
Pagi itu, Ghibran dan Aisha bangun lebih pagi dari biasanya. Mereka berdua saling pandang dengan senyuman manis yang penuh kebahagiaan. Hari itu istimewa karena kedua orang tua Ghibran, Bapak Abdul dan Ibu Nur, sedang menginap di rumah mereka.
"Aish, kita harus membuat sarapan enak untuk mereka. Mereka pasti senang," kata Ghibran sambil mengucek-ucek matanya yang masih agak mengantuk.
Aisha mengangguk setuju. "Tentu, Mas. Ayo kita ke dapur dan mulai mempersiapkan sarapan spesial untuk mereka."
Tak lama kemudian, Ghibran dan Aisha sudah sibuk di dapur. Ghibran dengan penuh semangat membantu Aisha dalam mengambil bahan-bahan makanan dari kulkas dan memotong-motong sayuran dengan cekatan.
"Sungguh, kamu tak perlu ikut membantu, Mas. Aku bisa mengurus semuanya sendiri," ujar Aisha sambil melihat Ghibran dengan ekspresi antara senang dan sedikit khawatir.
Ghibran membalas dengan senyuman hangat. "Tidak apa-apa, Sayang. Aku ingin membantu dan melibatkan diriku dalam persiapan sarapan ini. Biar semua tahu kalau aku bisa membantu kamu memasak dengan tanganku ini."
__ADS_1
Tak lama setelah itu, wangi harum makanan pun mulai menyebar ke seluruh rumah. Aisha mencicipi kuah sup yang baru saja dia masak dan tersenyum puas. "Ini rasanya enak, Mas. Aku yakin kedua orang tua mu akan menyukainya."
Ghibran mengangguk setuju sambil memuji Aisha. "Tentu saja, Sayang. Kamu memang ahli dalam memasak. Aku beruntung bisa menikahi seorang chef seperti kamu."
Mereka telah menyiapkan meja dengan penuh kasih sayang. Semua hidangan keluaran Aisha terpampang rapi di atas meja makan. Mereka berdua pun dengan senang hati menunggu kedatangan kedua orang tua Ghibran.
Saat Bapak Abdul dan Ibu Nur turun ke ruang makan, mereka terkejut melihat Ghibran sudah ada di sana. "Ghibran, apa yang kamu lakukan di sini? Ibu pikir tidak pantas seorang suami memasak. Ibu tidak pernah mengizinkan ayah kamu di dapur," ujar Ibu Nur dengan nada sedikit sinis.
"Maaf, Bu. Aku hanya ingin membantu Aisha menyiapkan sarapan untuk semua orang. Aku percaya bahwa kemampuan masak tidak tergantung pada gender, melainkan niat dan keinginan untuk membuat orang lain bahagia," balas Ghibran.
"Bahwa memasak sebenarnya bukan kewajiban istri. Akan tetapi, justru suami yang berkewajiban melakukannya. Bahkan, lebih dari itu mencuci baju dan menyusui anak juga sebenarnya dibebankan kepada suami. Namun, jika istri yang membantu itu lebih baik," lanjut Pak Abdul.
__ADS_1
Ibu Nur hanya terdiam mendengar ucapan sang suami. Aisha tidak mau buka suara. Dia tidak ingin berdebat.
"Maaf ya, anakku. Mungkin memang zaman sudah berubah. Aku hanya belum terbiasa dengan pemikiran yang baru. Tapi aku senang melihatmu berdua bekerja sama menyiapkan sarapan ini," jawab Ibu Nur akhirnya.
Dia tidak mau memperpanjang masalah ini. Nanti di rumah suaminya bisa menceramahi dirinya.
"Terima kasih, Bu. Aku hanya ingin membantu Aisha. Dia ingin membuat sarapan spesial untuk ayah dan ibu. Kasihan jika hanya dia yang memasak. Lagi pula seperti kata ayah, semua pekerjaan dapur itu kewajiban suami. Bukan seorang istri," jawab Ghibran.
Aisha tersenyum mendengar jawaban sang suami. Dia merasa bersyukur memiliki suami seperti Ghibran yang selalu membela dirinya.
Setelah itu, suasana dapur kembali riuh dengan tawa dan canda. Sementara Ghibran dan Aisha bekerja sama menyelesaikan masakan yang mereka hadirkan dengan penuh cinta bagi kedua orang tua Ghibran. Tujuan mereka adalah untuk memberikan kebahagiaan dan kepuasan bagi semua orang yang mereka cintai. Syifa juga ikutan membantu, walau hanya mencuci sayuran.
__ADS_1
Meskipun awalnya ibu Nur agak tidak bisa menerima, akhirnya dia melihat dengan mata kepalanya bahwa Ghibran dan Aisha adalah pasangan yang saling menghargai, bekerja sama, dan saling mendukung satu sama lain. Akhirnya, sarapan pun disajikan dengan indah dan semua orang bisa menikmati hidangan yang lezat tersebut.
...----------------...