
Senyum semringah tampak dari raut wajah Ghibran. Dia tidak mengira jika tanggapan dari sang istri begitu baiknya. Aisha langsung setuju saat di ajak menemui Syifa, bahkan dia meminta sang suami untuk membawa pulang anak itu sekalian bareng mereka nantinya.
Sesekali tangan kiri Ghibran mengusap wajah sang istri dengan lembut, dan akan di sambut dengan ciuman dari Aisha. Dia akan mengecup tangan suaminya, membuat hati Ghibran makin bahagia.
Ghibran tidak peduli jika kedua orang tuanya belum bisa menerima kehadiran Syifa. Baginya yang terpenting adalah Aisha. Jika istrinya menerima putrinya dengan tangan terbuka, maka itu sudah lebih dari cukup.
Aisha tertidur dalam perjalanan, sehingga Ghibran memperlambat jalan mobilnya. Dia tak hentinya mengucapkan rasa syukur karena memiliki istri seperti Aisha.
Setelah lima jam perjalanan, akhirnya mobil memasuki pekarangan panti asuhan. Sedikit lama perjalanan yang di tempuh karena Ghibran menjalankan mobilnya dengan pelan.
"Sayang, bangun!" ucap Ghibran lembut sambil mengguncang tubuh istrinya pelan.
Mata Aisha perlahan terbuka. Tersenyum menyadari wajah suaminya sangat dekat. Ghibran langsung mengecup bibir sang istri begitu matanya terbuka.
"Kita telah sampai. Capek banget, ya?" tanya Ghibran.
"Seharusnya aku yang bertanya, apakah mas capek?" Aisha balik bertanya.
"Nggak. Kamu mau keluar sekarang?" tanya Ghibran lagi. Aisha menjawab dengan anggukan kepala.
Dengan menggandeng tangan sang istri, Ghibran berjalan menuju pintu utama panti asuhan. Dia lalu mengetuk pintu saat ingin masuk.
Pintu yayasan itu selalu terbuka untuk siapa saja, tapi Ghibran tetap mengetuk sebelum masuk sebagai orang yang beradab. Tampak seorang wanita paruh baya keluar dari salah satu ruangan.
"Nak Ghibran, ibu kira siapa," ucap Bunda Yeyet. Matanya melirik ke arah Aisha.
Wanita itu tersenyum membalas senyuman yang Aisha berikan.Melihat pandangan bunda yang tertuju pada Aisha, Ghibran lalu mengenalkan istrinya itu.
"Bunda, kenalkan ini Aisha istriku," ucap Ghibran.
Aisha dengan tersenyum mengulurkan tangannya dan menyebut nama. Begitu juga dengan Bunda Yeyet. Saat kedua wanita itu sedang berkenalan, datang dari ruang belakang seorang bocah wanita yang langsung berlari begitu melihat Ghibran.
"Papi ...," teriak bocah itu sambil berlari ke arah Ghibran.
__ADS_1
Melihat putrinya yang berlari, Ghibran langsung merentangkan tangan menyambutnya. Dia lalu menggendong sang putri. Syifa mencium kedua pipi pria itu berulang kali. Seperti bertahun-tahun lamanya tidak bertemu.
Pandangan bocah itu lalu tertuju ke Aisha yang berdiri di samping Ghibran. Bocah itu membalas senyuman yang diberikan sang istri.
"Tante ini siapa, Pi? Cantik," ucap Syifa dengan setengah berbisik.
"Maminya Syifa," jawab Ghibran.
"Mami aku?" tanya Syifa lagi.
"Iya, Sayang. Mami kamu. Papi pernah janji akan membawa kamu ke mami yang baru, ini dia."
Masih dalam gendongan Ghibran, putri kecilnya mendekatkan wajah ke Aisha. Syifa mengecup pipi Aisha dengan lembut, membuat wanita itu terharu.
"Mami cantik banget," ucap Syifa dengan suara khas anak kecilnya.
"Kamu juga sangat cantik," ucap Aisha.
Gadis kecil itu merentangkan tangan, minta di gendong sama Aisha. Dengan tersenyum, wanita itu menyambutnya. Dia lalu menggendong putri dari suaminya itu.
"Papi dan Mami akan menjemput Syifa untuk tinggal bersama kami," ucap Ghibran begitu mereka bertiga duduk berkumpul di taman.
Wajah Syifa langsung berbinar saat mendengar sang ayah mengatakan itu. Telah lama dia ingin ikut sang papi, akhirnya sekarang keinginan itu terkabul.
"Benar itu, Papi. Aku akan tinggal sama Papi dan Mami seperti teman-temanku yang lain?" tanya Syifa dengan bola mata berbinar karena bahagia.
Gadis cilik itu langsung naik kepangkuan Aisha dan mencium seluruh bagian di wajah wanita itu secara berulang kali. Dalam pikirannya Aisha adalah peri penolong. Datang sekali, langsung membawanya pulang.
"Terima kasih, Mami. Aku sayang, Mami," ucapnya dengan tulus.
Air mata Aisha tidak bisa di bendung. Jatuh membasahi pipinya. Kenapa dia kemarin bisa cemburu dengan gadis selucu ini. Lihatlah, mana yang lebih menderita, Syifa apa dirinya. Dari lahir dia tidak mengenal siapa ibu yang telah melahirkan dirinya.
"Semua yang hadir dalam hidupku adalah orang baik, apa pun akhirnya akan tetap baik dimataku. Aku bukan manusia pendendam. Aku tidak akan pernah lupa dengan kebaikan dari siapa pun. Selalu ku ingat "sebaik-baiknya manusia pasti memiliki sisi buruk juga, begitu pun juga aku".
__ADS_1
Tidak ada lagi rasa marah dan dendam di hati pada suami yang pernah membohongi dirinya. Bukankah setiap manusia ada sisi buruk dan baiknya, dan selama bersama Ghibran yang dia dapatkan kebaikan.
"Kenapa Mami menangis?" tanya Syifa sambil menghapus air mata di pipi Aisha dengan tangan mungilnya.
"Maafkan Mami, karena Mami dan Papi telat menjemputmu," ucap Aisha. Ghibran yang mendengar ucapan sang istri menjadi terharu. Aisha tidak pernah menyalahkan orang lain, selalu saja dirinya yang merasa bersalah.
Saat pergi dari rumah, berulang kali meminta maaf. Padahal bagi Ghibran, dia yang salah. Begitu juga saat ini, dia merasa bersalah karena telat menjemput. Dia merasa paling beruntung dan bersyukur di beri istri sebaik Aisha.
"Sayang, duduknya di pangkuan Papi saja," ucap Ghibran.
"Kenapa, Pi? Aku berat ya, Mi?" tanya Syifa.
"Tidak, kamu tidak berat," jawab Aisha.
"Di dalam perut mami saat ini ada adik kamu. Papi takut adiknya yang sakit. Kasihan mami, masa harus gendong kamu dan adik," ucap Ghibran.
"Benar, Mi. Dalam perut Mami ada adik aku?" tanya Syifa dengan polosnya.
"Iya, Sayang," jawab Aisha.
Mendengar jawaban Aisha, bocah cilik itu langsung turun dari pangkuan wanita itu. Dia duduk di sampingnya. Syifa lalu mengecup perut Aisha dan mengusapnya.
"Maafkan Kak Syifa ya, Dek. Kakak nggak tahu ada adik di perut Mami," ucapnya polos. Aisha yang mendengar jadi tersenyum. Ghibran berdiri dan pamit ke dalam yayasan.
"Sayang, sudah jam dua siang. Kamu belum makan. Nanti sakit. Kita pamit sama bunda dulu. Pakaian Syifa hanya sebagian aku bawa. Yang lain untuk anak di sini saja," ucap Ghibran.
Ghibran tadi memang masuk ke panti dan membiarkan Syifa dan Aisha berdua agar lebih akrab. Dia menyusun baju dan mainan yang Syifa senangi. Tidak semua barang di bawa. Pria itu juga telah pamit dan memberi uang untuk yayasan pada Bunda Yeyet.
"Baik, Mas. Sayang kita pamit pada bunda dulu ya," ucap Aisha. Dia mengajak sang putri masuk ke panti untuk pamit dengan bunda serta teman lainnya.
"Ada doa-doa yang akhirnya menembus langit. Ada juga yang harus patah di tengah jalan. Tak peduli sederas apa air mata yang jatuh mengiringi. Tapi percayalah, tak ada permohonan yang ditolak. Kecuali akan di ganti yang lebih baik. Karena takdir Allah selalu sempurna. Takdir Allah tidak pernah salah. Berdamai dengan takdir adalah sebaik-baiknya pilihan."
Bagi Aisha mungkin inilah takdir Allah yang terbaik baginya. Bertemu Ghibran dan menghabiskan sisa hidup dengan pria itu.
__ADS_1
...----------------...