
“E eh, uang. Iya, gue dateng ke sini kan mau nyariin uang itu.” Pandangan Elena kini kembali tertuju ke angkot-angkot yang keluar masuk.
Revan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya ia telah salah bicara. Kalimatnya tadi malah mengembalikan kecemasan Elena pada setumpuk uang yang bagi Revan tidak ada gunanya.
“Gue janji akan carikan uang itu buat lo. Nggak perlu lo buang waktu kayak gini.” Revan tidak tega melihat Elena yang seperti orang tolol menunggui terminal dan memelototi setiap angkot yang masuk.
Revan tidak mendapat tanggapan apapun dari Elena. Gadis itu sepertinya tidak mendengar kata-kata yang Revan ucapkan. Pandangan Elena terlihat fokus ke pintu gerbang, lehernya memanjang, longok sana longok sini. Kegelisahan kembali muncul ke permukaan wajah gadis itu.
Revan merasa bersalah telah membahas uang itu sehingga mmebuyarkan keadaan romantis yang baru saja ia ciptakan. Ah, kapan lagi ia bisa berada di situasi semanis tadi.
__ADS_1
“Gue tinggal dulu, Van!” Elena berlari menjauhi Revan dan menghampiri seorang supir yang sedang duduk di warung kopi menikmati kopi hitam panas di gelas yang gede. Sebuah handuk kecil yang seharusnya berwarna putih namun telah berubah menjadi cokelat terkalung di lehernya.
“Permisi Bang, mau nanya, nih. Abang tau nggak supir angkot berbadan gendut, bulat, item, berkumis tebel?” tanya Elena masih dengan wajah diliputi kecemasan. Ia berharap supir yang ditumpanginya tadi menemukan tasnya, atau ada penumpang jujur yang menemukan tas dan mengamanahkan pada supir agar menyerahkan tas itu kepada pemiliknya. Ya Tuhan, semoga keberuntungan berpihak padanya.
“Ooo.. Yang hidungnya pesek itu?” tukas supir itu sambil mengusap hidungnya yang juga rata.
Elena tertegun. Mengingat hidung supir gendut yang ditumpanginya tadi. Pesek? Ya, memang pesek. Tapi ia tidak setega itu berkata jujur. Kemudian ia mengangguk.
Elena tidak menjawab. Kepanikan yang tergambar di wajahnya membuat supir itu tahu bahwa apa yang akan dibicarakannya dengan Danu sangatlah penting.
__ADS_1
“Tunggu aja. Atau... tinggalin pesen. Biar gua sampein ke dia,” lanjut supir itu menggebu-gebu.
Wajah Elena memerah. Gelisah. Cemas. Beberapa kali ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Kemudian ia berpaling dan berlalu dari supir itu begitu saja. Keluar warung dengan langkah gusar dan wajah bingung. Ia kembali mendekati Revan yang memperhatikannya iba.
Elena tergugu dengan kecemasan-kecemasan yang membekap hati. Terkadang ia menggerutu sendiri. Lalu membuang kaleng bekas minuman ke sembarang arah. Terkejut saat kaleng menimpuk betis salah seorang supir yang sedang berdiri di depan warung. Hanya kata maaf yang ia lontarkan. Untung supir itu tidak marah.
Revan tidak bisa banyak berbuat melihat kejadian yang terjadi di depan matanya. Botol itu mengenai supir itu akibat rasa frustasi yang Elena alami. Sungguh, Revan merasa sangat tidak berguna disaat begini. Ia justru tidak bisa membantu gadis yang ia sayangi itu disaat Elena benar-benar sangat membutuhkannya, padahal jelas-jelas ia sanggup mengulurkan bantuan itu untuk Elena.
Revan ingin menjelaskan bahwa kecemasan-kecemasan itu tidak perlu dirasakan. Tapi Elena selalu kesal setiap kali ia menenangkan dengan bahasa itu. Ia ingin mengatakan bahwa ia bisa mencarikan uang dengan jumlah yang sama. Tapi alasan apa yang bisa ia katakan?
__ADS_1
TBC