HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 83. Bertemu Ghibran


__ADS_3

Syifa berlari menuju Pak Abdul yang sedang memilih pakaian bayi untuk anaknya. Di belakang Syifa, ada Ghibran dan Aisha yang mengikuti.


Ghibran memandangi ayah dan Rachel, istri mudanya tanpa kedip. Pak Abdul tampak canggung. Dia lalu menggendong dan mengecup pipi Syifa.


"Kakek, Tante ini siapa? Dia mau punya adik seperti mami?" tanya Syifa dengan polosnya. Rachel yang ditunjuk hanya memberikan senyumannya.


Ghibran dan Aisha menyalami dan mencium tangan Pak Abdul. Pandangan mata pria itu masih terus pada Rachel sehingga wanita itu menjadi gugup dan menundukkan kepalanya.


"Ghibran, kenalkan ini Rachel. Istri ayah," ucap Pak Abdul pelan.


Dia tidak mungkin bisa mengelak lagi. Ghibran juga telah mengetahui semuanya dari sang ibu. Rachel mengulurkan tangannya, tapi tak disambut pria itu. Tampak raut kekecewaan di wajahnya.


Rachel lalu mengulurkan tangannya pada Aisha. Keduanya lalu saling berjabat tangan. Istri Ghibran itu memberikan senyum manisnya.


"Kamu mau beli perlengkapan bayi juga, Aisha? Pilihlah yang kamu suka. Nanti ayah yang bayar sekalian," ucap Pak Abdul.


"Nggak usah, Yah. Mas Ghibran masih bisa belikan," balas Aisha.


"Nggak apa, Nak. Biar sekalian."


"Tak perlu, Yah. Itu kewajibanku!" jawab Ghibran dengan ketus.


Ghibran lalu mengambil Syifa dari gendongan sang ayah. Dia memegang tangan Aisha. Mengajak pergi dari sana.


"Kita makan dulu. Aku lapar. Cari pakaian bayi nanti aja, ya," ucap Ghibran.

__ADS_1


Ghibran pergi meninggalkan ayah dan Rachel tanpa pamit dulu. Hanya Aisha yang mengatakan. Wanita itu tidak ingin terlalu ikut campur.


Saat baru beberapa langkah, terdengar suara ayah memanggil. Awalnya Ghibran terus berjalan, tapi Aisha memintanya berhenti. Bagaimana pun itu ayahnya. Harus dihormati.


"Ghibran, maafkan ayah jika kamu tak suka dengan pernikahan ayah ini. Tapi kamu jangan membenci Rachel atau anak yang ada dalam kandungannya. Bagaimana pun, anak itu satu darah denganmu. Dia calon adikmu. Ayah harap kamu bisa mengerti. Kamu juga pasti paham, jika seorang pria boleh memiliki istri lebih dari satu," ucap sang ayah.


Ghibran tampak menarik napas dalam. Rahangnya sedikit mengeras, mencoba menahan amarah.


"Bukan soal menikah lagi yang aku tidak bisa terima. Tapi cara Ayah melakukan ini yang tak aku suka. Kenapa sebelum melakukan itu, Ayah tak berterus terang? Kenapa harus diam-diam? Apakah Ayah pikir, dengan berbohong itu bukanlah dosa?" ucap Ghibran dengan penuh penekanan.


Walau akhir-akhir ini hubungannya dengan sang ibu kurang baik, tapi dia tetap menyayangi Ibu Nur. Wanita itu yang menjaganya dari kecil. Melihat ibu sambungnya itu sedih, hatinya sebagai seorang anak juga ikutan sedih.


"Ayah mengaku salah. Tapi ayah harap kamu jangan menghukum Rachel, cukup ayah saja. Dia lagi hamil. Selama ini sudah cukup tertekan karena merasa bersalah telah menikah dengan ayah dan di cap sebagai pelakor," ucap Ayah.


Jauh di belakang ayah, Rachel memandangi ayah dan anak itu berdebat. Tampaknya sekali jika dia sedih. Merasa bersalah karena menjadi penyebab kedua pria itu bertengkar.


Aisha menggenggam tangan suaminya. Dia tahu pria itu sedang menahan amarahnya.


"Mas, apa tidak sebaiknya kita bicara sambil makan. Atau duduk di suatu tempat. Jika begini, kita bisa menjadi pusat perhatian. Malu 'kan!" ucap Aisha dengan lembut.


"Ayah, kami mau ke restoran di sana. Ayah bisa menyusul," ujar Aisha. Dia lalu mengajak Ghibran dan Syifa melanjutkan langkah kaki menuju restoran.


Aisha meminta Ghibran memilih duduk paling sudut dalam. Agar nanti di saat mereka mengobrol tidak ada yang terganggu.


Baru saja mereka duduk, datang Ayah Abdul dan Rachel. Wanita itu hanya menunduk. Sepertinya dia ketakutan. Pak Abdul memilih duduk berhadapan dengan anaknya Ghibran.

__ADS_1


Suasana tampak semakin tegang. Semua hanya diam membisu. Tidak ada yang membuka suara. Hingga akhirnya terdengar suara pelan dari Rachel.


"Maafkan aku. Semua memang salahku," ucapnya Rachel dengan lirih.


"Syukurlah jika kamu sadar akan kesalahanmu. Kamu masih muda. Kenapa mau menjadi duri dalam rumah tangga seseorang? Padahal kamu bisa mendapatkan yang jauh lebih muda dari ayah saya," ucap Ghibran.


"Aku tahu, tidak seharusnya aku menjadi penyebab retaknya rumah tangga seseorang. Sekali lagi maafkan, aku!" Hanya itu yang Rachel jawab.


"Ghibran, Rachel sudah menolak saat ayah memintanya menjadi istri. Namun, ayah terus saja meyakinkan dia, jika apa yang terjadi antara kami, itu semua sudah menjadi takdir. Tidak ada seorang wanita pun yang menjadi seperti ini," ucap Ayah mencoba membela istrinya.


"Apa kamu tenang dan bahagia setelah menikah dengan ayahku?" tanya Ghibran dengan sedikit ketus.


Rachel mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk. Dia menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak akan merasa tenang sebelum meminta maaf dengan Ibu Nur," jawab Rachel dengan suara pelan.


"Tentu saja kamu tidak akan merasa tenang, karena wanita baik tidak akan merusak kebahagiaan wanita lain!" balas Ghibran dengan ucapan penuh penekanan.


"Ghibran! Jaga ucapanmu!" ucap Ayah dengan sedikit emosi.


"Mas, apa yang Ghibran katakan itu benar. Aku memang bukan wanita baik, karena telah merusak kebahagiaan wanita lain," jawab Rachel.


Air mata Rachel tampak jatuh membasahi pipinya. Ayah Abdul yang melihat istrinya menangis, langsung menggenggam tangannya. Dia mengajak sang istri bangun dari duduknya.


"Ayah dan Rachel telah meminta maaf atas semua salah yang kami lakukan. Ayah rasa sudah cukup pembicaraan ini. Kami pamit," ucap Ayah Abdul dan mengajak istrinya pergi dari hadapan anak dan menantunya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2