
“Bukankah itu udah lari dari kesepakatan awal?” gumam Elena memicingkan mata. “Gue pasti ngembaliin uangnya.”
Om Davin kembali tersenyum remeh. “Terserah kau saja. Waktumu tiga hari.” Om Davin berjalan menuju mobilnya yang terparkir di tepi jalan. Ia berhenti setelah membuka pintu mobil. “Jika lewat dari tiga hari, tunggu polisi menjemputmu,” lanjutnya kemudian memasuki mobil.
Elena menarik nafas. Ekor matanya mengikuti mobil itu hingga hilang dari pandangan. Ah ya ampuuun, muncul lagi satu masalah. Dan selalu tak lari dari persoalan uang. Padahal persoalan itulah yang membuat hidup Elena terasa begitu sulit.
Inikah hukuman? Ataukah teguran? Ayah dan Ibu adalah manusia bijak yang selalu mengajarkannya arti kesabaran, keikhlasan dan keimanan. Tapi kenapa sejenak ia melenceng dari ajaran itu? Betapa sulit kenyataan yang harus ia lalui hingga akhirnya kesabaran, keikhlasan dan keimanan yang selalu diajarkan ayah dan ibu terusir dari dalam hatinya.
Mulai saat ini, Elena berjanji untuk mengingat semua pesan ayah Ibu, menjalankan semua yang diajarkan ayah Ibu. Ya, mulai saat ini ia akan menjadi gadis baik.
__ADS_1
Elena menggigit bibir bawah. Berjalan pelan menyusuri trotoar yang terang oleh siraman lampu jalanan. Kakinya menendang meluapkan rasa yang berkecamuk di dalam dada. Menendang sesuatu yang tergeletak di depannya. Sesaat ia tersadar bahwa yang ia tendang itu adalah sesuatu yang terlihat berharga. Ia mengulang pandangan ke arah barang yang baru saja ditendang. Dompet. Elena membelalakkan mata melihat benda yang berjarak tiga meter darinya. Benar, itu dompet branded berwarna merah.
Elena berlari mengejar benda itu. Cepat-cepat tangannya meraihnya. Dompet bagus yang harganya pasti sangat mahal. Kepalanya celingak-celinguk mencari, siapa tahu ada orang yang merasa kehilangan di sekitar sana. Tapi tidak seorang pun yang terlihat kebingungan mencari dompet.
Sesaat Elena termenung. Memegang-megang dan sesekali memencetnya. Tebal. Isinya mungkin banyak. Penasaran apa isinya, cepat-cepat ia membuka isi dompet mahal berukuran 15 x 20 centi itu.
Ya Tuhan.
Disaat ia sedang kepepet, dompet itu tiba-tiba saja ada di hadapannya. Itu bukan suatu kebetulan. Tapi memang ia diberi jalan untuk menyelesaikan urusan dengan Om Davin. Begitu pikirnya.
__ADS_1
“Hah?” Elena terbelalak kaget saat mengintip isi dompet. Sekilas terlihat benda berwarna kuning mengkilap yang seakan-akan menerangi isi dompet itu hingga menjadi terang oleh cahayanya. Emas. Ya, yang sedang dilihatnya itu adalah emas. Banyak. Sangat banyak. Elena melihat ke kiri kanan. Lalu menyembunyikan dompet ke balik baju. Takut ada orang jahat yang bisa saja merampas dompet itu darinya.
Di dekatnya berdiri ada sebuah toko emas besar. Mungkinkah toko itu adalah pemilik dompet itu?
Elena berjalan menuju ke samping sebuah bangunan tinggi. Tepatnya di lorong panjang di gang sempit. Sedikit gelap. Cepat-cepat ia membuka resleting dompet setelah kepalanya celingak-celinguk memastikan tak ada yang melihat. Untuk kedua kalinya matanya terbelalak. Emas itu jumlahnya tidak sedikit. Banyak. Ia meneliti ruang dompet yang lain. Ada beberapa lembar uang. Di ruang sebelahnya lagi, surat-surat emas. Ternyata benar, toko emas besar itulah yang baru saja menjual emas-emas itu pada seorang pembeli. Di surat itu tertulis nama pembeli, Dona Savira.
Elena meneliti ruang dompet sebelah lagi, begitu banyak kartu tersusun di setiap selipan yang tersedia. Kartu nama, KTP, empat buah kartu kredit, tiga buah kartu ATM, kartu asuransi, kartu NPWP, dan banyak kartu-kartu lainnya yang tersusun manis.
TBC
__ADS_1