saat mertua sakit, bisa memperbaiki rumah tangga. Bukannya justru mencurigai aku, Annisa," ucap Ghibran dengan penuh penekanan.


"Kenapa kamu emosi, Ghibran? Annisa hanya bertanya, sejak kapan kamu akrab dengan Ikhbar. Itu semua dia tanyakan karena kamu memang tak pernah dekat dengan suaminya selama ini, apa lagi sejak kamu menikah," ucap Ibu Nur.


Ghibran menarik napas dalam. Dia tidak ingin bertengkar dengan sang ibu. Lebih baik memutuskan pergi. Ini juga demi kebaikan sang istri. Tak ingin semua ini mempengaruhi kehamilannya.


"Maaf, Bu. Aku dan Aisha pamit. Pasti istriku sudah kelelahan. Aku takut mempengaruhi kehamilannya."


Tanpa menunggu jawaban atau pun persetujuan dari ibu, Ghibran menyalami tangan orang tuanya diikuti Aisha dan Syifa. Ibu tidak berkata apa pun, hanya raut wajahnya yang tampak cemberut.


Sampai di apartemen, Syifa sudah tertidur. Mungkin kelelahan. Malam ini hingga kamarnya selesai di dekorasi, gadis cilik itu tidur bersama mereka. Semua kemauan Aisha.


Sebelum pulang tadi, mereka telah makan malam, sehingga bisa langsung membaringkan tubuh mereka yang letih.


"Sayang, maafkan ibu, ya. Aku janji tidak akan mengajak kamu ke rumah ibu lagi," ucap Ghibran.


"Tidak apa, Mas. Justru jika aku tidak pernah datang ke rumah, Ibu akan semakin membenciku. Aku terima karena bagaimanapun ibulah yang telah melahirkan putra sehebat kamu. Asal jangan kamu yang berubah, aku masih akan tetap bertahan," ucap Aisha.

__ADS_1


"Terima kasih atas pengertian kamu untuk ibu. Aku akan berusaha membuat mata ibu terbuka dan bisa melihat ketulusan kamu," ucap Ghibran.


"Mas, kita tidak bisa memaksa seseorang untuk menyukai kita. Semua itu tentang hati," balas Aisha.


**


Aisha hanyalah seorang ibu rumah tangga yang rajin dan sayang dengan keluarganya. Setiap pagi, dia akan bangun lebih awal untuk mempersiapkan sarapan buat suaminya, Ghibran. Biasanya, dia akan menyiapkan nasi, lauk pauk, serta sayur dan buah untuk melengkapinya.


Pagi ini Aisha bangun lebih awal dari biasanya. Dia ingin mempersiapkan sarapan istimewa buat keluarganya, terutama buat si kecil n. Aisha membuka kulkas dan mencari bahan makanan yang tersedia. Dia menemukan beberapa telur, sosis, dan sayur mayur. Aisha tertarik untuk membuat scrambled egg dan sosis.


Aisha mulai mempersiapkan bahan-bahan untuk memasak. Dia menumis bawang putih dan bawang merah dalam minyak goreng hingga harum. Kemudian, dia memasukkan sayur mayur dan sosis ke dalam tumisan bawang. Saat sayur dan sosis sudah sedikit layu, Aisha memukul telur dan mencampurnya dengan tumisan bahan makanan tadi. Dia mengaduk-aduk telur hingga matang dan terlihat lezat.


Setelah scrambled egg dan sosis siap dihidangkan, Aisha memanggil Ghibran dan Syifa untuk sarapan. Anaknya itu tampak senang dengan sarapan buatan ibunya. "Wah, Mami, saraannya enak sekali!" ujarnya sembari memukul tangan kecilnya.


"Tentu saja, S,ayang. Buat anakku apa saja yang terbaik." jawab Aisha dengan senyum manis.


Setelah sarapan selesai, Aisha membersihkan dapur dan menyiapkan untuk memasak makan malam keluarga. Dia merasa bahagia bisa mempersiapkan makanan untuk keluarganya. Baginya, memasak makanan bukan hanya sekedar tugas, tapi juga cara untuk mengekspresikan cintanya pada keluarga.


"Sudah siap untuk makan malam nanti?" Tanya Aisha ke Ghibran dan Syifa. Mereka berdua mengangguk sambil tersenyum.


"Tentu saja, Mami. Apa yang mau Mami buat untuk makan malam?" tanya Syifa.


"Kali ini, kita akan makan steak dan salad. Papi dan Syifa pasti suka, kan?" ucap Aisha dengan ceria.

__ADS_1


"Oke, kalau begitu Papi akan membeli daging dan sayuran. Biar mami yang memasaknya." ucap Ghibran.


"Terima kasih, Suamikuuu." jawab Aisha dengan penuh rasa syukur.


Malam harinya, keluarga kecil itu menikmati steak dan salad yang enak dan sehat. Anak dan suaminya jelas senang sekali.


"Mami, kamu memang the best!" ujar Syifa.


"Iya, benar-benar enak. Aku pasti mau lagi." kata Ghibran.


Aisha merasa sangat bahagia melihat mereka senang dengan masakan yang dihidangkannya. Mereka bukan hanya makan bersama, tapi juga membangun kebersamaan dan keakraban keluarga. Hal itulah yang membuat Aisha semakin mencintai keluarganya.


"Mami, besok mau bikin apa lagi?" tanya Syifa dengan mata berbinar-binar.


"Kita bikin pasta, ya?" ujar Aisha.


"Apa itu pasta, Mi?" tanya Syifa penasaran.


"Lihat saja besok," jawab Aisha sambil tersenyum. Senang membuat putrinya penasaran. Syifa hanya membalas dengan senyuman godaan dari maminya.


Setelah makan malam selesai, Aisha dan keluarga kecilnya bercanda dan bermain di ruang tamu hingga larut malam. Hari itu menjadi hari yang istimewa buat mereka semua. Hal yang sederhana seperti masakan Aisha mampu membuat keluarganya bahagia dan merasa dicintai.


Aisha merasa sangat gembira, kehadiran Syifa menambah kebahagiaannya. Tak peduli mertuanya masih belum bisa menerima kehadiran bocah cilik itu.

__ADS_1


"Jika kamu ingin melihat pelangi, kamu harus belajar melihat hujan."


...----------------...


__ADS_2