I am a Virgin

I am a Virgin
49. Pulanglah!


__ADS_3

Revan mengusap dahinya yang berkeringat. Kedatangan Bik Nur membuatnya gugup, takut Elena memergokinya tengah bersama wanita tengah baya itu. Revan mengaku tidak mengenali Bik Nur saat Elena menanyakan tentang wanita itu padanya, akan menjadi kacau jika Elena memergokinya tengah mengobrol dengan BiK Nur.


Bik Nur bisa saja menceritakan asal usulnya. Bisa saja Elena tidak menerima kenyataan itu, lalu berpaling darinya karena takut mendapat cemeeh dari kedua orang tuanya yang berasal dari kalangan berada. Cukup sulit memberi pengertian pada Elena tentang perbedaan hati manusia. Sulit mengubah pandangan Elena terhadap orang kaya selama gadis itu belum melihat kenyataan bahwa benar masih ada orang kaya yang memiliki nurani. Belum saatnya Elena tahu tentang dirinya. Ia juga belum sempat menceritakan pada Bik Nur bahwa Elena adalah gadis yang dia cintai, dan gadis itu membenci orang kaya.


“Bik, pulanglah. Nggak usah ke sini lagi,” ujar Revan gugup. Sesekali menoleh ke pintu di belakangnya.


“Kenapa, Mas Revan?” tanya Bik Nur dengan ekspresi tak mengerti.


“Nanti Revan ceritain. Pulanglah dulu.”


Bik Nur mengernyitkan dahi. “Tapi tolong Mas, cepatlah pulang. Ibu sama BApak sangat mencemaskan keadaan Ms Revan.”


“Iya, Bik. Sekarang Bibik pulanglah dulu.”


Bik Nur mengangguk patah-patah. “Hati-hati, Mas. Bibik tadi sempat beli ponsel. Ini pasti sangat Mas butuhkan.” Bik Nur menyerahkan sebuah ponsel yang baru saja ia keluarkan dari sebuah tas yang sejak tadi dijinjing.


Revan tersenyum. “Makasih, Bik.”

__ADS_1


Bik Nur memandangi wajah lelaki yang sejak kecil diasuhnya itu dengan seksama. Belasan tahun tangannya merawat pria yang kini sudah menjadi dewasa itu. Bik Nur menyediakan pakaian, makan, susu, keperluan kerja bahkan sampai air hangat untuk mandi. Lamat-lamat ditatapnya wajah tampan yang kulitnya berubah agak kecokelatan akibat terlalu sering terpapar sinar matahari. Tapi tetap saja ia kelihatan tampan, tak ada yang berubah. Sungguh wajah itu sangat dirindukannya.


“Mami papimu sangat merindukanmu. Mereka mencemaskanmu. Pulanglah,” ulang Bik Nur yang turut merasakan kecemasan saat kehilangan Revan. “Setiap malam Mamimu menangis, berdoa, memohon pada Yang Maha Kuasa untuk mengembalikanmu ke pangkuannya. Pulang ya, Mas.”


“Pasti. Setelah ini Revan akan pulang.” Revan menyadari kedua orang tuanya pasti sangat mengkhawatirkannya.


Bik Nur berbalik. Berjalan pelan meninggalkan Revan.


“Revan!”


Revan tersentak mendengar panggilan dari belakang. Bahunya terlonjak. Gugup. Ia mengusap dahi menatap Elena di belakangnya yang kini terlihat mengangkat alis tinggi-tinggi. Revan kembali menoleh ke arah Bik Nur. Syukurlah, wanita paruh baya itu sudah hilang dari pandangan. Revan sempat mengaku tidak mengingat Bik Nur yang pernah dijumpai di pasar pada Elena. Apa yang akan ia jelaskan bila Elena mengetahui ia bertemu dengan Bik Nur? Ayo dong Revan, mikir. Jawaban apa yang akan dijelaskan kepada Elena?


“Mm… Nggak apa-apa.” Revan gugup. Kepalanya celingak-celinguk.


“Nyariin apa, sih?”


“Enggak. Nggak nyariin apa-apa.”

__ADS_1


“Itu, kenapa celingukan kayak orang kehilangan KTP.”


Melihat sikap Elena, Revan yakin Elena tidak tidak mengetahui pertemuannya dengan Bik Nur. Syukurlah. Wajah Revan yang tegang kembali normal.


“Gue bisa minta tolong?” tanya Elena.


“Kenapa mesti nanya? Sejak kapan gue nggak bisa nolongin lo? Mau minta tolong apa?”


“Cariin makan. Gue laper banget.”


Revan diam saja. Tatapannya menerawang. Pikirannya kini tertuju pada kedua orang tuanya. Keterangan Bik Nur membuatnya merasa sangat bersalah telah membuat maminya khawatir. Dosakah dia?


“Hei … Lo ngelamun?” seru Elena membuat Revan kaget.


“Nggak. Nggak ngelamun.” Revan gelagapan.


TBC

__ADS_1


KLIK LIKE YA


__ADS_2