I am a Virgin

I am a Virgin
44. Cinta


__ADS_3

Pelukan hangat Elena perlahan mampu meluruhkan rasa marah, kecewa, dan kesal. Semua rasa kalah oleh satu kata, CINTA. Dan pelukan itu, membuat gairah cinta dalam diri Revan semakin menggelora. Telah lama ia menanti kesempatan untuk dapat menyalurkan rasa sayang melalui sentuhan hangat. Dan sekarang keinginannya telah terwujud. Kenapa perasaan sayangnya terhadap Elena tidak luntur meski ia menganggap Elena sudah melepas kegadisan demi uang? Bahkan ketika tangan Elena melingkar semakin kuat di punggungnya, perasaan cinta itu kian membuncah. Inikah yang dinamakan cinta? Revan memejamkan mata menikmati sensasi yang ia rasakan. Tuhan… Revan sangat bahagia dengan keadaan itu.


Tak masalah baginya Elena berubah, tapi cintanya tak akan pernah berubah. Cinta dalam hatinya telah bulat dan utuh. Begitu kuat, begitu lekat, merasuk ke dalam segenap aliran darah. Mengakar, seakan tak ada lagi yang mampu menggoyahkannya. Revan sudah terlanjur jatuh cinta. Dan tak mungkin ia bisa lari dari jatuhnya.


Pelan tangan Revan terangkat. Membalas pelukan. Tak masalah baginya jika orang mengatakannya bodoh, mencintai perempuan yang telah menyerahkan raga pada lelaki hidung belang. Ia tidak bodoh. Ia menemukan arti cinta yang sebenarnya. Cinta yang hangat, tulus, tak melihat siapa yang dicintai. Seperti mencicipi makanan, tutuplah mata, lalu cicipi makanan. Maka yang enak tetaplah enak. Tak perduli bentuknya hancur, tapi rasa tak pernah bias berbohong. Sejak awal ia sudah tahu, Elena perempuan hebat yang memiliki kasih sayang tinggi, pengorbanan, dan perjuangan yang besar. Elena hidup bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk kehidupan lain.


“Elena…” bisik Revan dengan suara bergetar.

__ADS_1


Elena terpejam sebentar menikmati indahnya kebersamaan. Sungguh tenteram hatinya berada dalam dekapan lelaki berbadan gagah itu.


Revan melepas pelukan dan menatap mata Elena lekat-lekat. Ia ingin Elena tidak melakukan hal bodoh itu lagi. Ia ingin Elena menjadi miliknya seutuhnya. Ia cemburu dan marah bila cintanya terancam.


“Revan, anterin gue ngebalikin uang ini ke Om Davin.” Akhirnya Elena yang bicara duluan.


Revan menelan ludah. Menyeka keringat di dahi. Kesal menguasai hati setiap kali mendengar nama Davin. Andai ia bisa menemukan kapas, sudah disumbat kedua lubang telinganya itu dengan kapas. Agar tidak mendengar nama itu lagi.

__ADS_1


Elena tercekat. Bimbang. Ia ingin segera mengembalikan uang itu. Tapi benar apa kata Revan, Salva lebih membutuhkannya. Ia mengangguk setelah berpikir beberapa detik.


“Baiklah. Ayo, kita ke sana sekarang.” Elena bersemangat dan mengguncang lengan baju Revan. Dahinya mengkerut saat menyadari baju yang diguncangnya itu berbeda dari biasanya. Baju baru. Ya Tuhan, bahkan Elena baru menyadari bahwa lelaki di hadapannya itu tidak berpenampilan seperti biasanya. Ia mengenakan kaos biru muda dan celana jeans yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dari aroma dan warnanya, Elena tahu bahwa itu pakaian baru.


“Ini pakaian dari mana?” heran Elena mengamati pakaian mahal yang membuat wajah tampan Revan semakin menawan.


Revan menggeleng. Malas menjawab. Tak penting baginya menjelaskan itu. Ia menggandeng tangan Elena. Yang digandeng mengikuti. Elena ingin menanyakan pertanyaan yang belum terjawab. Pertanyaan yang membuat benaknya diganjal rasa penasaran. Tapi urung bertanya melihat kekecewaan yang masih tersisa di wajah Revan. Biarlah, biar saja rasa penasaran berlabuh di benaknya. Saat itu ia hanya butuh senyuman Revan.

__ADS_1


TBC


jangan lupa klik tombol like 👍


__ADS_2