I am a Virgin

I am a Virgin
90. Extra Part 6b


__ADS_3

Ekspresi wajah Revan berubah pucat sesaat setelah ia menatap nama penelepon. Elena menatap wajah pria itu dengan seksama. Heran dengan pemandangan baru di wajah pri itu.


“Siapa yang nelepon, Van? Kok, kamu gugup gitu?”


“Ah, eh emmm… Bukan siapa-siapa. Ini… itu… orang… Biar kuangkat dulu.” Revan menyembunyikan nama Dinda yang kini meneleponnya dengan sedikit menjauhi Elena dan menutup layar ponsel dengan telapak tangannya. “Halo!”


“Re, papa! Papaku, Re!” jerit Dinda di seberang. Suaranya kurang jelas akibat gadis itu berbicara sambil menangis terisak.


“Papamu kenapa?”


“Papa kena serangan jantung dan sekarang masuk rumah sakit.”


“Tenang, jangan panik dulu. Keadaan nggak akan berubah dengan kepanikanmu. Justru itu akan membuat situasi menjadi runyam. Tenangkan dirimu,” ujar Revan berusaha menenangkan.

__ADS_1


“Kamu dimana sekarang? Aku butuh kamu.”


“Mm… Maaf aku nggak ada di rumah. Aku sedang keluar.”


“Ooh… Itu yang di tepi jalan kamu kan? Aku melihatmu, Re.”


Sontak pandangan Revan berkeliling, mencari dimana keberadaan dinda. Ya Tuhan, ia berharap Dinda tidak muncul di saat kondisi seperti sekarang. Revan bahkan belum sempat menjelaskan masalah yang sesungguhnya pada Elena.


Ketika Dinda tiba-tiba muncul, menghambur dan memeluk Revan, pria itu hanya bisa terdiam dan memaku di tempat. Mobil Dinda terparkir di tepi jalan, tepat di belakang mobil milik Revan berhenti.


Isak tangis Dinda semakin menjadi-jadi di dada Revan. Gadis itu membenamkan wajahnya di dada pria itu.


Sorot mata Revan tertuju ke mata Elena, dimana gadis itu juga tengah menatap matanya. Keduanya saling pandang seakan mata mereka saling berbicara. Revan melihat kesedihan di mata Elena, kecemburuan, juga emosi yang memancar.

__ADS_1


“Dinda, plis jangan begini!” Revan memegang lengan Dinda dan menjauhkan tubuh gadis itu dari tubuhnya.


“Temani aku ke rumah sakit, Van. Aku butuh kamu.” Dinda memegang tangan Revan dan memohon.


“Iya. Aku nanti temani kamu.” Revan sungguh tidak tega melihat tangisan dan kondisi dinda yang kacau. Gadis itu sedang shock dan butuh sandaran. Alangkah kejam dan tidak berperikemanusiaan jika ia mengabaikan gadis itu. Ini bukansaatnya untuk merasa egois dan memikirkan kebaikan diri sendiri, ada sisi lain yang harus dibantu.


“Aku ikut mobil kamu.” Dinda menghambur mendekati mobilnya dan memerintah temannya yang ada di dalam mobil untuk membawa mobilnya. Sementara Dinda memasuki mobil Revan dengan ekspresi panik.


Segala pertanyaan menyerang benak Elena. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Siapa Dinda? Kenapa gadis itu memeluk Revan? Kenapa gadis bertubuh indah, berpakaian modis, berparas cantik itu terlihat begitu intim dengan Revan? Apakah begini cara bersosialisasi orang-orang kaya seperti Revan? Dada Elena sesak dan panas sekali rasanya. Elena harus mengakui bahwa ia terbakar api cemburu. Rasanya sakit, ya Tuhan.


“Elena, kembalilah ke rumah! Nanti akan kujelasin semuanya. Jangan berpikiran buruk dengan semua yang kamu lihat.” Revan mendekati Elena dan memegang lengan gadis itu. Ia mendapati sorot mata memerah yang dipenuhi amarah, dan ia yakin Elena sedang ememndam amarah terhadapnya.


“Nggak perlu! Urus saja dia!” Elena menyentak tangannya hingga terlepas dari pegangan Revan. Rasa panas di dalam dadanya kian membara. Dan ia tidak taha n lagi jika harus menyembunyikan kemerahannya. Sungguh, ia marah, ia kesal dan tidak rela Revan dipeluk gadis lain. Elena berlari meninggalkan Revan dengan perasaan berkecamuk.

__ADS_1


***


__ADS_2