HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 67. Perdebatan Aisha dan Ibu


__ADS_3

Mamanya Annisa menghampiri mereka. Dia mendengar keributan kecil antara mertua dan menantu itu.


"Kenapa kamu berkata begitu?" tanya Ibu Nur dengan suara sedikit gemetar menahan amarah. Mungkin jika mereka tidak berada di rumah sakit, dia akan menghardik Aisha.


"Aku sudah tahu semuanya dari Mas Ghibran. Antara aku dan suamiku tidak ada rahasia. Kami saling terbuka," jawab Aisha dengan suara yang menahan emosi.


Ghibran yang melihat keadaan sudah tidak kondusif, mendekati istrinya. Memeluk bahu wanita itu.


"Kita ke hotel lagi. Jangan marah-marah. Ingat bayi dalam kandunganmu," bisik Ghibran dengan suara lembut dan mengecup pipi istrinya.


Dia takut kejadian waktu itu terulang kembali. Karena menahan emosi, Aisha sampai pingsan.


"Aisha, walau Ibu Nur bukan ibu kandung Ghibran, tapi dia yang telah membesarkan suamimu. Sudah seperti ibu kandung. Seharusnya kamu menghormati dia," ucap Mamanya Annisa.


Tangan Aisha gemetar karena menahan emosi. Ghibran dapat merasakan itu. Dia menggenggam tangan istrinya memberikan kekuatan.

__ADS_1


"Tante, cukup! Jangan buat keributan. Ini rumah sakit. Kapan istriku tidak menghormati Ibu? Walau ibu selalu menyindirnya. Dia tetap menghargai dan tidak pernah mengatakan ibu salah'kan?" tanya Ghibran.


"Maafkan Ibu jika membuat istrimu marah. Ibu meminta kamu tetap di sini, karena takut ada apa-apa yang membutuhkan tenaga pria. Namun, jika istrimu tidak mengizinkan. Kamu pergi saja dengannya," jawab Ibu Nur.


Aisha tampak menarik napas lagi. Selalu begini'kan? Salah atau tidak salah ucapannya, tetap salah di mata ibu mertuanya. Namun, dia tidak peduli lagi. Bukannya dia tidak menghormati Ibu Nur. Tapi dia hanya ingin mempertahankan apa yang telah menjadi miliknya. Cukup sekali pria nya berpaling dan meninggalkan dirinya.


"Papi, aku ngantuk. Ayo kita ke hotel lagi!" ucap Syifa. Dia menarik tangan pria itu, memintanya segera pergi.


Ibu Nur menatap tajam ke arah bocah itu. Dia tidak suka melihat Syifa yang menarik tangan Ghibran agar segera meninggalkan ruangan itu. Annisa hanya bisa menatap dari tempatnya duduk. Dia takut ikut campur.


"Aku yakin Ibu pasti lebih paham tentang ini. Jangan mewajarkan sesuatu yang jelas bertentangan dengan agama hanya berdasarkan kata, sudah menganggapnya seperti saudara sendiri! Semua sudah diatur dalam agama!" ucap Aisha kemudian.


Mamanya Annisa mendekati sang kakak. Menggenggam tangan wanita paruh baya itu. Dia tahu saat ini Ibu Nur sedang menahan marahnya. Demikian juga dengannya. Ingin rasanya dia memaki Aisha jika tidak mengingat ada Ghibran.


"Jangan mengajari Ibu mertuamu, Aisha. Aku yakin kakakku ini lebih tahu darimu tentang semua itu. Aku akan minta bantuan Tio atau Anton. Jangan takut! Ghibran tidak akan menemani Annisa!" ucap Mamanya Annisa dengan ketus.

__ADS_1


"Sudah cukup! Aku pamit. Semoga Ikhbar cepat sadar," ucap Ghibran. Dia lalu menyalami kedua wanita itu. Begitu juga dengan Aisha dan Syifa. Mereka juga menyalaminya. Aisha lalu mendekati Annisa dan pamit pulang.


"Maafkan mamaku, Mbak. Dia lupa jika Kak Ghibran sekarang telah memiliki istri. Mama dulu terbiasa minta tolong dengan Kak Gibran," ucap Annisa.


"Aku juga minta maaf karena tidak mengizinkan Mas Ghibran menemani kamu. Semua demi kebaikan bersama. Aku harap kamu mengerti dengan alasanku ini. Jika Ikhbar telah sadar, bisa kamu tanyakan langsung. Jika kamu dan Ghibran bukan mahram. Aku minta mulai hari ini, tolong jaga jarak dan batasannya," ucap Aisha.


Jika selama ini dia diam saja melihat kedekatan Annisa dan Ghibran, karena dia pikir mereka ada hubungan darah. Mulai hari ini dia tidak akan pernah memaklumi semua lagi. Bukan saja untuk menjaga Marwah sang suami, tapi juga untuk mempertahankan apa yang telah menjadi miliknya.


Annisa hanya menganggukan kepalanya menjawab ucapan Aisha. Mereka bertiga langsung meninggalkan ruangan itu. Baru saja ketiga orang itu menghilang dari pandangan, Ibu Nur langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa.


"Sepertinya Aisha sudah mulai berani melawan Kak Nur. Semua ini juga salahnya Ghibran. Kenapa harus mengatakan tentang Kak Nur yang hanya ibu tirinya!" ucap Mamanya Annisa dengan kesal.


Ibu Nur tidak menjawab apa pun yang adiknya katakan. Dia hanya mencoba mengingat kata suaminya. Kalau dia harus baik dengan Ghibran dan istrinya, karena kelak hanya mereka yang akan menjaga dirinya di hari tua. Namun, entah mengapa hatinya belum bisa terima dengan Aisha. Dia selalu saja mencari alasan untuk pertengkaran. Jika saja suaminya tahu, bisa diceramahi lagi.


"Sudahlah, Dek. Aku memang yang salah. Jika Mas Abdul tahu aku berdebat lagi dengan Aisha, dia bisa marah," ucap Ibu Nur pelan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2