HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
4.arti seorang sahabat


__ADS_3

Azan magrib sebentar lagi terdengar. angga menatap arena skate park dengan tatapan kosong. di hatinya tersimpan kesedihan yang mendalam. sebulan lalu di tempat ini, dia terlibat pembicaraan serius dengan Satria.


"Sat, kapan kamu mau berhenti dan berubah? kasian dengan perempuan2 yang kamu taklukkan ,lalu kamu tinggalkan begitu saja."


"Enggak banyak, ko, kamu jangan lebay. lagian semuanya dilakukan atas dasar suka sama suka."


"Ya, tapi semuanya karena termakan modus hebatmu. dan, kalau kamu enggak berubah, korbannya akan terus bertambah."


Satria menatap sahabatnya dan bertanya" Kenapa kamu gak pernah bosan nasehati dan gajak aku hijrah, Angga?"


Angga menatap sahabatnya sebentar, lalu pandangannya mengarah ke arena *akate park.


"Karena aku* pengen kamu juga ngerasain perasaan damai yg aku rasain sekarang."


Satria terdiam mendengar jawaban Angga. mereka berdua adalah sahabat dekat sejak SMA dan kuliah. sejak lulus setahun yang lalu, mereka hanya sesekali bertemu di arena skate park ini.


Dulu, tepatnya dua tahun yang lalu, Angga lah yang mengenal Satria pada permainan olahraga ekstrem ini. Angga mencintai sketeboard dengan sesungguh hati. sedangkan bagi Satria, skateboard hanyalah alat untuk terlihat keren di hadapan para gebetanya.


Akan tetapi, setahun ini mereka jarang bertemu. bukan hanya karena sudah lulus kuliah, melainkan jalan yg Meraka ambil berbanding terbalik. Angga yg dulu adalah teman nakal Satria sekarang lebih sering menghadiri pengajian ilmu dan keislaman. apalagi setelah kakaknya merupakan anggota geng motor di Bandung meninggal dunia karena overdosis narkoba. saat itu lah Angga merasa dirinya harus berubah.


Akan tetapi, di sisi lain Satria sahabatnya justru terlihat semakin berani melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dia setujui.


"Aku enggak pengen melihat sahabat ku sendiri menzolimi orang lain," kata Angga


Satria merenungi petuah sahabatnya


"Apa yang harus aku lakuin, Angga? bagiku ini gak mudah," kata Satria.


Angga menoleh ke arah Satria, lalu menjawab," Niat dan kesunguhan untuk berubah, cukup dua hal itu."


Obrolan sebulan lalu membekas dalam diri Angga. tapi, hari ini, dia melihat sahabatnya sedang melakukan lagi sesuatu yang sudah menjadi formula baku dengan akhir yang bisa di tebak.


"ya Allah.......bisakah aku mencegah nya?"


5. lelaki bernama ayah


Tepat pukul 9.00 malam, Senja tiba di rumah dengan perasaan bahagia. Senja yg lalu, dia resmi menjadi kekasih Satria. kekasih impian yang iya harapkan bisa mengisi kekosongan hatinya akan sosok lelaki bernama Ayah.

__ADS_1


Ayah yang seharusnya melindungi. mengantarnya Kemana pun iya pergi saat membutuhkan. membiayai dan memberikan dia uang jajan. Ah, betapa Senja merindukan semua hal itu sejak dari kecil.


Dan, Satria, kekasih yg mengantarnya pulang malam ini adalah pelepas rindunya. pengisi kekosongan hatinya selama ini.


Di halaman rumah, mereka berdua saling bertatapan mesra. Satria mengecup kening Senja lembut.


"Mulai hari ini dan seterusnya, Aku kan selalu ada untuk mu," kata Satria sambil kemudian pamit dan menjalan kan motornya bergegas pulang.


Perkataan Satria membuat Senja terbuai. dia tak segera beranjak dan terus menatap punggung kekasih yang sangat dia kagumi itu sehingga dia menjauh dan menghilang ditelan malam.


"Aku mencintaimu, Aku milikmu, Satria Pradipta," ucap Senja lirih. kemudian, dia berjalan masuk kerumahnya yg sederhana itu.


Di dalam rumah, Senja bergegas dia menuju kamar Ibunya yang sedang berbaring sakit. Ibu yang selama ini yang telah berjuang merawat dan membesarkannya seorang diri.


"Senja? sudah pulang, Nak?" ucap Ibu pelan.


Senja mendekati tempat tidur Ibu dan duduk di sampingnya.


"Iya Ibu, Ibu sudah makan?"


"Kamu yg seharusnya Ibu tanya. kamu sudah makan nak?"


"Kamu pergi sama siapa?"


"Sama teman, Bu...."


"Oh......."


"Oh ya.paman dan Bibik kemana?"


"Baru saja pulang 30 menit yang lalu. besok mereka akan kesini lagi....."


"Tadi, Paman gajak ibu kemana lagi?"


"Itu, paman dan Bibikmu gajak Ibu kepengajian lagi hari Minggu ke Daarut Tauhid. itu juga kau ibu sudah baikan."


"Oh.... Ibu kok, mau di ajak paman dan Bibi?"

__ADS_1


"Ibu, kan, sudah mulai tua, nak. Ibu ingin belajar," jawab sang Ibu.


Senja diam sesaat, mereka tak biasa dengan beberapa aktifitas yg di lakukan oleh ibunya akhir-akhir ini.


"Senja, ke kamar ya, Bu. Ibu istirahat biyar cepat sembuh." Senja mencium kening Ibu nya, lalu berdiri dan melangkah pelan menuju pintu keluar kamar. Tapi, kemudian Ibu memangil senja kembali..


"Senja, Ibu mau cerita......."


senja berbalik dan mendekati ibunya .


"Cerita apa Bu?"tanya senja.


"Tentang ayah mu, sebenarnya....."


Belum selesai ibu berbicara, Senja langsung memotong. Mimik wajah nya berubah penuh kemarahan.


"Senja gak punya Ayah, Ibu. itu kan, yang sering Ibu bilang dulu. Senja gak punya ayah!"


"Senja, izinkan Ibu cerita dulu....."


"Enggak perlu, Bu. Ibu istirahat saja."


Senja langsung pergi meninggalkan Ibu menuju kamarnya. sampai di kamar dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. perasaanya campu aduk. Di satu sisi dia sangat merasa bahagia karena hari ini menjadi kekasih Satria. seseorang lelaki yang paling di cintai dalam hidupnya. Di sisi lain dia tak menyala Ibunya akan membahas sosok lelaki yang tak pernah ada dalam hidupnya. lelaki paling tak bertanggung jawab. lelaki yang paling dia benci di dunia ini.


Sementara di dalam kamar, air mata Ibu mengalir deras tak termendung. Ada penyesalan yang semakin besar di rasakannya. Teringat obrolan tadi sore dengan paman dan Bibi.


"Pasti tak mudah menjelaskan kepada Senja karena selama ini Teh Sinta Telah membangun istana kebencian dalam hati dan pikirannya. Tapi, bagaimanapun, teteh harus jelas kan segera munkin karena ini untuk kebaikan masa depanya, dan ini adalah amanah dari Kakang."


Masih tergiyang ucapan paman tadi sore dan itu membuat air mata Ibu menderas. Sementara bayang kematian yang masuk kemimpi dan meneror tidur nya akhir-akhir ini kembali hadir dan membuat dia ketakutan.


Ibu teringat nasehat ustad dalam kajian di masjid komplek rumahnya.


"Berzikirlah...ingat lah Allah maka hati akan menjadi tenang, dan zikir terbaik adalah memperbanyak zikir."


"Astagfirullah'adzim......


astagfirullah'adzim.......

__ADS_1


astagfirullah'adzim....."


Berulang-ulang ibu mengucapkan kalimat istighfar sepenuh hati. Tiap lafaz membekas dan terasa mengalir dari tengorokan Hinga merasuk ke dada. Ketenangan berlahan Ibu rasakan, hingga akhirnya Ibu terlelap.


__ADS_2