
Elena memandangi mobil hingga hilang dari pandangan. Seperti terbangun dari mimpi. Mereka orang kaya, tapi sikapnya sangat lembut dan sopan. Mereka menghargainya yang berpenampilan kusut-musai. Ia tersenyum lalu menyimpan uang di laci gerobak. Langkah kakinya tampak bersemangat menuju pulang ke rumah, lelehan peluh membanjiri pelipis.
Sesampainya di rumah, Elena menghitung uang yang dibawa pulang. Memasukkannya ke buntalan plastik dan mengumpulkannya dengan uang penghasilan kemarin, ditambah dengan segepok uang dari Tante Vira. Uang pemberian tante Vira tidak akan dipergunakannya untuk memperbaiki gerobak. Tapi untuk menambah biaya operasi Salva.
“Duuuh…” desisnya lirih. Uang segitu tak akan cukup untuk biaya operasi Salva. Bahkan mungkin setahun lamanya ia tak akan bisa mengumpulkan jika hanya dengan cara berjualan soto seperti yang dilakukannya. Rasa cemas menjalar ke relung jiwa. Takut sesuatu hal buruk terjadi pada Salva, adik satu-satunya. Ia tak mau kehilangan adik lagi. Ia tak mau telat bergerak hingga mengakibatkan penyesalan mendalam.
Setelah lama berpikir dan tidak menemukan jalan keluar, Elena pergi ke klinik.
Di atas ranjang kecil beralaskan sprai putih, Salva terbaring dengan mata terpejam. Tidur pulas.
Revan duduk selonjor di lantai. Kepalanya menyandar di dinding. Matanya terpejam. Sesekali kepalanya itu terayun-ayun ke bawah, ngantuk.
“Hei!” seru Elena sambil menepuk paha Revan hingga mengakibatkan Revan kaget disko alias terkejut dan gelagapan.
Revan mengernyitkan dahi begitu sadar yang mengagetinya adalah Elena.
“Ngantuk? Minum, nih!” Elena duduk di sisi Revan. Menyerahkan sebotol minuman dingin.
Revan tersenyum dan menyambut botol itu. Butiran air yang meleleh di luar botol terasa dingin menyentuh telapak tangan.
__ADS_1
“Thanks.” Revan membuka tutup botol.
“Gue yang makasih, lo udah nungguin adik gue.”
Revan menatap mata Elena lamat-lamat. Kemudian berkata, “Udah tanggung jawab gue. Gue kan kakaknya Salva.”
“Berarti kakak gue juga, dong.”
“Gue nggak mau gue punya adik kayak lo.”
Jawaban Revan spontan membuat Elena kesal dan tangannya menjadi gatal ingin segera memukul Revan. Plak!!! Benar, tangan Elena kembali mendaratkan pukulan ke paha Revan.
“He heee...” Elena tertawa. “Gitu aja ngeluh. Lo laki bukan?”
“Laki atau perempuan sama-sama manusia, bukan robot. Bisa ngerasain sakit tauk.”
“Iya iya... Sorry deh.”
Revan tersenyum melihat senyum yang mengitari wajah cantik Elena.
__ADS_1
“Van, kasian Salva.” Elena menatap Salva yang tidur pulas. “Gue nggak tau gimana caranya supaya Salva sembuh jika bukan dengan cara operasi. Tapi gimana caranya gue bisa ngedapetin uang sebanyak itu? Setaon keliling jualan soto juga nggak bakalan bisa ngumpulin duit buat biaya operasi Salva.”
“Elena...” Revan meraih tangan Elena dan meremasnya pelan. Seoalh ingin mengatakan bahwa ia ingin membantu mencarikan uang ang dibutuhkan.
Elena menatap mata Revan yang berjarak begitu dekat dengan wajahnya. Menunggu apa yang akan dikatakan lelaki itu.
“Gue janji, gue janji akan cariin uang itu untuk Salva,” lanjut Revan sungguh-sungguh.
Dahi Elena berkerut tajam. “Berapa lama?” Elena menarik nafas. “Sebulan? Tiga bulan? Setahun?”
“Elena, Elena, gue bisa lakukan apapun kalo gue mau.”
“Maksud lo? Jangan takabur.”
“Gue nggak takabur. Gue pengen Salva sembuh. Terutama gue pengen lo nggak sedih. Secepatnya gue akan ngedapetin uang itu.”
“Secepatnya? Dari mana? Ngerampok? Nyolong? Ngepet? Memangnaya duit sebanyak itu didapetin dari mana kalo bukan dari perbuatan nggak bener?”
“Masih banyak cara, Elena,” jawab Revan penuh keyakinan.
__ADS_1
TBC