I am a Virgin

I am a Virgin
101. Extra Part 12a


__ADS_3

Elena berdiri menatap gubuk reot yang sudah beberapa bulan dia tinggalkan, gubuk yang dulu menjadi tempat tinggal dan tempat dia tidur. Gubuk itu sedikit lebih kokoh setelah Revan memperbaikinya. Jika saja tidak tersentuh oleh tangan Revan, gubuk itu tidak akan bertahan selama itu. sekarang mungkin sudah tumbang dan rata dengan tanah.


Senyum tipis terbit di wajah Elena, gubuk itu mengingatkannya dengan kejadian-kejadian manis yang pernah tercipta di dalamnya. Semua tentang Revan. Betapa banyak kenangan yang tertinggal di sana.


“Kak, kita ngapain di sini?” tanya Salva yang diajak Elena ke tempat itu. bocah cilik itu mengayun-ayunkan tangan Elena yang menggandengnya.


Elena hanya menoleh sekilas ke arah Salva kemudian menggeleng dengan senyum samar yang terbit di wajahnya. Ia melepas gandengannya kemudian berjalan mendekati gubuk itu.


Melihat pegangan tangan kakaknya sudah terlepas, Salva berlari menjauh dan bermain tanah. Sesekali berlarian bermain angin yang menerpa roknya hingga berkibar.


Elena menyentuh kepingan papan yang menempel untuk menutup celah yang bolong. Papan itu menempel di sana berkat jasa Revan. Ia ingat bagaimana pria itu bekerja keras memperbaiki gubuk. Elena mengernyit saat mendengar suara berbincang yang sumbernya dari dalam gubuk. Apakah di dalam ada orang?


Elena menyentuh pintu dan mendorongnya pelan. “Permisi, apa ada orang di dalam?”

__ADS_1


Elena melihat seorang gadis tanggung yang mungkin usianya sekitar tiga belas tahun bersama dengan anak laki-laki yang mungkin masih berumur sebelas tahun. Kedua bocah yang duduk beralaskan tanah itu menatap Elena dan hanya diam saja. Kemudian keduanya saling pandang.


Elena menatap piring yang dulu menjadi alas makannya. Piring itu kini ada di tangan gadis kecil di hadapannya, ada nasi dan tempe goreng, serta sedikit sambal teri di atas piring itu yang tentunya sedang disantap oleh si gadis kecil. Sepertinya mereka membeli makanan itu dari warung di ujung jalan, warung kecil yang dulu selalu menjadi pusat perhatiannya karena menurutnya menunya enak dan menggugah selera. Walau pun itu hanya sekedar tempe goreng dan sambal teri.


Pemandangan lusuh dan kumal di tubuh bocah kedua bocah itu mengingatkan Elena pada kehidupannya dulu.


“Halo!” Elena tersenyum pada penghuni baru gubuk itu.


Dua bocah itu tersenyum lebar melihat keramahan Elena.


“Iya, Kak.” Serentak dua bocah itu. Kemudian dua anak itu saling pandang dan berbisik-bisik. “Kakak siapa?”


“Elena.” Elena masuk dan mendekati dua anak itu. Terbesit rasa iba melihat keduanya yang lusuh dan kumal. Elena seperti sedang melihat potret dirinya yang dulu. Kedua anak itu seakan cermin baginya. Ia tidak tahu apa yang dirasakan bocah-bocah itu, apakah mereka sering kelaparan, apakah mereka kedinginan setiap malam, apakah mereka bahagia? Namun yang pasti, Elena yakin kondisi dua bocah itu tidak jauh dari kondisinya yang dulu.

__ADS_1


“Apakah rumah ini ada pemiliknya? Kami udah hampir sebulan tinggal di sini dan nggak ada orang yang menunggui, jadi kami tempati aja,” celetuk si gadis kecil.


“Rumah ini dulu kakak yang tempati,” jawab Elena dengan senyum getir.


“Tapi pakaian kakak kelihatan bagus, bagaimana mungkin orang kayak kakak yang menempati rumah ini?”


Elena hanya tersenyum samar. Ia kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang dari tas kecil yang menggelayut di pundaknya. “Ini untuk kalian.”


Dua bocah itu tersenyum lebar. “Buat kami? Waaah… itu banyak banget.”


“Ambilah!”


“Makasih, Kak.” Si gadis mengambil uang dari tangan Elena. “Kakak kok baik banget? Dateng-dateng langsung kasih uang.”

__ADS_1


Lagi-lagi, Elena hanya tersenyum tipis. Terus dipandanginya wajah-wajah lusuh berkulit hitam akibat terpapar matahari.


TBC


__ADS_2