
Tidak berapa lama setelah kepergian Ghibran, Ibu Nur melihat suaminya keluar dari ruang kerja. Pak Abdul langsung menuju kamar. Wanita itu lalu menyusul. Dia heran melihat suaminya berganti pakaian.
"Ayah, mau kemana?" tanya Ibu Nur dengan suara lembut.
"Mau menjenguk Aisah," jawab Pak Abdul dengan suara datar.
"Aku ikut, Yah. Tunggu sebentar," balas Ibu Nur. Dia berjalan menuju kamar mandi. Rencananya akan membasuh wajah saja.
"Ayah rasa Ibu jangan ikut. Takutnya Aisha akan tertekan lagi dan kembali sakit," jawab Pak Abdul.
Gerakan langkah kaki Ibu Nur terhenti mendengar ucapan sang suami. Dia tidak menyangka jika pria itu mengatakan hal demikian. Dia lalu membalikan tubuhnya menghadap ke suaminya.
"Kenapa Ayah berkata begitu? Apa salah Ibu?" tanya Ibu Nur dengan suara sedikit gemetar seperti menahan tangisannya
"Apa ibu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu jika Aisha masuk rumah sakit karena tertekan atas ucapan ibu dan saudara ibu lainnya," ucap Ayah Abdul dengan suara tegas.
"Ibu tidak ada mengatakan apa pun tentang Aisha. Hanya saja ibu meminta Syifa anaknya Ghibran untuk meminjamkan boneka miliknya sama Aqila anaknya Annisa. Apa itu salah? Kenapa Aisha jadi tertekan?" tanya Ibu Nur.
Ayah menatap ibu dengan sorot mata tajam. Menyadari tatapan mata sang suami, Ibu Nur menunduk. Dia mengerti jika ayah tidak percaya jika telah begitu memandanginya.
"Yah, jika memang karena ibu sakitnya Aisha, ibu akan minta maaf. Ibu ingin datang agar tidak ada lagi salah paham," ucap Ibu.
__ADS_1
"Untuk kali ini ayah rasa ibu jangan pergi. Biar ayah yang menyampaikan kata maafnya," ucap ayah Ghibran.
Ayah lalu pergi tanpa menunggu ibu. Wanita itu hanya bisa menatap kepergian suaminya dengan perasaan kecewa. Dia mengintip dari balik jendela kepergian Pak Abdul hingga mobilnya hilang dari pandangan.
Setelah mobil itu menjauh, ibu terduduk di sofa. Tidak pernah dia melihat sang suami begini. Biasanya jika marah pun, dia tetap mau pergi bersama.
"Apa Ayah begitu marahnya denganku. Annisa harus memberikan kesaksian jika aku hanya mempermasalahkan boneka milik Syifa tidak yang lain," gumam Ibu Nur dengan dirinya sendiri.
Ayah Abdul sampai di rumah sakit dengan membawa banyak makanan. Dia ingin bertemu dengan cucunya Syifa. Baru satu kali dia bertemu dengan bocah cilik itu saat Ghibran membawanya ke kantor.
Setalah memastikan jika kamar itu pasti, Pak Abdul mengetuknya. Terdengar langkah pelan menuju pintu.
"Waalaikumsalam, Kakek," jawab Syifa.
"Apa Kakek boleh masuk?" tanya Pak Abdul.
"Silakan, Kek!"
Pak Abdul masuk ke ruang rawat inap itu. Terlihat sang putra sedang menyuapi Aisha. Melihat kedatangan ayah mertuanya, wanita itu tersenyum dan meminta Ghibran menyudahi makannya.
"Kamu baru sedikit makannya," ucap Ghibran.
__ADS_1
"Nanti lagi, Mas," balas Aisha.
Pak Abdul mengucapkan salam dan dijawab serempak sama kedua suami istri itu.
"Teruskan saja makannya. Kenapa malu?" tanya Ayah Abdul.
Aisha hanya menjawab dengan tersenyum. Dia malu karena harus disuapi suaminya.
"Nanti saja makannya, Yah."
"Ayah datang bukan saja untuk menjenguk kamu, tapi juga untuk meminta maaf padamu atas sikap dan perkataan ibu yang menyakiti hatimu. Sebagai suaminya, ayah malu karena belum bisa mendidik dan mengajari ibu agar lebih baik dalam bertindak," ucap Pak Abdul.
"Aku sudah memaafkan ibu, Yah. Seharusnya aku juga tidak terbawa emosi. Sebagai anak dan yang lebih muda semestinya aku bisa memahami ibu. Semua yang ibu lakukan pasti demi kebaikan anak dan cucunya. Aku mungkin harus lebih bersabar," balas Aisha.
"Kamu tidak salah, Nak. Kesabaran seseorang itu memang ada batasnya," ujar Ayah Abdul.
"Ayah, bukan Kesabaran jika masih mempunyai batas dan bukanlah keikhlasan jika masih merasa sakit," jawab Aisha.
Tanpa bisa di tahan, dari sudut mata pria itu mengalir air mata. Dia merasa sangat bahagia karena putranya memiliki istri seperti Aisha. Tidak akan dia biarkan siapa pun itu mengganggu rumah tangga sang anak, meskipun istrinya sendiri. Ucap Pak Abdul dalam hatinya.
...----------------...
__ADS_1