HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 59. Ibu Sambung


__ADS_3

"Mas, jangan bicara begitu. Yang datang itu ibu kamu. Apa benar Mas marahan dengan ibu?" tanya Aisha dengan lembutnya. Takut suaminya makin marah.


Ghibran melonggarkan dasinya. Aisha mendekati suaminya. Wanita itu lalu meminta putrinya untuk mandi.


"Sayang, kamu bisa mandi sendiri, Nak?" tanya Aisha.


"Bisa dong, Mi. Mami aja yang manjain. Aku ini anak kuat dan pintar," jawab Syifa dengan antusias.


"Kamu mandi dulu sana. Sebentar lagi kita makan malam. Mami juga mau mandi setelah bicara sebentar dengan Papi," balas Aisha.


"Iya, Mi." Syifa bangun dan mengecup pipi Aisah dan juga Ghibran.


Aisha sengaja meminta putrinya mandi agar tidak mendengar obrolan dia dan suaminya. Bagaimana pun yang akan mereka bicarakan adalah neneknya. Dia tidak ingin Syifa jadi takut dan benci dengan wanita paruh baya itu.


Aisha dengan manjanya bersandar di dada bidang suaminya itu. Dia dapat mencium bau tubuh sang suami yang sangat dia sukai. Semenjak kehamilan, bau tubuh ini yang selalu dia rindukan.Tidur dalam dekapan dada pria itu sambil mencium bau tubuhnya.

__ADS_1


"Sayang, kamu manja banget. Aku suka kalau kamu begini," ucap Ghibran memeluk erat tubuh sang istri.


"Mas, apa benar kamu marah dengan ibu karena membelaku?" tanya Aisha. Ghibran menjawab dengan menganggukkan kepalanya saja.


"Mas, aku bahagia dan senang mendengar kamu membelaku. Aku bahagia banget. Namun, aku tidak mau hanya karena aku kamu jadi anak durhaka. Kamu marah dan membentak ibu karena aku. Ingat Mas, ridho Allah tergantung ridho nya ibu," ucap Aisha lagi.


"Dia bukan ibu kandungku," jawab Ghibran dengan pelan. Namun, masih sanggup membuat Aisha terkejut mendengarnya.


Aisha bangun dari tidurnya dan memandangi wajah suaminya dengan intens. Dia berharap Ghibran bisa menjelaskan tanpa di minta. Pria itu menarik tubuh sang istri agar bersandar kembali di dada bidangnya. Dia mengecup kepala wanita yang sangat dicintainya itu.


"Ibuku meninggal saat melahirkan aku. Nasibku dan Syifa sama. Cuma aku rasa Syifa lebih beruntung karena memiliki ibu sambung seperti kamu. Bukannya aku ingin mengatakan jika Ibu Nur jahat. Dia baik. Dari aku berusia tiga tahun, dia yang mengasuh dan merawat ku. Dia menyayangi aku seperti putra kandungnya. Aku juga menyanyanginya seperti ibu sendiri. Aku menghormatinya, tapi aku tidak mau lagi karena kesalahan ibu, harus kehilangan wanita yang aku cintai lagi. Tapi, rasa sayangnya membuat ibu jadi posesif," ucap Ghibran.


Ghibran kembali mengecup pipi sang istri. Dia sudah berjanji, tidak ada lagi kebohongan di antara mereka.


"Saat nenek meninggal, ibu mengajak aku ke kota karena tahu aku pacaran dengan Alya. Dia tidak suka karena menganggap Alya memberi pengaruh buruk. Dia mendengar dari tetangga jika Alya sering ke rumah nenek," ucap Ghibran.

__ADS_1


Ghibran menarik napas dalam. Dia teringat saat meninggalkan Alya tanpa kabar karena ibu yang memaksanya hari itu juga ke kota. Wanita juga mengganti nomor ponselnya. Sebagai anak, Ghibran ikuti saja mau ibunya. Tidak menduga jika di kampung Alya sedang hamil dan sudah sering mencoba menghubungi tapi tak bisa. Ghibran menceritakan semuanya pada Aisha tanpa menutupi apa pun lagi.


"Aku tidak terima jika ibu ikut campur dalam masalah keluargaku. Aku tidak mau kehilangan kamu, Sayang. Aku juga bukannya melawan ibu. Tapi aku mengingatkan jika perkataan dan ucapannya itu salah."


"Mas, aku terima kasih," ucap Aisha pelan.


"Terima kasih untuk apa, Sayang?" tanya Ghibran dengan keheranan.


"Terima kasih karena telah mencintaiku. Hal-hal yang telah kamu lakukan untukku sungguh menakjubkan. Aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih. Terima kasih banyak, Suamiku. Semoga Allah selalu menjaga cinta kita," ucap Aisha. Air matanya tanpa sadar menetes dari sudut matanya.


Ghibran menghapus air mata sang istri. Mengecup matanya. Hidung, dan terus ke bibir. Kecupan yang awalnya lembut menjadi menuntut. Pria itu me*lu*mat bibir istrinya. Aisha membalasnya. Mereka saling bermain lidah.


Saat keduanya sedang asyik dengan permainan lidahnya, Syifa masuk dan menatap keduanya tanpa kedip. Gadis cilik itu berdiri terpaku melihat apa yang kedua orang tuanya lakukan.


"Papi kenapa menggigit bibir Mami?" tanya Syifa dengan lugunya.

__ADS_1


Ghibran langsung melepaskan pagutan mereka. Memandangi wajah Syifa dengan senyuman simpul. Aisha langsung menyembunyikan wajahnya ke dalam selimut.


...----------------...


__ADS_2