
Revan duduk di anak tangga depan sebuah bangunan tinggi, anak tangga yang jumlahnya sampai belasan dan ia menyendiri di tepinya.
Revan menoleh saat merasakan aroma wangi parfum yang sangat ia kenal. Parfum Dinda. Gadis yang sejak tadi menemaninya itu duduk di sisi Revan, mengenakan tas kecil yang menggelayut di satu pundaknya.
“Mau?” tanya Dinda menyodorkan es krim.
“Thank’s.” Revan menggeleng.
Dinda memperhatikan wajah Revan dengan seksama. Ada gurat berbeda di wajah itu. “Kamu sedih karena aku memaksamu meminta waktu untuk melepaskan Elena?”
Revan tersenyum samar. “Aku bahkan nggak perlu melepaskan Elena karena dia sudah pergi sebelum aku gelepasin dia.”
Dinda menatap Revan tak mengerti. “Apa maksudmu?”
“Elena pergi.”
“Pergi?” Dinda mengernyit.
__ADS_1
“Ya. Dia ingin agar aku jadi kekasihmu, agar aku nikahin kamu dan hidup bersamamu. Dia mengalah.”
“Dia bilang begitu?”
Revan tidak menjawab.
“Elena gadis yang baik. Aku tahu itu. dia hadir di kehidupanmu setelah aku. Dia sanggup mengambil keputusan besar ini.”
“Udah beberapa hari terakhir Elena nggak masuk kantor. Terakhir, dia hanya minta ijin pada pimpinannya kalau dia nggak bisa masuk kerja karena ada hal urgent yang harus dia kerjakan.”
“Aku merasa bersalaah atas kepergiannya.”
“Tapi penyebab kepergiannya adalah aku.”
“Dia ninggalin surat ini untukku.” Revan menyerahkan kertas yang bentuknya sudah mengeriting akibat sempat dikepal olehnya.
Dengan gerakan ragu-ragu, Dinda menerima surat yang disodorkan ke arahnya. Kemudian ia membuka lipatannya. Lalu membaca isinya. Tak butuh waktu lama untuk air mata Dinda bergulir membasahi pipi mulusnya. Bahkan dalam hitungan detik saja air mata itu sudah menganak sungai. Bahu Dinda bergetar merasakan isak tangis. Kata-kata yang tertulis cukup menampar hatinya. Kata-kata itu memang sederhana, namun maknanya luar biasa. Elena telah mengajarkan satu hal kepada Dinda, pengorbanan.
__ADS_1
“Apakah aku berdosa?” Isak tangis Dinda masih pecah. Tetes-tetes air mata Dinda berjatuhan menambah basah kertas yang dia pegang.
Revan hanya menoleh sebentar tanpa memberi jawaban.
“Revan, aku adalah gadis kejam. Aku menyakiti Elena. Aku menyingkirkan dia dari kehidupan yang baik,” ucap Dinda terbata. “Jika ada di dunia ini wanita paling egois, itu dalah aku. Tapi aku sungguh-sungguh nggak bisa mengatur perasaanku sendiri. Aku mencintaimu, Re. Aku juga nggak bisa menyalahkan cinta yang tumbuh dalam perasaanku. Cinta itu suci. Dia tumbuh karena anugerah. Aku yang salah karena terlalu egois untuk tetap memilikimu.”
“Sejak awal, nggak ada yang salah dalam hal ini. aku, kamu dan Elena adalah korban dari keadaan yang terjadi. Tuhan yang menggariskan kisah ini dan kita hanya perlu mencari jalan keluar sebaik mungkin. Jangan salahkan dirimu sendiri.” Revan memegang lengan Dinda untuk menenangkan. “Aku akan menikahimu. Sesuai seperti yang Elena mau.”
Dinda terdiam menatap Revan dengan pandangan berapi-api. Dia tidak sedang menikmati ketampanan pria di hadapannya, namun banyak sekali yang ia pikirkan saat itu. Dan Revan hanya bisa membalas tatapan Dinda dengan tatapan penuh pertanyaan.
Ugh, Revan benar-benar dibikin bingung oleh situasi yang dialaminya. Ada dua gadis cantik yang mencintainya. Namun ia tidak merasa bahagia dengan keadaan itu. Keadaan itu justru menyudutkan perasaannya.
“Apa kamu tau dimana Elena sekarang?” tanya Dinda.
Revan menggeleng.
“Kamu yakin nggak tau dimana dia?”
__ADS_1
Revan berpikir sebentar dengan kening mengernyit.
TBC