I am a Virgin

I am a Virgin
69. Dia, Revan


__ADS_3

Perempuan paruh baya yang tak lain Bik Nur melempar senyum ke arah Elena. Yang dibalas dengan senyum pula.


Satu lagi yang membuat rasa kaget Elena semakin menerjang, seorang pria tampan menyembul menuruni anak tangga dari lantai atas. Tak lain Revan. Langkah pria itu terhenti ketika menginjak lantai bawah. Tatapan matanya bertemu dengan mata Elena. Wajah Revan terlihat sangat gugup. Kenapa gadis itu bisa ada di sana?


“Tunggu ya, Elena! Saya ambil uangnya ke atas dulu,” ucap Vira sambil bangkit berdiri. Ia berhenti saat berpapasan dengan Revan. “Haai… Anak mami!” Vira menyambut kedatangan Revan. Tangannya lembut menyentuh lengan Revan. “O ya Elena, ini anak saya. Namanya Revan.” Vira memperkenalkan.


Anak? Pernyataan itu membuat Elena semakin terkejut. Seperti mendengar dongeng tentang peri. Bahwa tak mungkin peri itu ada. Karena peri hanya ada dalam dongeng belaka. Ketika peri itu benar-benar ada, tentu itu terasa mustahil. Dan Revan, mendadak disebut sebagai anak dari orang kaya yang baru dikenalnya. Mungkinkah? Rasa tak yakin membuatnya hanya bisa terbengong.


Lalu, sejak kapan Tante Vira menemukan Revan? Jadi, pagi tadi Revan keluar rumah dan tidak menjawab ketika ditanya mau kemana, ternyata tujuannya ke rumah Tante Vira, rumah orang tuanya.


Revan bingung menentukan sikap. Separuh hatinya tidak yakin bahwa mamanya mengenal Elena.


“Ini anak laki-laki Tante yang selama ini hilang,” lanjut Tante Vira seakan sedang curhat pada Elena. “Cukup lama Tante dan suami Tante ngubek-ngubek seluruh kota mencari keberadaan Revan. Kami sudah sangat shock dengan hilangnya Revan. Seluruh isi rumah ini mengkhawatirkannya. Sampai-sampai supir pun nggak konsentrasi menyetir saking besarnya rasa cemas terhadap Revan, hingga akhirnya supir sempat menyerempetmu saat itu. Tapi syukurlah, pada akhirnya Revan kembali dengan selamat. Inilah putra kami.”

__ADS_1


Elena diam. Sulit mengekspresikan diri apakah harus ikut merasa senang, ataukah kesal?


“Baiklah, saya ke atas dulu. Biar saya ambil dulu uangnya di brankas. Kamu tunggu di sini.” Tante Vira mengulang kalimatnya kemudian berjalan anggun menaiki anak tangga.


Bik Nur cepat melangkah menuju dapur.


Tinggalah Elena dan Revan yang saling bertatapan. Masing-masing memiliki pemikiran yang tak tentu arah. Bermacam pertanyaan menyerbu, bermacam dugaan menyerang. Membingungkan.


Bibir Elena merekat erat. Begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Tapi entah mengapa satu pun pertanyaan tak terlontar keluar. Justru perasaan jengkel yang tampil melalui ekspresi wajahnya. Kenapa Revan tidak jujur tentang siapa dirinya yang sebenarnya? Kenapa Revan menyembunyikan kenyataan itu darinya? Kenapa Revan harus berbohong? Sejak kapan ingatan Revan pulih?


“Elena ...”


“Apa ingetan lo udah pulih?” potong Elena merasa dibohongi.

__ADS_1


Revan mengangguk patah-patah.


Elena kecewa. Kecewa karena Revan tidak jujur. Apa maksudnya?


“Elena, maafin gue. Bukan maksud gue nyembunyiin semua ini dari lo,” sahut Revan gugup.


“Jadi... Jadi apa artinya kalo bukan nyembunyiin?” Gigi Elena gemeletukan. Setelah selama ini mereka menghabiskan waktu bersama-sama, Revan tidak terbuka terhadapnya. Lebih memilih menyembunyikan hal-hal besar begini darinya.


Revan jadi pusing. Ketakutannya selama ini terjadi juga. Ia takut Elena tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Ia takut Elena menjauhinya.


“Sejak kapan lo inget segalanya? Sejak kapan?”


“Tepatnya gue lupa. Setau gue, berangsur-angsur gue mengingat semuanya. Sejak lo ajak gue ke pasar, ditambah lagi ketemu Bik Nur.”

__ADS_1


**TBC


KLIK LIKE**


__ADS_2