
Elena meletakkan kardus berisi pakaian dan keperluan hidupnya ke lantai, Salva berlari menghambur menaiki sofa dan melompat-lompat di sana. Ya, mereka baru saja sampai di kontrakan pilihan Revan.
“Waooow… Keren rumahnya ya, Kak. Bersih, bagus lagi. Kursinya empuk.”
“Salva jangan loncat-loncat di sofa, nanti jatuh!” titah Elena.
Revan tersenyum menatap Salva yang terlihat ceria. Pria itu membawa beberapa kantung berisi barang-barang belanjaan yang ia beli di jalan saat menuju kontrakan. Tak lain makanan kemasan siap goreng, ada nugeat, sosis, juga makanan ringan dan bermacam kue kemasan. Di dalam kantong lainnya, ada beberapa lembar pakaian dan buku tulis. Revan meletakkan bkantong plastik ke meja.
Salva berlari memasuki setiap ruangan, mengecek kamar. Ia takjub melihat kamar yang menurutnya mewah meski hanya menyediakan satu spring bed ukuran sedang dan satu lemari, kamar lainnya tersedia dua spring bed yang masing-masing hanya cukup untuk satu orang saja. Lantainya porcelain, isi dapur komplit, ada kulkas, meja kompor gas, rak piring, serta lemari tempat menyimpan bahan mentah.
Sebenarnya kontrakan itu berukuran minimalis, hanya menyediakan dua kamar, ruangan tamu, ruang makan dan dapur. Tapi cukup mewah menurut Elena dan Salva.
“Gimana sama rumahnya? Lo suka?” tanya Revan menatap Elena yang terbengong di sisinya mengamati seisi rumah.
__ADS_1
“Suka.” Elena menoleh, menatap wajah Revan yang sangat dekat dengannya.
Revan tersenyum. Pria itu duduk dan membuka salah satu kantong plastik, mengeluarkan kotak pizza dan meletakkannya di meja.
“Ayo makan!” Revan menarik pergelangan tangan Elena hingga tubuh gadis itu terhempas duduk di sisi Revan.
Revan mengambil sepotong pizza lalu mengarahkannya ke depan mulut Elena untuk menyuapi gadis itu, sayangnya pizza justru mengenai pipi Elena karena sodoran tangan Revan bertepatan saat Elena menoleh ke arah pria itu setelah sebelumnya wajahnya membelakangi.
“Ups, sorry!” Revan tersenyum lebar.
“Iiih… Apaan sih lo? Main tempelin aja ke pipi gue.” Elena protes sembari menepuk paha Revan.
Elena tertegun merasakan sentuhan lembut tangan Revan di pipinya. Jantung, kok deg\-degan, ya? Masih amankah di tempatnya? Wajah Revan yang begitu dekat dengan wajahnya membuatnya merasa gugup.
“Kak, kamarnya bagus banget!” teriak Salva yang baru saja keluar dari kamar dan memasuki ruang tamu.
Elena segera menggeser duduknya, memberi jarak sekitar sejengkal dari tubuh Revan hingga tangan Revan terlepas dari pipi Elena.
__ADS_1
Revan kembali menjulurkan tangan hendak membersihkan sisa makanan yang masih menempel di pipi Elena, namun Elena menampik tangan Revan.
Revan mengangkat alis dan bertanya, “Kenapa? Aku mau bersihin itu.” Ia menunjuk pipi Elena.
Elena mengusap pipinya dengan telapak tangannya sendiri sambil menunjuk Salva dengan dagu.
“Oh…” Revan mengangguk, memahami maksud Elena. Gadis itu tidak enak hati jika Revan menyentuh pipi Elena di depan Salva.
“Salva mau kamar yang mana?” tanya Elena.
“Yang di belakang aja. Kakak yang di depan.”
“Atau kita bobok sekamar aja?”
“Nggak usah. Salva mau belajar bobok sendiri.” Salva mengeluarkan buku-buku serta pakaian miliknya dari dalam kardus, lalu membawanya ke kamar miliknya. “Ini mau Salva susun dulu,” serunya meski sudah berada di ruangan lain.
__ADS_1
TBC
KLIK LIKE